Tutup HJKB, Pawai Jampana Berlangsung Meriah dan Penuh Makna
Satunews.id, Kota Bandung – Pemkot Bandung menutup rangkaian Hari Jadi ke-216 Kota Bandung dengan Pawai Jampana yang mengangkat kearifan lokal dan kreativitas masyarakat di sepanjang Jalan Diponegoro hingga Balai Kota, Jumat (24/10/2026).
Berbeda dari tahun sebelumnya yang identik mobil hias malam hari, tahun ini kemeriahan dikemas melalui tradisi arak-arakan yang melibatkan warga dan berbagai unsur. Warga tampak antusias menyaksikan karnaval hingga penampilan Ega Robot, Kuburan Band, dan Bungsu Bandung di Balai Kota.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan pemilihan Jampana untuk menghadirkan pesta rakyat sederhana namun tetap meriah dan berakar budaya.
“Jampana itu arak-arakan yang dipanggul empat sampai enam orang. Di dalamnya diisi berbagai macam makanan. Nanti sambil lewat dia berhenti dan orang bisa mengambil makanannya,” kata Farhan.
Jampana merupakan tandu hias dengan ornamen beragam yang merepresentasikan kreativitas masing-masing kelompok. Salah satunya miniatur kereta api dari Dinas Perhubungan.
Menurut Farhan, konsep ini menjadi alternatif dari konsep City of Light sebelumnya. Pemkot ingin menghidupkan kembali tradisi lokal sebagai penutup HJKB.
Gagasan ini berangkat dari antusiasme kecamatan pada 5-6 September lalu dalam menampilkan potensi wilayah. Karena itu Pemkot memberi ruang partisipasi lebih luas termasuk kolaborasi dengan IPDN, ITB, dan Taruna Nusantara.
Pelaksanaan pagi hari dipilih agar tetap meriah tanpa menimbulkan kemacetan panjang.
“Ini yang ingin kita tunjukkan, segala sesuatu harus terinspirasi dari prinsip bottom-up, dari bawah,” ujarnya.
Dari 30 kecamatan, Pemkot melakukan kurasi untuk penampilan terbaik. Farhan menyoroti keberagaman ekspresi, seperti Kecamatan Mandalajati yang mengusung nuansa budaya Tionghoa dengan busana merah namun tetap beridentitas lokal.
“Mandalajati itu semuanya bergaya China. Bajunya merah semua, tapi perempuannya semua pakai hijab,” jelasnya.
Melalui Karnaval Jampana, Pemkot ingin menjadikan HJKB bukan sekadar seremoni, tetapi ruang warga menampilkan identitas budaya, memperkuat kebersamaan, dan berpartisipasi membangun kota.
(**)


























