Karya Kreator Difabel Uqi Tembus Bandara Husein, Bukti Talenta Disabilitas Mampu Berkarya dan Bersaing

Satunews.id

- Redaksi

Kamis, 3 September 2026 - 19:54 WIB

5011 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Karya Kreator Difabel Uqi Tembus Bandara Husein, Bukti Talenta Disabilitas Mampu Berkarya dan Bersaing

Satunews.id, Kota Bandung –  Keterbatasan tidak menghalangi Maulana Yusuf As-Shauqi, atau yang akrab disapa Uqi, untuk terus berkarya. Kreator difabel sekaligus alumni Artherapy Center (ATC) Widyatama tersebut berhasil membawa karyanya hingga mendapat ruang apresiasi di Bandara Internasional Husein Sastranegara Kota Bandung.

Direktur Artherapy Center Widyatama, Firli Herdiana, mengatakan Uqi merupakan salah satu alumni yang membanggakan. Karyanya terpilih dalam rangkaian Asia Afrika Festival 2026 dan kemudian mendapat kesempatan untuk dipajang di Bandara Internasional Husein Sastranegara.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Uqi merupakan alumni dari Artherapy Center Widyatama. Dengan karyanya dia mampu memberikan dampak. Salah satu karyanya terpilih di Asia Afrika Festival tahun 2026 dan juga karyanya dipajang di Bandara Husein Sastranegara,” ujar Firli di Universitas Widyatama, Kamis (3/9/2026).

Menurut Firli, pencapaian Uqi menunjukkan bahwa karya penyandang disabilitas memiliki peluang untuk mendapat apresiasi sekaligus diterima di ruang publik dan industri.

Sejumlah karya peserta didik maupun alumni ATC Widyatama juga telah mulai diterima oleh industri, baik untuk kebutuhan merchandising maupun pembuatan jingle.

“Dari kesenangan sebetulnya, apa yang mereka suka kita kembangkan menjadi suatu bentuk yang bernilai jual. Alhamdulillah karya-karyanya sudah mulai diterima oleh industri,” katanya.

Selain Uqi, karya alumni ATC Widyatama lainnya juga pernah mendapat ruang apresiasi. Karya Abian dan Lutfi, misalnya, pernah dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta setelah melalui proses kurasi bersama seniman disabilitas dari luar negeri.

Firli menilai keberhasilan para peserta didik dan alumni tersebut menjadi bukti bahwa disabilitas bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mengembangkan kreativitas dan menghasilkan karya.

“Setiap anak punya kreativitas dan punya potensi. Tinggal bagaimana kita bisa memberikan wadah dan pendidikan yang tepat,” tutur Firli.

Ia berharap kolaborasi antara keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, industri dan pemerintah terus diperkuat. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk menciptakan ekosistem yang semakin inklusif serta ramah bagi penyandang disabilitas di Kota Bandung.

Bagi keluarga, pencapaian Uqi merupakan hasil dari perjalanan panjang yang berawal dari bakatnya sejak masih kecil.

Sang ayah, Nana Sutisna, menceritakan bahwa ketertarikan Uqi terhadap gambar sudah terlihat sejak usia dini.

“Memang dari kecil sudah kelihatan. Kalau dikasih buku, dia senangnya bukan ABCD, malah bikin bulat-bulat, disambung-sambung sampai hampir membentuk binatang,” tutur Nana.

Bakat tersebut terus berkembang ketika Uqi menempuh pendidikan. Ia sempat bersekolah di SLB Cicendo sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Ketertarikannya terhadap dunia visual semakin terlihat, termasuk ketika mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Minat tersebut kemudian berkembang saat Uqi mulai mempelajari komputer ketika bersekolah di SMK.

Melihat potensi yang dimiliki anaknya, Nana sempat kebingungan mencari lembaga pendidikan yang dapat mengembangkan kemampuan Uqi sekaligus sesuai dengan kebutuhannya sebagai penyandang disabilitas.

“Saya sempat bingung, ini anak saya harus disalurkan ke mana. Jurusan apa, universitas mana yang bisa menerima anak disabilitas,” katanya.

Nana kemudian memperoleh informasi mengenai Widyatama dan mendaftarkan Uqi. Sempat mengikuti pembelajaran di kelas reguler, Uqi akhirnya berpindah ke ATC Widyatama karena dinilai lebih sesuai dengan lingkungan pembelajaran yang dibutuhkannya.

Menurut Nana, perkembangan kemampuan Uqi semakin terlihat selama mengikuti pendidikan di ATC Widyatama. Kemampuan menggambarnya terus meningkat hingga mampu menghasilkan karya secara mandiri.

“Dari sini sudah kelihatan bakatnya. Makin bagus saja cara menggambar-gambarnya,” ujarnya.

Setelah Uqi lulus, Nana kembali meminta bantuan ATC Widyatama agar kemampuan anaknya dapat terus dikembangkan dan tidak berhenti begitu saja. Uqi kemudian tetap mendapat ruang untuk mengasah potensinya, termasuk di bidang fotografi.

Selain mengembangkan kemampuan peserta didik, ATC Widyatama juga berupaya mengarahkan karya mereka agar memiliki nilai ekonomi dan dapat membuka peluang kemandirian.

Bagi Nana, kesempatan untuk terus berkembang dan bekerja sesuai kemampuan merupakan hal penting bagi penyandang disabilitas.

Ia berharap masyarakat tidak memandang sebelah mata kemampuan penyandang disabilitas dan memberikan kesempatan yang lebih luas sesuai dengan pendidikan, keterampilan serta potensi yang dimiliki.

“Harapannya, anak-anak disabilitas jangan disepelekan. Kalau bisa diangkat sesuai dengan kemampuannya,” kata Nana.

Ia juga berharap pemerintah dapat membuka lebih banyak akses bagi penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan, termasuk kesempatan menjadi aparatur negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Bukan untuk anak saya saja, tetapi untuk semua anak disabilitas. Mudah-mudahan bisa diangkat sesuai dengan kemampuannya,” ujarnya.

Kisah Uqi menjadi gambaran bahwa ketika bakat mendapatkan ruang, pendidikan yang tepat dan dukungan yang berkelanjutan, penyandang disabilitas mampu menghasilkan karya yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga memiliki nilai dan daya saing di ruang publik.

(red)

Berita Terkait

PT Phytochemindo Reksa Turun Tangan Perbaiki Jalan Cibugis! Kades Gonon: Sinergi Perusahaan dan Desa, Manfaatnya Dirasakan Warga
Calon Tunggal di Desa Lemeu, Kadis PMD Lebong: Pemilihan Tetap Dilanjutkan
Duka di Pasar Caringin, Farhan Minta Aparat Kewilayahan Lebih Perhatikan Wilayahnya
Pemkot Bandung dan Kemenkes Bakal Bangun Central Medical Unit di Ujungberung
Pilkades Serentak Lebong 2026, Panitia Tetapkan Nomor Urut dan Deklarasi Damai
102 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, Ketua FJP2 Desak BGN Bongkar Pengawasan SPPG: Siapa Bertanggung Jawab?
Tutup HJKB, Pawai Jampana Berlangsung Meriah dan Penuh Makna
Setengah Periode Kepemimpinan, Farhan Perkuat Penanganan Masalah Berbasis Kebutuhan Warga

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 22:28 WIB

Rp696,78 Juta untuk Lebak Nangka! Mulyadi Anwar Dorong Jalan Desa Kadumanggu Kini Lebih Bagus dan Mulus

Senin, 26 Oktober 2026 - 19:36 WIB

Rp701,28 Juta untuk Cipambuan! Dadang Darajat Launching Rehabilitasi Kantor Desa dan Dayeuh Pajajaran

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:13 WIB

Perkuat Kualitas Pelayanan, Lapas Palembang Terima Kunjungan Ombudsman Sumsel

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:24 WIB

Kapolda Sumsel Dorong Pelajar SMKN 6 Palembang Berprestasi, Disiplin, dan Bebas Narkoba

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:11 WIB

Karutan Kelas I Palembang Bersama Jajaran Panen Kangkung, Dukung Ketahanan Pangan dan Optimalisasi Lahan Produktif

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Rutan Kelas I Palembang Jalin Kerja Sama dengan Bank Sampah Graha Pena untuk Pengelolaan Sampah Anorganik  

Senin, 26 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Firdaus Hasbullah: Jangan Biarkan Narkoba Merampas Masa Depan Anak-Anak PALI!  

Senin, 26 Oktober 2026 - 07:58 WIB

Sinergi Forkopimda di The 12th World Anxi Conference, Polda Sumsel Dukung Iklim Daerah yang Kondusif

Berita Terbaru