Pemkot Bandung Perkuat Pencegahan Thalasemia, Dukung Deteksi Dini dan Skrining Genetik Bersama RSHS
Satunews.id, Kota Bandung – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menegaskan komitmennya dalam mendukung upaya pencegahan dan deteksi dini thalasemia melalui kolaborasi bersama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung dan Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita. Komitmen tersebut diwujudkan dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bagi Penyandang Thalasemia dan Keluarga yang digelar di Trans Studio Bandung, Minggu (27/07/2026).
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Anak Nasional 2026 sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-103 RSHS ini mempertemukan ratusan penyandang thalasemia, keluarga pasien, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, serta pemerintah guna memperkuat edukasi, deteksi dini, dan pendampingan bagi penyandang kelainan darah bawaan tersebut.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengapresiasi kolaborasi antara RSHS dan RSAB Harapan Kita yang dinilai tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga mengedepankan aspek pencegahan melalui edukasi dan skrining genetik.
“Atas nama Pemerintah Kota Bandung, kami mengapresiasi inisiatif RSHS dan RSAB Harapan Kita yang terus menghadirkan inovasi dalam penanganan thalasemia. Upaya seperti ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit genetik,” ujar Farhan.
Menurutnya, pemerintah daerah akan terus mendukung berbagai program kesehatan yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui sinergi dengan rumah sakit, institusi pendidikan, serta pemerintah pusat.
“Pemkot Bandung mendukung setiap langkah yang memperkuat edukasi kesehatan, skrining, dan pendampingan bagi penyandang thalasemia beserta keluarganya. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar layanan kesehatan semakin berkualitas dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
Farhan juga menilai keberadaan RSHS sebagai rumah sakit rujukan nasional telah memberikan kontribusi besar dalam peningkatan pelayanan kesehatan di Kota Bandung maupun Jawa Barat.
“Kami berharap sinergi yang telah terjalin dengan berbagai institusi kesehatan terus berkembang sehingga masyarakat memperoleh akses pelayanan yang semakin baik, termasuk dalam upaya pencegahan thalasemia,” tuturnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyebut thalasemia masih menjadi tantangan serius di bidang kesehatan yang memerlukan kolaborasi seluruh pihak.
Berdasarkan data yang dipaparkan, prevalensi pembawa sifat (carrier) thalasemia di Indonesia berkisar 3 hingga 10 persen dari total populasi, dengan sekitar 40 persen penyandang thalasemia berada di Jawa Barat.
“Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen memperkuat edukasi, deteksi dini, dan pendampingan agar angka kasus thalasemia dapat terus ditekan serta kualitas hidup para penyandang semakin baik,” ujar Erwan.
Direktur Utama RSHS Bandung, dr. H. Rachim Dinata Marsidi, mengatakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk nyata komitmen RSHS dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Menurutnya, kerja sama dengan RSAB Harapan Kita memperkuat penelitian sekaligus edukasi kepada keluarga penyandang thalasemia mengenai pentingnya skrining genetik sebagai langkah pencegahan sejak dini.

Senada dengan itu, Direktur Utama RSAB Harapan Kita, dr. Reni Wigati, menyampaikan bahwa kolaborasi antarrumah sakit menjadi bagian penting dalam memperluas manfaat penelitian dan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
“Program nasional tidak akan mampu menjangkau masyarakat tanpa dukungan rumah sakit-rumah sakit regional. Kolaborasi dengan RSHS menjadi contoh nyata bagaimana penelitian dan pelayanan kesehatan dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, fokus utama kegiatan tahun ini adalah mengajak keluarga penyandang thalasemia mengikuti skrining genetik untuk mengetahui status pembawa sifat (carrier), sehingga dapat dilakukan langkah pencegahan pada generasi berikutnya.
Dalam kegiatan tersebut juga dilaksanakan edukasi mengenai thalasemia, pemutaran testimoni pasien, pemaparan hasil program, serta pengambilan 90 sampel air liur sebagai bagian dari penelitian dan penguatan skrining genetik. Sebanyak 484 penyandang thalasemia turut berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan tersebut.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, rumah sakit, tenaga kesehatan, akademisi, peneliti, dan masyarakat, diharapkan upaya pencegahan thalasemia dapat semakin optimal, sekaligus meningkatkan kualitas hidup penyandang thalasemia dan keluarganya menuju masyarakat yang lebih sehat dan berkualitas.
(dewi)




























