Organisasi perempuan Alisa Khadijah menggelar Rapat Kerja Nasional III periode 2022–2027 di Aula Masjid Trans, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung. Rakernas berlangsung 28–30 Juli 2026.
Mengangkat tema besar tentang kedaulatan pangan, energi, dan industri, forum ini menjadi ruang evaluasi program sekaligus merumuskan strategi penguatan peran perempuan dalam pembangunan nasional.
Turut hadir Dewan Pembina Pusat Prof. Dr. Arif Satria, Ketua Umum Alisa Khadijah, para Ketua Wilayah dan Ketua Daerah dari seluruh Indonesia, serta sejumlah tokoh undangan.

Fokus pada Evaluasi dan Aksi Nyata
Agenda utama Rakernas adalah mengevaluasi kinerja organisasi setahun terakhir. Seluruh pengurus wilayah juga menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban sebagai bentuk akuntabilitas.
Ketua Wilayah Alisa Khadijah Jawa Barat, Ina, menyebut LPJ bukan hanya urusan administrasi.
“Yang terpenting bukan hanya laporannya, tapi dampak nyata program itu ke masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan tanggung jawabnya memastikan kegiatan organisasi di Jabar mampu menggerakkan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan perempuan dan penguatan UMKM.
Semangat Pengabdian Tanpa Pamrih
Ina mengajak seluruh anggota bekerja dengan ikhlas.
“Kita harus memberi manfaat seperti matahari, terus menyinari tanpa pamrih. Kerja keras, inovasi, dan niat ibadah harus jadi dasar,” katanya.
Menurutnya, perempuan perlu membangun karakter wirausaha yang jujur, sabar, disiplin, dan komunikatif.
“Komunikasi itu kunci. Dengan komitmen kuat, perempuan bisa jadi pengusaha tangguh dan berdampak bagi lingkungan,” jelasnya.
Ia optimis perempuan Indonesia bisa menjadi penggerak utama ekonomi nasional jika terus dibekali semangat inovasi dan kebermanfaatan.
*Penutupan dengan Wisata Edukasi*
Sebagai penutup, panitia menyiapkan wisata edukasi dengan kendaraan klasik VW dan kunjungan ke museum-museum di Bandung. Kegiatan ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi pengurus dari berbagai daerah.
Komitmen Menuju 2045
Melalui Rakernas III, Alisa Khadijah menegaskan komitmennya mendorong perempuan berkontribusi langsung dalam mewujudkan kedaulatan di bidang pangan, energi, dan industri.
Langkah ini diharapkan menjadi fondasi penting dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
*nengsih*


























