Satunews.id, Bogor – Dalam balutan suasana khidmat namun sarat makna, launching Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis) Bantar Jati menjelma bukan sekadar seremoni, melainkan deklarasi moral: perang terhadap persoalan gizi masyarakat resmi dimulai dari akar rumput. Di bawah naungan SPPG Yayasan Siliwangi Tribuana Nusantara, program ini hadir sebagai jawaban atas kegelisahan panjang tentang masa depan generasi yang kerap tergerus persoalan nutrisi.Sabtu,(25/04/2026)
Sejak awal kegiatan, gelombang antusiasme warga tak terbendung. Masyarakat dari berbagai lapisan tumpah ruah, menyaksikan langsung lahirnya sebuah inisiatif yang digadang-gadang menjadi solusi konkret, bukan sekadar janji. Kehadiran unsur pemerintah, aparat, dan tokoh masyarakat mempertegas bahwa program ini memikul ekspektasi besar dan publik akan terus mengawasinya.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Bantar Jati Supena Jaya Atmaja, perwakilan Kecamatan Klapanunggal, Danramil Klapanunggal Kapt. Kav. La Ahmadi, Babinsa Amir R, Bhabinkamtibmas, Kepala SPPG Frans Nico Habeahan, Ketua Yayasan Siliwangi Tribuana Nusantara Ibu Lusi, BPD, LPM, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga unsur keamanan dan warga sekitar.

Dalam sambutannya yang penuh penekanan, Ketua Yayasan Siliwangi Tribuana Nusantara, Ibu Lusi, menegaskan bahwa dapur MBG adalah simbol keberpihakan—bukan sekadar fasilitas. “Ini bukan hanya dapur. Ini adalah wujud kepedulian nyata. Kami ingin memastikan tidak ada lagi anak yang luput dari asupan gizi layak. Ini adalah awal dari komitmen panjang, bukan akhir,” tegasnya, disambut tepuk tangan hadirin.
Nada serupa disampaikan Kepala Desa Bantar Jati, Supena Jaya Atmaja. Ia menilai kehadiran Dapur MBG sebagai langkah strategis yang harus dijaga kesinambungannya, bukan sekadar proyek sesaat.
“Kami mendukung penuh. Program ini harus menjadi contoh, bahkan standar baru. Jangan sampai berhenti di seremoni. Ini adalah tanggung jawab bersama untuk memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaatnya,” ujarnya lugas.
Sementara itu, Kepala SPPG Frans Nico Habeahan menegaskan kesiapan teknis dan operasional. Ia memastikan bahwa dapur MBG tidak akan berjalan setengah hati.
“Kami siap bekerja maksimal. Tidak ada kompromi untuk kualitas. Makanan harus bergizi, higienis, dan tepat sasaran. Program ini harus berdampak nyata, bukan sekadar terlihat baik di atas kertas,” tandasnya.
Puncak acara berlangsung penuh makna melalui prosesi pemotongan tumpeng, santunan anak yatim, hingga pengguntingan pita sebagai simbol dimulainya operasional dapur. Para tamu undangan turut meninjau langsung fasilitas, memastikan kesiapan yang telah dipersiapkan secara matang.

Di balik seremoni, tersimpan harapan besar yang kini menggantung di pundak seluruh pihak terkait. Antusiasme warga yang membuncah bukan hanya ekspresi kegembiraan, tetapi juga titipan harapan: agar program ini benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar narasi.
Launching Dapur MBG Bantar Jati hari ini adalah titik awal. Keberhasilannya kelak akan diukur bukan dari meriahnya acara, tetapi dari berkurangnya angka kekurangan gizi, meningkatnya kualitas hidup, dan hadirnya generasi yang lebih sehat dan kuat.
Publik menanti. Komitmen telah diucapkan. Kini saatnya pembuktian. (Aminah)



























