Lewat Gerakan Pepeling, Pemuda Ujungberung-Mandalajati Bidik 10 Juta Liter Air Terserap ke Tanah
Satunews.id, Kota Bandung – Pemerintah Kota Bandung melibatkan pemuda dalam gerakan menjaga lingkungan sekaligus mengurangi risiko banjir melalui Gerakan Pemuda Peduli Lingkungan (Pepeling). Sebanyak 200 pemuda dari empat kecamatan di Bandung Timur, yakni Ujungberung, Mandalajati, Cinambo dan Cibiru dilibatkan untuk mendorong pembuatan sumur resapan dan penanaman pohon.
Gerakan tersebut diluncurkan di Kecamatan Ujungberung, Rabu (24/9/2026). Melalui program ini, Pemkot menargetkan sedikitnya 10.000 bangunan memiliki sumur resapan. Jika setiap sumur berkapasitas satu meter kubik atau 1.000 liter, maka ada potensi 10 juta liter air dapat ditampung dan diresapkan ke dalam tanah.
Camat Ujungberung Abriwiansyah mengatakan, keterlibatan pemuda menjadi penting karena generasi muda yang akan menentukan kondisi lingkungan di masa depan.
“Pemuda ini yang akan menentukan masa depan. Mudah-mudahan dengan adanya Pepeling ini, kepedulian pemuda terhadap lingkungan semakin meningkat,” kata Abriwiansyah.
Menurutnya, kepedulian pemuda di wilayahnya telah terlihat melalui berbagai kegiatan, salah satunya Sasapu Bandung yang rutin digelar setiap Minggu pagi dan melibatkan organisasi kepemudaan seperti KNPI, Karang Taruna, FKPPI, XTC dan Brigez.

Sementara itu, Kepala Dispora Kota Bandung Sigit Iskandar mengatakan, Pepeling tidak hanya untuk meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong aksi nyata mengurangi potensi banjir di Bandung Timur.
“Tujuannya meningkatkan kesadaran pemuda terhadap lingkungan melalui aksi nyata, di antaranya membuat sumur resapan dan menanam pohon. Kedua, bagaimana pemuda ikut terlibat dalam mencegah banjir di Bandung Timur,” ujar Sigit.
Sebanyak 200 pemuda tersebut berasal dari empat kecamatan, masing-masing 50 orang. Mereka diharapkan menjadi penggerak hingga tingkat kelurahan dan RW untuk mengajak masyarakat membangun sumur resapan.
Program ini menggunakan anggaran APBD melalui Dispora. Salah satu inovasinya adalah Siap Tampung dan Resapan (Si Tampan), yakni konsep sumur resapan yang telah mengikuti kompetisi tingkat provinsi dan meraih penghargaan.
“Kalau ada 10.000 bangunan yang membuat satu sumur resapan dengan kapasitas 1.000 liter, berarti ada 10 juta liter air yang bisa masuk ke tanah,” kata Sigit.
Berdasarkan data 2021, tercatat sekitar 26.000 bangunan di empat kecamatan tersebut, mulai dari rumah, sekolah, kawasan industri hingga perumahan. Dengan perkembangan kawasan, jumlahnya kini diperkirakan lebih dari 30.000 bangunan.
Gerakan ini kemudian diresmikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Ia menegaskan Pepeling bukan sekadar kegiatan, tetapi investasi jangka panjang untuk ruang hidup yang lebih ramah lingkungan.
“Pepeling ini bukan sekadar kegiatan, tetapi investasi supaya ruang hidup kita menjadi lebih ramah lingkungan,” ujar Farhan.

Menurut Farhan, gerakan lingkungan membutuhkan konsistensi, bukan kegiatan sesaat. Ia mencontohkan warga Rempoa, Tangerang Selatan yang membangun sumur resapan secara bertahap selama dua tahun dan berhasil menjaga ketersediaan air.
“Kalau kita ingin hasil yang berbeda, jangan terus menggunakan cara yang sama,” katanya.
Ia menilai Bandung Timur memiliki potensi sumber air yang harus dijaga, mengingat Kota Bandung berada di ketinggian sekitar 700 meter di atas permukaan laut.
“Jangan saling tunggu. Anak-anak muda harus aktif, kreatif dan inovatif,” pungkasnya.
Gerakan Pepeling mengusung tema “Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata” dan diharapkan menjadi wadah pemuda untuk terlibat langsung menjaga lingkungan dan mendukung pengurangan risiko banjir di Kota Bandung.
(**)


























