Politik Modal Tumbang, Hadi Hidayat Terpilih Kades Ciledug Berkat Kekuatan Rakyat
Satunews.id, Bekasi – Peta kepemimpinan Desa Ciledug, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi memasuki babak baru. Hadi Hidayat resmi terpilih sebagai Kepala Desa Ciledug periode 2026–2034 setelah proses pemungutan dan penghitungan suara selesai, Senin (21/9/2026).
Kemenangan Hadi menjadi sorotan. Di tengah kontestasi Pilkades yang kompetitif dan kental dengan politik modal, Hadi justru bertumpu pada kekuatan rakyat, ikatan kekeluargaan, dan militansi relawan. Hasil ini membuktikan dukungan masyarakat masih menjadi penentu utama arah kepemimpinan desa.
Para pendukung menilai kemenangan ini sebagai momentum perubahan di Ciledug.
Hadi menegaskan, terpilihnya dirinya bukan garis akhir, melainkan awal tanggung jawab besar. Mandat rakyat harus diwujudkan dalam pelayanan publik yang responsif, pembangunan tepat sasaran, serta tata kelola pemerintahan yang transparan.
“Masyarakat Ciledug masih mampu melihat seorang yang memiliki jiwa memimpin dan memiliki keinginan untuk membawa perubahan dalam kinerja pemerintahan desa. Perjuangan masyarakat yang bermodal keyakinan dan kekuatan kekeluargaan akhirnya membuahkan hasil,” ujar Hadi.
“Amanah ini bukan untuk saya pribadi. Ini amanah seluruh masyarakat Ciledug. Saya ingin kepercayaan ini diwujudkan dalam kerja nyata dan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Ketua DPD Lembaga Perlindungan Konsumen RI (LPK RI) Provinsi Jawa Barat, Pamuji Rahardjo, S.Kom., menilai kemenangan Hadi harus dimaknai sebagai lahirnya amanah, bukan sekadar kemenangan politik.
“Kemenangan Hadi Hidayat harus dimaknai sebagai lahirnya sebuah amanah, bukan sekadar kemenangan politik. Setelah terpilih, tidak boleh lagi ada sekat antara yang memilih dan yang tidak memilih. Kepala desa adalah pemimpin seluruh masyarakat Ciledug,” ujar Pamuji.
Menurutnya, masyarakat berhak melihat mandat politik diwujudkan melalui kinerja nyata.
“Yang paling penting sekarang adalah pembuktian. Masyarakat sudah memberikan kepercayaan, maka kepercayaan itu harus dijawab dengan transparansi, pelayanan yang baik, pembangunan yang tepat sasaran, serta keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar semangat kekeluargaan selama Pilkades tidak hilang usai pemilihan.
“Kita harus menghormati pilihan masyarakat. Kalau masyarakat bergerak dengan keyakinan dan kekeluargaan untuk menentukan pemimpinnya, maka mandat tersebut harus dihormati dan dijaga. Jangan sampai setelah pemilihan selesai, masyarakat justru dilupakan,” katanya.
Kini tantangan sesungguhnya ada di depan mata. Energi pemenangan harus bergeser menjadi energi pembangunan. Warga Ciledug menanti pemerintahan yang mampu bekerja, melayani, membuka ruang partisipasi, dan memastikan program desa menyentuh kebutuhan warga.
Sebab kemenangan hanya menghasilkan mandat. Kinerja-lah yang akan menentukan bagaimana mandat itu dirasakan.
Politik telah selesai, pengabdian dimulai. Tidak boleh lagi ada sekat antar pendukung. Seluruh warga Ciledug kini berada dalam satu pemerintahan yang sama.
“Jangan jadikan kemenangan sebagai mahkota. Jadikan kemenangan sebagai amanah untuk bekerja. Karena ukuran keberhasilan seorang kepala desa bukan seberapa besar ia menang dalam pemilihan, tetapi seberapa besar masyarakat merasakan manfaat dari kepemimpinannya,” pungkas Pamuji.
(aminah)


























