Lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejad” Karya Om Zein Tuai Perhatian Publik, Lirik Picu Perdebatan di Media Sosial
Satunews.id, Purwakarta – Lagu berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejad” karya Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atau yang akrab disapa Om Zein menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Lagu berbahasa Sunda tersebut ramai diperbincangkan setelah sejumlah warganet memberikan beragam tanggapan terhadap pesan yang terkandung dalam liriknya.
Karya musik tersebut mendapat perhatian publik setelah video lagu beredar melalui platform YouTube. Sejumlah pengguna media sosial kemudian menyampaikan pandangan mereka terkait beberapa bagian lirik yang dinilai sebagian pihak menimbulkan perdebatan, khususnya mengenai sudut pandang terhadap perempuan.
Video lagu tersebut dapat disaksikan melalui kanal YouTube dengan tautan:
Dengan Judul : Lalaki Langit lalanang Bejad
Cipt. Om Zein
Nuhun Gusti…
Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki
Cacak Mun Jadi Awewe
SMP Kelas Tilu Tos Karuron Tujuh Kali
Nuhun Gusti…
Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki
Teu Kudu Meuli Kutang
Nu Busana Lewih Gede Batan Susu
Nuhun Gusti…
Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki
Teu Kudu Ngaprak-Ngaprak Apotek
Alatan Telat Bulan
Nuhun Gusti…
Tos Nyiptakeun Kuring Jadi Lalaki
Teu Kudu Ngalukis Halis Jeung Bulu Mata
Sakali Nangi
Cep Hese Beunta
Lalaki Langit…
Lalanang Bejad…
Lalaki Langit…
Lalanang Bejad…
Perbincangan terkait lagu tersebut berkembang di kolom komentar. Sebagian warganet menilai karya tersebut merupakan bentuk ekspresi seni, namun sebagian lainnya mempertanyakan pesan yang disampaikan melalui lirik, terlebih lagu tersebut dibuat oleh seorang figur publik.
Beberapa komentar warganet yang muncul di antaranya:
Akun @dh******* menulis:
“miris bgt nyiptain lagu kayak gini😭 ngerendahin perempuan loh ini pak..”
Sementara akun @ad****** memberikan tanggapan:
“Lirik itu bisa menjadi cerminan sebagaimana karakter diri pencipta lagu tersebut hehe”
Akun @Sit****** juga menyampaikan pandangannya:
“Klo di artikan smp kls 3 udh keguguran 7x koq kaya merendahkan bgt yaaa, sumpah teu ngeunah laguna 😂😂😂”
Selain itu, akun @ei***** menuliskan:
“alus laguna. alus lamun teu di lagu keun. uyuhan, kudu mikir urang teh lain kaluar tina liang batu”
Komentar lain dari akun @ag****** menyampaikan:
“Nanaonan nyiptakeun nu kieu ngarendahkeun awewe!”
Sedangkan akun @A**** memberikan kritik:
“Memalukan. Lagu misoginis ini dibuat pemimpin daerah. Jangan bawa-bawa identitas kesundaan lagi! Konstruksi lirik sebejad ini tak layak dipublikasikan pejabat publik.”
Hingga kini, lagu tersebut menjadi bahan diskusi publik mengenai kebebasan berekspresi, karya seni, serta bagaimana sebuah pesan disampaikan oleh seorang tokoh yang memiliki jabatan publik.
Perdebatan yang muncul menunjukkan adanya beragam perspektif masyarakat dalam melihat sebuah karya musik, baik dari sisi seni, budaya, maupun tanggung jawab sosial seorang figur publik.
Sumber : https://youtu.be/7-E3ULPA5gY?si=27LBWiO34rMMsVwV
Editor : drj
(Red)


























