Kejar Zero New Stunting, Pemkot Bandung Benahi Data hingga Sanitasi

Satunews.id

- Redaksi

Selasa, 6 Oktober 2026 - 16:01 WIB

507 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kejar Zero New Stunting, Pemkot Bandung Benahi Data hingga Sanitasi

Satunews.id, Kota Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menargetkan tidak ada kasus baru stunting pada akhir 2026. Target tersebut dikejar melalui penanganan lintas sektor, mulai dari kesehatan, sanitasi, penataan kawasan, hingga perlindungan terhadap kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, persoalan stunting tidak bisa hanya ditangani Dinas Kesehatan maupun Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB). Stunting merupakan persoalan multidimensional yang membutuhkan keterlibatan hampir seluruh perangkat daerah.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Penanganannya tidak bisa saya fokuskan hanya pada Dinas Kesehatan atau Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, tetapi harus melibatkan hampir semua kedinasan,” kata Farhan di Savoy Homann saat menghadiri workshop penjajakan kerja sama pencegahan dan penurunan stunting Kota Bandung, Selasa (6/10/2026).

Farhan mengakui masih terdapat persoalan sinkronisasi antara perencanaan dengan pelaksanaan program di lapangan. Satu triwulan terakhir di 2026 akan dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan.

“Hasil ini tentu jadi evaluasi buruk kita semua. Kita masih punya satu kali triwulan untuk bisa memperbaiki hal itu. Mudah-mudahan di akhir tahun kita bisa mencapai yang namanya zero new stunting,” ujarnya.

Menurutnya, data yang terverifikasi menjadi kunci agar intervensi stunting lebih tepat sasaran.

“Dari Dinkes sampai Dinas Permukiman, dari Dinas Keluarga Berencana sampai ke Dinas Sosial. Itu mesti ada pendataan yang tersinkronisasi,” katanya.

Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Kota Bandung tercatat sekitar 22 persen. Namun, Pemkot juga menemukan perbedaan cukup jauh dengan data pemantauan di lapangan.

Kepala DPPKB Kota Bandung Anhar Hadian mengatakan, berdasarkan data riil yang dihimpun pemerintah daerah, persentase balita stunting pada 2024 berada di kisaran 8,9 persen. Angka tersebut berbeda dengan hasil penilaian Kementerian Kesehatan yang mencapai 22,85 persen.

“Ini menjadi tantangan tersendiri buat kami terkait masalah pendataan,” ujar Anhar.

Menurutnya, persoalan data menjadi satu dari lima masalah strategis yang disusun dalam roadmap penanganan stunting Kota Bandung 2026-2029. Lima persoalan tersebut meliputi pemanfaatan data yang belum optimal, perencanaan pencegahan dan penanggulangan stunting yang belum berbasis risiko, monitoring dan evaluasi yang belum berorientasi pada perubahan perilaku, kepemimpinan kewilayahan dan kapasitas Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) yang belum optimal, serta konvergensi lintas sektor yang masih perlu diperkuat.

Karena itu, Pemkot kini mendorong sinkronisasi data antarperangkat daerah, tidak hanya dari sektor kesehatan, tetapi juga Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman, DPPKB, Dinas Sosial, hingga perangkat kewilayahan.

Selain persoalan data, Pemkot juga menemukan sejumlah faktor yang berkaitan dengan stunting. Dari 12 faktor determinan yang diidentifikasi, perilaku merokok anggota keluarga di dalam rumah menjadi salah satu faktor terbesar.

Anhar menyebut, sekitar 73,81 persen kasus yang dianalisis berkaitan dengan adanya anggota keluarga yang merokok di dalam rumah.

“Masih banyak masyarakat, orang tua, ayah atau ibu yang mempunyai anak balita tapi masih merokok di dalam rumah,” katanya.

Faktor lainnya adalah persoalan sanitasi yang mencapai 22,9 persen. Selain itu, terdapat 23,52 persen sasaran yang belum memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Persoalan kepesertaan JKN juga berkaitan dengan mobilitas penduduk, dimana sebagian warga yang tinggal di Kota Bandung belum memiliki KTP Kota Bandung sehingga menyulitkan pemerintah dalam memberikan intervensi.

Di sisi lain, cakupan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dengan masalah gizi masih terbatas. Anggaran yang tersedia melalui Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan APBD baru mampu menjangkau sekitar 20 hingga 30 persen dari sasaran yang membutuhkan PMT.

Pemkot juga tengah menyiapkan roadmap penanganan stunting hingga 2030. Pada 2026, pemerintah akan memperkuat baseline dan profil sistem pencegahan serta penanggulangan stunting. Pada 2027, sistem dan mekanisme kerja TPPS ditargetkan semakin kuat. Pada 2028, sistem diharapkan sudah bekerja secara terintegrasi hingga tingkat keluarga. Kemudian pada 2029, kinerja sistem dan outcome diharapkan semakin efektif, dan pada 2030 sistem penanganan stunting ditargetkan sudah terlembaga, adaptif, dan berkelanjutan.

Dalam upaya tersebut, Pemkot membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Plan International Indonesia yang memiliki program terkait pengasuhan positif, sanitasi, serta dukungan terhadap pemerintah dan pemangku kepentingan.

Salah satu program yang dinilai menarik adalah GASELOR (Gerakan Ayah Konselor). Program tersebut mendorong keterlibatan ayah dalam membawa balita ke Posyandu secara bergantian dengan ibu.

“Selama ini hanya mengandalkan ibu, ayahnya cuek-cuek saja. Dengan gerakan ini ada kesadaran ayah juga, berdampak baik terhadap pencegahan stunting,” tuturnya.

(**)

Berita Terkait

PT Phytochemindo Reksa Turun Tangan Perbaiki Jalan Cibugis! Kades Gonon: Sinergi Perusahaan dan Desa, Manfaatnya Dirasakan Warga
Duka di Pasar Caringin, Farhan Minta Aparat Kewilayahan Lebih Perhatikan Wilayahnya
Pemkot Bandung dan Kemenkes Bakal Bangun Central Medical Unit di Ujungberung
Pilkades Serentak Lebong 2026, Panitia Tetapkan Nomor Urut dan Deklarasi Damai
102 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, Ketua FJP2 Desak BGN Bongkar Pengawasan SPPG: Siapa Bertanggung Jawab?
Tutup HJKB, Pawai Jampana Berlangsung Meriah dan Penuh Makna
Setengah Periode Kepemimpinan, Farhan Perkuat Penanganan Masalah Berbasis Kebutuhan Warga
PJI Sulsel Desak Kapolri Periksa Dugaan Pembiaran Tambang Ilegal di Seba-Seba

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 05:59 WIB

Lapas Kelas I Palembang Laksanakan Rekredensialing Klinik Pratama Bersama BPJS Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Rp696,78 Juta untuk Lebak Nangka! Mulyadi Anwar Dorong Jalan Desa Kadumanggu Kini Lebih Bagus dan Mulus

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Perkuat Kualitas Pelayanan, Lapas Palembang Terima Kunjungan Ombudsman Sumsel

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:24 WIB

Kapolda Sumsel Dorong Pelajar SMKN 6 Palembang Berprestasi, Disiplin, dan Bebas Narkoba

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:11 WIB

Karutan Kelas I Palembang Bersama Jajaran Panen Kangkung, Dukung Ketahanan Pangan dan Optimalisasi Lahan Produktif

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Rutan Kelas I Palembang Jalin Kerja Sama dengan Bank Sampah Graha Pena untuk Pengelolaan Sampah Anorganik  

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Firdaus Hasbullah: Jangan Biarkan Narkoba Merampas Masa Depan Anak-Anak PALI!  

Senin, 26 Oktober 2026 - 07:58 WIB

Sinergi Forkopimda di The 12th World Anxi Conference, Polda Sumsel Dukung Iklim Daerah yang Kondusif

Berita Terbaru