Festival Asia Afrika 2026 Usung Diplomasi Budaya dan Kopi, Bandung Siap Sambut 25 Duta Besar Negara Asia-Afrika
Satunews.id, Kota Bandung – Pemerintah Kota Bandung memastikan pelaksanaan Festival Asia Afrika (FAA) 2026 akan menjadi ajang strategis yang tidak hanya menampilkan kekayaan seni dan budaya, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya, diplomasi kopi, serta nilai-nilai inklusivitas sebagai semangat yang diwariskan Konferensi Asia Afrika.
Festival yang akan berlangsung pada 10–12 Juli 2026 tersebut diproyeksikan menjadi salah satu agenda internasional penting yang menghadirkan sekitar 25 duta besar negara-negara Asia dan Afrika, sekaligus memperkuat posisi Bandung sebagai kota bersejarah dalam diplomasi dunia. 
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, rangkaian kegiatan diawali pada Jumat dengan penyelenggaraan simposium lanjutan terkait proses pengusulan Kawasan Jalan Asia Afrika sebagai Warisan Dunia UNESCO.
Menurut Farhan, saat ini Pemerintah Kota Bandung tengah menuntaskan berbagai dokumen persyaratan yang akan disampaikan kepada Kementerian Kebudayaan pada September 2026 sebelum diteruskan kepada UNESCO.
“Prosesnya memang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Saat ini kami sedang menyiapkan seluruh dokumen agar Jalan Asia Afrika dapat didaftarkan sebagai Warisan Dunia UNESCO,” ujar Farhan.
Pada Jumat malam, Pemerintah Kota Bandung juga akan menggelar jamuan makan malam resmi bersama para duta besar negara Asia-Afrika. Momentum tersebut dimanfaatkan sebagai ajang diplomasi kopi, dengan memperkenalkan berbagai kopi unggulan khas Bandung Raya kepada para tamu internasional.
Salah satu kopi legendaris yang dipastikan hadir adalah Kopi Aroma, bersama sejumlah pelaku usaha kopi lokal lainnya yang akan menampilkan kekayaan cita rasa kopi dari Bandung Raya sebagai bagian dari promosi ekonomi kreatif daerah.

Sementara itu, pada Sabtu (11/7/2026) pagi, kegiatan akan diawali dengan History Walk, yakni perjalanan sejarah dari Hotel Savoy Homann menuju Gedung Merdeka, lokasi bersejarah penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika tahun 1955.
Sebelum pawai budaya dimulai, peserta akan mendapatkan pemaparan mengenai pentingnya inklusivitas yang akan disampaikan oleh aktivis disabilitas dan lansia, Farhan Helmy.
Menurut Farhan, penyampaian materi tersebut menjadi simbol bahwa semangat Konferensi Asia Afrika tidak hanya berbicara mengenai solidaritas antarbangsa, tetapi juga tentang kesetaraan dan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat.
“Semangat yang ingin kami hadirkan adalah bahwa Asia Afrika juga berbicara mengenai inklusivitas,” katanya.
Festival kemudian akan berlanjut dengan berbagai kegiatan, mulai dari pawai budaya, pertunjukan seni, bazar UMKM, seminar internasional, hingga presentasi dari Duta Besar Palestina untuk Indonesia yang dijadwalkan berlangsung hingga Minggu (12/7/2026).

Sekitar 30 peserta akan ambil bagian dalam pawai budaya yang dimulai pukul 08.00 WIB, termasuk delegasi seni dari Malaysia yang tidak hanya menampilkan pertunjukan budaya, tetapi juga menjajaki peluang kerja sama dengan Pemerintah Kota Bandung.
Meskipun penyelenggaraan Festival Asia Afrika tahun ini dilakukan dengan konsep yang lebih sederhana sebagai bagian dari efisiensi anggaran, Farhan memastikan kualitas kegiatan tetap terjaga melalui keterlibatan para seniman, komunitas budaya, serta pelaku kreatif lokal.
“Yang terpenting adalah semangat Festival Asia Afrika tetap hidup. Pengisi acaranya lebih banyak melibatkan anak-anak Bandung,” pungkasnya.
Melalui penyelenggaraan Festival Asia Afrika 2026, Pemerintah Kota Bandung berharap dapat memperkuat citra Bandung sebagai kota diplomasi dunia, sekaligus mendorong sektor pariwisata, ekonomi kreatif, investasi, dan pelestarian sejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia.
(drj)


























