SATUNEWS.ID
Kab.Bandung – Pentahelix Dayeuhkolot menghadiri kegiatan Sosialisasi Satgas Citarum Harum Tahun Anggaran 2026 bertema Penanganan Limbah Industri. Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Desa Cangkuang Kulon pada Selasa (27/10/2026).
Sekretaris Pentahelix Dayeuhkolot, Deni, yang mewakili Ketua Pentahelix Dayeuhkolot, Tri Rahmanto, menyampaikan bahwa kondisi air di sejumlah sungai dan saluran perlu mendapat perhatian serius.
“Secara kasat mata, kondisi air di saluran maupun sungai saat ini cukup kritis. Karena itu, kami terus bersinergi dengan Satgas Citarum Harum dan pihak lainnya untuk mengangkat sampah, termasuk di Sungai Citepus,” ujar Deni.
Menurutnya, sebagian sampah yang masuk ke wilayah Dayeuhkolot diduga merupakan kiriman dari hulu, terutama wilayah perkotaan. Pentahelix juga telah memasang trash trap atau jaring penahan sampah di saluran Cipalasari, disertai pengangkatan sampah secara rutin.
“Kami tidak ingin saling menyalahkan. Yang terpenting adalah meningkatkan kepedulian bersama karena dampak kerusakan lingkungan dirasakan langsung oleh masyarakat,” katanya.
83 Perusahaan Dukung CSR Rp164 Juta
Selama sekitar 11 bulan, Pentahelix Dayeuhkolot mencatat dukungan CSR dari 83 perusahaan dengan total sekitar Rp164 juta. Sementara itu, total biaya penanganan lingkungan yang telah dikeluarkan mencapai sekitar Rp680 juta.
“Jadi jangan sampai dipahami seluruh biaya Rp680 juta itu berasal dari CSR. CSR dari 83 perusahaan sekitar Rp164 juta, sementara total yang sudah dikeluarkan sekitar Rp680 juta. Selisih kebutuhan tersebut selama ini juga kami topang secara pribadi agar penanganan di lapangan tetap berjalan,” tegasnya.
Anggaran tersebut digunakan untuk berbagai kegiatan, termasuk normalisasi sungai, saluran dan drainase sepanjang kurang lebih 10 kilometer, serta pembangunan infrastruktur untuk pencegahan dan penanganan banjir.
Deni menegaskan, upaya penanganan lingkungan membutuhkan keberlanjutan program dan dukungan banyak pihak, termasuk pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
“Kami berharap kepedulian semua pihak semakin meningkat. Penanganan lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri atau hanya sekali, tetapi membutuhkan kerja sama dan komitmen berkelanjutan,” pungkasnya.
(Asp)


























