ATC Widyatama Dorong Pendidikan Inklusif, Siswa Difabel Berbaur di Lingkungan Kampus
Satunews.id, Kota Bandung – Artherapy Center (ATC) Widyatama terus memperkuat komitmennya dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif bagi penyandang disabilitas. Salah satu pendekatan yang diterapkan yakni menempatkan proses pendidikan siswa difabel di lingkungan kampus Universitas Widyatama, sehingga mereka dapat berinteraksi langsung dengan mahasiswa reguler.
Berdiri sejak 2014, lembaga yang berada di bawah naungan Yayasan Widyatama tersebut tidak hanya memberikan pendidikan dan pelatihan keterampilan, tetapi juga menjadikan lingkungan kampus sebagai ruang untuk membangun interaksi sosial yang setara antara penyandang disabilitas dan masyarakat non-disabilitas.
Ketua Pembina Yayasan Widyatama, Sri Juniati Roespinoedji, mengatakan keberadaan ATC merupakan bagian dari visi Yayasan Widyatama untuk menjadi penyedia layanan pendidikan bagi semua, termasuk masyarakat dengan disabilitas.
“Artherapy Center adalah salah satu unit di bawah Yayasan Widyatama dan berdiri sejak 2014,” ujar Sri di Universitas Widyatama, Kamis (3/9/2026).

Selama kurang lebih 12 tahun, ATC Widyatama terus mengembangkan pendekatan pendidikan yang tidak memisahkan siswa difabel dari lingkungan sosialnya. Salah satu bentuk nyata penerapan pendidikan inklusif tersebut terlihat dari lokasi ATC yang berada di dalam kawasan kampus Universitas Widyatama.
Melalui konsep tersebut, siswa difabel dapat berinteraksi dan beraktivitas bersama mahasiswa reguler dalam berbagai kegiatan kampus. Mereka juga dapat memanfaatkan sejumlah fasilitas yang tersedia, seperti lapangan olahraga, gedung PKM, lift hingga ruang kelas.
“Kalau kita ingin memberdayakan teman-teman dengan disabilitas itu justru tidak terpisah, tetapi harus punya koneksi dan sinergi dengan teman-teman yang non-disabilitas,” katanya.
Interaksi antara siswa ATC dan mahasiswa reguler juga terlihat dalam berbagai kegiatan kampus. Salah satunya saat kegiatan penerimaan mahasiswa baru Universitas Widyatama, ketika siswa ATC turut tampil dan berkolaborasi di atas panggung.

Keterlibatan tersebut diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Mereka tidak hanya dilihat dari keterbatasannya, tetapi juga dari potensi, kemampuan, kreativitas dan karya yang mampu dihasilkan.
Menurut Sri, pendekatan yang diterapkan ATC Widyatama dapat menjadi salah satu model pendidikan inklusif yang diterapkan secara lebih luas. Ia berharap pengalaman selama lebih dari satu dekade dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya.
“Harapan saya tentu keberadaan Universitas Widyatama dan ATC Widyatama sebagai sinergi ini menjadi sesuatu yang real sebagai model inklusi pendidikan,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur ATC Widyatama, Firli Herdiana, menjelaskan bahwa ATC merupakan lembaga pelatihan kerja yang secara khusus mengembangkan keterampilan penyandang disabilitas.
Sejumlah program keterampilan yang tersedia antara lain desain grafis, kriya dan seni musik. Sejak berdiri pada 2014, lebih dari 200 penyandang disabilitas telah mendapatkan layanan di ATC Widyatama. Saat ini, terdapat sekitar 70 peserta yang masih aktif mengikuti program.

Model pembelajaran pun disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta. Untuk program lembaga pelatihan kerja, satu instruktur mendampingi sekitar 10 peserta didik.
Sementara bagi peserta yang memiliki hambatan komunikasi atau perilaku tertentu, ATC menyediakan program khusus dengan pola pendampingan satu pengajar untuk satu siswa.
Pendekatan tersebut diterapkan agar setiap peserta dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal sesuai dengan kemampuan, karakteristik dan kebutuhannya.
Firli menegaskan, pendidikan inklusif tidak cukup hanya diwujudkan melalui jargon atau kebijakan. Diperlukan kolaborasi antara keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, dunia industri dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang memberikan kesempatan setara bagi penyandang disabilitas.
“Kita bersama-sama bergotong royong untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif. Karena itu yang bisa menjadikan Kota Bandung menjadi kota yang inklusif dan juga ramah disabilitas,” katanya.
Dengan mengintegrasikan siswa difabel ke dalam lingkungan kampus, ATC Widyatama menunjukkan bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar memberikan akses belajar, tetapi juga membuka ruang interaksi, kolaborasi dan pengembangan potensi agar penyandang disabilitas dapat tumbuh lebih mandiri dan berdaya.
(red)


























