Lantik Pengurus MUI 2026-2031, Wali Kota Farhan Titip 5 Agenda Strategis untuk Bandung
Satunews.id, Kota Bandung – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menitipkan lima agenda strategis kepada pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bandung yang baru dilantik. Mulai dari penanganan persoalan sosial, penguatan ekonomi umat hingga edukasi kebencanaan dan pengelolaan sampah.
Amanat tersebut disampaikannya dalam pelantikan pengurus Dewan Pertimbangan dan Pengurus Harian MUI Kota Bandung masa Khidmah 2026-2031 di Pendopo Kota Bandung, Sabtu (11/10/2026).

Farhan mengatakan, peran ulama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Selain membimbing umat, ulama juga diharapkan turut memberikan pandangan dan solusi atas persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
“Pemerintah Kota Bandung memerlukan kemitraan bersama para ulama. Karena masalah sosial tidak selesai dengan dua gebrakan,” kata Farhan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah dan ulama diperlukan agar berbagai persoalan dapat diselesaikan melalui pendekatan yang tepat, mengedepankan pembinaan serta tetap memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan.
1. Soal Narkoba, Prostitusi hingga Judol
Farhan mengungkapkan, Kota Bandung menghadapi persoalan sosial yang kompleks, mulai dari penyalahgunaan narkoba, prostitusi ilegal, peredaran minuman beralkohol hingga judi online.
Ia menilai, penanganan persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui penertiban dan penegakan aturan. Pemerintah juga membutuhkan dukungan ulama untuk memperkuat edukasi dan pembinaan masyarakat.
“Saya bersama unsur Forkopimda di Kota Bandung sangat mengharapkan bimbingan dari para ulama agar kita bisa sama-sama menyelesaikan masalah tersebut dengan cara yang paling manusiawi,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak judi online terhadap keluarga. Farhan menceritakan pengalamannya bertemu seorang warga yang kehilangan akses bantuan sosial setelah NIK keluarganya terindikasi digunakan untuk aktivitas judi online.
“Tidak mudah mengembalikan orang yang sudah kecanduan judi. Tidak mudah sama sekali,” ungkapnya.
2. Penguatan Ekonomi Umat Lewat Sertifikasi Halal
Agenda kedua adalah penguatan ekonomi umat melalui edukasi sertifikasi halal. Ia berharap MUI memperluas sosialisasi sertifikasi halal, termasuk melalui komunikasi lintas agama.
Farhan menilai, sertifikasi halal tidak hanya berkaitan dengan keyakinan umat Islam tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang dapat mendukung daya saing produk lokal.
“Saya sangat mengharapkan para ulama dengan jejaring yang luar biasa dengan sesama pemuka agama lain untuk kemudian juga melakukan edukasi tentang sertifikasi halal ini,” ujarnya.
Farhan menyebut pertumbuhan ekonomi Kota Bandung menunjukkan tren positif. Dari 4,99 persen pada akhir 2024, meningkat menjadi 5,29 persen pada akhir 2025, dan mencapai sekitar 5,8 persen pada semester I 2026.
3. Optimalisasi Zakat Bersama Baznas
Farhan selanjutnya mendorong MUI bekerja sama dengan Baznas Kota Bandung untuk mengoptimalkan penghimpunan zakat, infak dan sedekah.
Menurutnya, potensi dana umat di Kota Bandung masih besar sehingga perlu digarap melalui metode penghimpunan yang modern, transparan dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Saya sangat mengharapkan Majelis Ulama Indonesia dapat berijtihad bersama dengan Baznas mencari berbagai macam kemungkinan dan cara komunikasi untuk penggalangan dana umat,” kata Farhan.
4. Edukasi Tangguh Bencana Lewat Masjid
Persoalan perubahan iklim dan risiko bencana juga menjadi perhatian. Ia mengingatkan perubahan pola musim dan intensitas hujan berpotensi meningkatkan ancaman bencana di wilayah perkotaan.

Untuk itu, ia mengajak MUI menyusun kajian keagamaan yang dapat memperkuat kesadaran masyarakat terhadap kesiapsiagaan bencana.
“Saya sangat mengharapkan Majelis Ulama melakukan kajian terhadap dalil-dalil yang menguatkan kemampuan warga Kota Bandung menjadi warga tangguh bencana,” pintanya.
Farhan mengusulkan kolaborasi antara MUI, Pemkot Bandung dan BPBD, salah satunya memanfaatkan jaringan masjid untuk edukasi.
“Karena salah satu metode edukasi tentang masyarakat tangguh bencana yang paling efektif, saya yakin, adalah melalui toa masjid,” katanya.
Selain itu, ia juga meminta dukungan ulama dalam pendataan masjid yang telah berstatus wakaf untuk mendukung perencanaan fasilitas air bersih. Saat ini cakupan layanan air bersih perpipaan di Kota Bandung masih sekitar 38 persen.
5. Gerakan Pilah Sampah dari Rumah
Terakhir, penanganan sampah. Ia menyebut Pemkot Bandung terus mengembangkan metode pengolahan sampah, tetapi harus dibarengi perubahan perilaku masyarakat.
“Saya sangat mengharapkan Majelis Ulama bersama para kiai, bersama para ustaz dan ustazah agar melakukan edukasi tentang pemilahan sampah,” tegasnya.
Pemkot Bandung merencanakan pengembangan pengolahan sampah organik melalui kompos di tingkat kewilayahan. Ia berharap masjid dan tokoh agama dapat menjadi bagian dari gerakan edukasi lingkungan.
(**)


























