Dari Semarang ke Bandung: Warisan Kuliner Kepala Manyung Bu Fat Sejak 1969 Kini Bisa Dinikmati
*BANDUNG* – Jejak kuliner legendaris Semarang kini hadir di jantung Kota Bandung. Restoran *Kepala Manyung Bu Fat* resmi membuka cabang di Jalan Dr. Junjungan, menandai ekspansi pertama mereka di Jawa Barat setelah sebelumnya sukses di Semarang dan Jakarta.
Pembukaan yang berlangsung Rabu, 20 Mei 2026, dirangkaikan dengan santunan anak yatim dari dua yayasan, salah satunya Yayasan Aljabar. Kehadiran cabang baru ini bukan sekadar ekspansi bisnis, tapi juga bentuk pelestarian cita rasa Jawa Tengah yang sudah berusia 56 tahun.
Dari Ikan Asap Warga ke Ikon Kuliner Nasional
Cerita Kepala Manyung Bu Fat berawal dari kebiasaan warga Semarang yang gemar mengasap ikan manyung. Menurut Bu Bekti Mulyani, generasi kedua yang kini memimpin usaha, ide membuat mangut kepala ikan muncul karena kepala ikan hasil asap sering tak laku di pasaran.
“Berawal dari warga yang banyak mengasap ikan. Kepalanya kurang laku, terus ibu saya, Bu Fat, membikin kepalanya itu dibikin mangut. Setelah berkembang, ternyata penggemarnya banyak,” ujar Bu Bekti saat ditemui di lokasi soft opening.
Bu Fat, sang pendiri, meninggal pada Oktober 1999. Sejak itu, Bu Bekti melanjutkan perjuangan ibunya. Usaha kecil yang awalnya hanya melayani warga sekitar, perlahan naik kelas.
Momentum besar datang pada 2008 saat Kepala Manyung Bu Fat ikut lomba kuliner di Semarang dan meraih juara 1 tingkat kota di era Wali Kota Sukawi Sutarip. Sepuluh tahun kemudian, 2018, mereka kembali diundang lomba tingkat nasional di Jakarta dan kembali menjadi juara.
“Dari situ jadi ikonnya Jawa Tengah. Penggemarnya ternyata banyak banget di seluruh Indonesia,” kata Bu Bekti.
Untuk diketahui, ikan manyung yang digunakan adalah ikan segar, bukan ikan asin. Di Semarang disebut manyung wonoman, sementara di Jakarta dikenal sebagai jambal roti. Proses pengasapan dulu dilakukan sebelum dimasak menjadi mangut bersantan dengan bumbu rempah khas.
Bandung Jadi Cabang Pertama di Jawa Barat
Pemilihan Bandung sebagai lokasi ekspansi bukan tanpa alasan. Menurut Bu Bekti, Bandung memiliki ekosistem kuliner yang kuat dan masyarakat yang terbuka pada cita rasa baru.
“Harapannya berdiri ini di Kota Bandung karena di kota Bandung ini ada kuliner. Ini Bandung pertama kali. Harapannya warga Bandung itu bisa paham dengan menunya. Lidahnya manyum aja,” ujarnya sambil tersenyum.
Ia menjelaskan, selain mangut kepala ikan, menu yang disajikan juga beragam. Ada pepes, botok, aneka gorengan, hingga sambal khas yang menjadi pelengkap.
“Di dalam itu banyak aneka warna sayuran, pepes botok goreng-gorengan banyak ya, aneka sambal juga ada. Harapannya supaya kepala manyung dikenal di wilayah Bandung lebih kenal lagi,” tambahnya.
Bu Bekti juga berpesan agar warga Bandung mau mencoba dulu sebelum menilai. “Kalau enggak kenal nggak sayang. Harus kenal dulu baru nanti harus menerima, baru sayang,” katanya.
Harapan untuk Kolaborasi dengan Pemerintah
Dalam kesempatan yang sama, Bu Bekti menyampaikan harapannya agar pemerintah daerah bisa mendukung pelaku kuliner tradisional agar lebih cepat berkembang dan mendapat perhatian.
“Pesan untuk pemerintah, semoga bisa berkolaborasi dengan cepat. Saya juga sangat berharap pemerintah memperhatikan,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran Kepala Manyung Bu Fat di Bandung tidak hanya ramai secara komersial, tapi juga memberi dampak sosial. Hal ini selaras dengan acara soft opening yang diawali dengan santunan anak yatim.

Apresiasi dari Penerima Manfaat Yayasan Lengkap Sinergi Pontion Sukabungah
Ucapan terima kasih datang dari Ade Zajuli, perwakilan yayasan penerima santunan. Ia menyampaikan doa untuk keluarga besar Kepala Manyung Bu Fat.
“Ucapan terima kasih kepada rumah makan Kepala Manyung Bu Fat. Semoga apa yang telah beliau berikan kepada yayasan dan anak-anak yatim yang kami bina dibalas dengan balasan yang berlipat-lipat. Dijadikan usahanya lebih maju, lebih bermanfaat, serta menjadi jariyah bagi orang tua dari rumah makan Kepala Manyung Ibu Fat,” ujar.
Warisan Tiga Generasi
Usaha yang dirintis Bu Fat pada 1969 kini diteruskan ke generasi ketiga, Banik Yoandanny. Struktur keluarga yang kompak menjadi kunci konsistensi rasa dan pelayanan.

Banik Yoandanny menyebut, misi mereka sederhana: menjaga resep asli sekaligus memperkenalkan kuliner Jawa Tengah ke lebih banyak daerah.
“Supaya makanan Kepala Manyung ini bisa makin dikenal banyak orang untuk warga Bandung dan sekitarnya. Monggo mampir di Kepala Manyung Bu Fat, asli Semarang loh. Cobain masakan-masakan khas Jawa yang tiada duanya,” ajaknya.
Kehadiran Kepala Manyung Bu Fat di Bandung menjawab rindu warga perantauan asal Semarang dan pecinta kuliner Jawa yang ingin merasakan mangut otentik tanpa harus jauh-jauh. Dari dapur kecil di Semarang tahun 1969, kini cita rasa mangut kepala ikan manyung siap memanjakan lidah warga Pasundan.
Redaksi Satu News – Menyuarakan cerita di balik rasa.


























