Merawat yang Terlantar, Mengembalikan Harapan di Rumah Singgah Dinsos Bandung
Satunews.id, Kota Bandung – “Terima kasih sudah menganggap saya manusia.” Kalimat itu masih diingat Cici Feby Retnowati, Koordinator Care Giver UPTD Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung. Kalimat itu ditulis klien (sebutan penghuni) bernama Bahtiar di dinding rumah singgah.

Bagi Cici, itu menjadi kenangan paling membekas selama bekerja sejak 2019.
Bahtiar kala itu berusia 31 tahun. Tiga kali gagal menikah membuat kondisi psikologisnya menurun. Setelah dirawat di rumah sakit, ia ditolak keluarganya dan dibawa ke Rumah Singgah.
“Dia bilang, ‘Saya orang gila, Bu. Ibu jangan berteman dengan saya.’ Saya bilang, enggak ada yang bilang Bapak orang gila, Bapak cuma sedang sakit,” tutur Cici.
Pendekatan itu membuat Bahtiar perlahan membuka diri. Ia dilibatkan dalam kegiatan dan mendapat kesempatan pelatihan bengkel motor selama tiga bulan. Sepulangnya, ia datang dengan penuh semangat membawa sertifikat.
“Bu, saya sudah lulus. Nilainya B,” kenang Cici.
Cici mendorongnya pulang saat Lebaran dengan membawa sertifikat itu. Namun tiga hari kemudian Bahtiar kembali dalam kondisi depresi, tidak mau makan, mandi, hingga buang air di tempat tidur. Ia hanya mau dirawat oleh Cici.
“Sekarang mandi dulu. Harus sehat dulu,” kata Cici kala itu.

Keesokan harinya, Bahtiar meninggal dunia, meninggalkan tulisan terima kasih untuk petugas yang merawatnya.
Cici bersama 11 Care Giver lainnya mendampingi klien dari bangun hingga tidur: makan, mandi, buang air, ganti pakaian, minum obat, hingga pendampingan ke fasilitas kesehatan.
“Kita mendampingi dari bangun sampai tidur. Mulai dari makan, mandi, buang air, ganti pakaian, minum obat, sampai kalau ada yang harus ke fasilitas kesehatan, kita dampingi,” ujar Cici di Gedung UPTD Rumah Singgah Dinsos Kota Bandung, Rabu (7/10/2026).
Ia menangani klien dengan tingkat ketergantungan berbeda, dari mandiri hingga yang sepenuhnya bergantung. Menurutnya, banyak penghuni datang bukan hanya dengan masalah fisik, tetapi luka psikologis karena merasa ditolak dan dianggap “orang buangan”.
“Kita tidak boleh membuat mereka merasa lebih rendah. Kita anggap mereka sama seperti kita. Cara komunikasinya juga kita sesuaikan,” katanya.
Jika Care Giver mendampingi harian, pekerja sosial melihat persoalan secara lebih luas.

Irfan Ahmad Nugraha, Pekerja Sosial UPTD Rumah Singgah sejak Januari 2016, menjelaskan setiap klien melalui proses asesmen: siapa orangnya, apa masalahnya, kondisi keluarga, dan layanan yang paling tepat.
Klien datang melalui berbagai jalur: datang sendiri, penjangkauan, laporan masyarakat, rujukan pemerintah, rumah sakit, kepolisian, hingga kewilayahan. Setelah asesmen, mereka mendapat penjelasan hak-kewajiban, intervensi, hingga rujukan atau terminasi.
Jika terkait kesehatan, berkoordinasi dengan faskes. Jika tanpa identitas, koordinasi dengan Disdukcapil melalui data biometrik untuk menelusuri asal-usul dan keluarga. Jika keluarga menolak, dilakukan edukasi terlebih dahulu.
“Kalau keluarga menolak, kita edukasi dulu. Kita jelaskan pentingnya keluarga dalam proses pemulihan. Kalau memang sudah tidak memungkinkan, baru kita cari alternatif rujukan ke panti atau sentra,” kata Irfan.
Kepala UPTD Rumah Singgah Dinsos Kota Bandung, Handiyan menjelaskan, UPTD Rumah Singgah merupakan tempat penanganan bagi Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) terlantar sebelum dirujuk ke sistem layanan yang sesuai.
Layanan yang diberikan adalah rehabilitasi sosial dasar: makan, pakaian, tempat tidur, konseling, asesmen, pemeriksaan kesehatan, bimbingan fisik, mental, spiritual, hingga pengantaran saat dirujuk.
Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, UPTD Rumah Singgah telah menangani 1.062 klien dengan rata-rata lama tinggal sekitar 23 hari. Idealnya tidak lama, namun sebagian harus tinggal lebih panjang karena belum tersedia rujukan yang tepat atau keluarga belum bisa menerima.
“Tujuan akhir rehabilitasi sosial bukan membuat seseorang terus berada di Rumah Singgah, melainkan mengembalikan mereka agar dapat diterima dan kembali di tengah keluarga dan masyarakat,” ujar Handiyan.
(**)


























