Festival Olahraga Tradisional Rancasari Hidupkan Kembali Permainan Rakyat, Ajak Anak Kurangi Ketergantungan Gawai
Satunews.id, Kota Bandung – Kecamatan Rancasari, Kota Bandung, menggelar Festival Olahraga Tradisional sebagai upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan permainan rakyat kepada generasi muda, khususnya anak-anak tingkat SD/MI.
Memasuki tahun keempat pelaksanaan, festival tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali mengenal berbagai permainan tradisional yang merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Kota Bandung. Kegiatan juga menjadi sarana bagi peserta untuk berolahraga, berinteraksi, berekspresi, serta mengisi waktu luang dengan aktivitas yang positif dan menyenangkan.
Pelaksanaan festival mendapat dukungan dari sejumlah unsur terkait, di antaranya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), serta pimpinan DPRD Kota Bandung, Dr. H. Edwin Senjaya, S.E., M.M.

Camat Rancasari, Shinta Parmawati, mengatakan pengenalan olahraga tradisional kepada anak-anak semakin penting di tengah perkembangan teknologi dan semakin dekatnya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.
“Yang utama adalah memperkenalkan permainan tradisional kepada anak-anak, khususnya yang di sekolah dasar. Anak-anak jadi mengetahui bahwa Kota Bandung ini kaya akan permainan tradisional. Mereka juga bisa berkreasi, berekspresi, serta menghabiskan waktu luang dengan kegiatan seperti ini,” ujarnya.
Menurut Shinta, permainan tradisional bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, kerja sama, ketangkasan, sportivitas, serta interaksi sosial yang dapat membantu membentuk karakter anak.
Pelestarian permainan tradisional juga dinilai penting agar generasi muda tidak kehilangan pengetahuan terhadap budaya permainan rakyat yang telah berkembang di tengah masyarakat sejak dahulu.
Festival tersebut diikuti peserta dari sekitar 14 SD/MI di Kecamatan Rancasari. Sejumlah olahraga tradisional yang dipertandingkan antara lain hadangan, bakiak, balok, egrang, sumpitan, dan dagongan.
Berbagai permainan tersebut tidak hanya menuntut kemampuan fisik, tetapi juga kekompakan dan strategi. Para peserta pun mendapatkan pengalaman baru sekaligus kesempatan berinteraksi dengan siswa dari sekolah lainnya.
“Manfaatnya banyak sekali. Selain anak-anak bisa bersilaturahmi dan berkenalan dengan teman dari sekolah maupun usia yang berbeda, kegiatan ini juga bisa mempererat kebersamaan dan menambah wawasan generasi penerus tentang pentingnya permainan atau olahraga tradisional,” kata Shinta.
Melihat tingginya antusiasme peserta, Shinta berharap kegiatan serupa dapat dikembangkan ke tingkat Kota Bandung. Dengan demikian, anak-anak dari berbagai kecamatan memiliki ruang yang lebih luas untuk mengenal dan memainkan olahraga tradisional.
“Mudah-mudahan ada festival tingkat kota, sehingga anak-anak bisa berekspresi bukan hanya di tingkat kecamatan, tetapi juga di tingkat Kota Bandung dan dapat diikuti oleh kecamatan-kecamatan lainnya. Saya yakin kalau diberikan permainan tradisional seperti ini, anak-anak sekarang sangat antusias,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Festival Olahraga Tradisional Rancasari, Apep Wahid, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya menghidupkan kembali olahraga tradisional agar tidak semakin tergerus perkembangan zaman.
Menurutnya, permainan rakyat juga dapat menjadi alternatif kegiatan positif bagi anak-anak sekaligus membantu mengurangi ketergantungan terhadap penggunaan gawai.
“Tujuannya untuk memeriahkan dan menghidupkan kembali olahraga tradisional. Jangan sampai olahraga tradisional tergerus zaman bahkan hilang. Sekarang kita gali lagi supaya anak-anak tingkat SD tidak banyak bermain HP,” ujarnya.
Apep menilai antusiasme peserta dan masyarakat terhadap festival cukup tinggi. Anak-anak mengikuti berbagai permainan dengan semangat dan penuh kegembiraan.

Ia menyebut konsep olahraga tradisional yang dikemas dalam bentuk permainan membuat aktivitas tersebut lebih menarik bagi anak-anak.
“Manfaatnya sangat baik untuk anak-anak sekolah karena mereka berolahraga sambil bermain. Jadi tidak hanya fokus pada olahraga, tetapi ada unsur bermainnya juga. Anak-anak bisa bersenang-senang sekaligus berprestasi di bidang olahraga,” katanya.
Melalui Festival Olahraga Tradisional Rancasari, Pemerintah Kecamatan Rancasari berharap permainan rakyat tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya.
Pelestarian tersebut sekaligus menjadi upaya membangun generasi muda yang aktif, kreatif, sportif, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap kekayaan budaya daerah.
(red)


























