“Sidak Tak Digubris, Aktivitas Galian C di Cikahuripan Diduga Berubah Jadi Pembuangan Sampah Ilegal”

Satunews.id

- Redaksi

Rabu, 22 April 2026 - 23:33 WIB

5068 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Satunews.id, Bogor – Indikasi pelanggaran serius terhadap tata kelola lingkungan kembali mencuat di Wilayah Desa Cikahuripan, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Aktivitas galian C yang diduga berdiri di atas lahan milik Perhutani dan berstatus sengketa, kini terindikasi kuat telah beralih fungsi menjadi tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal tanpa dasar perizinan yang sah, Rabu (22/04/2026).

Penelusuran di lapangan menunjukkan aktivitas di lokasi masih berlangsung. Area bekas galian tidak hanya dibiarkan terbuka, tetapi juga dimanfaatkan sebagai lokasi penimbunan sampah liar dari berbagai sumber. Hingga saat ini, tidak ditemukan dokumen AMDAL maupun rekomendasi resmi dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Keberadaan alat berat yang masih beroperasi menguatkan dugaan bahwa aktivitas ini berjalan secara sistematis tanpa pengawasan efektif. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan serius terkait fungsi pengawasan dan penegakan aturan di tingkat daerah.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Fakta lain yang mengemuka, berdasarkan keterangan salah satu staf desa yang enggan disebutkan namanya, menyebutkan bahwa lokasi tersebut sebenarnya pernah dilakukan inspeksi oleh aparat.

“Dulu sudah pernah disidak oleh Satpol PP kecamatan bersama pihak desa Cikahuripan. Tapi kenyataannya tidak diindahkan, aktivitas tetap berjalan,” ungkapnya.

Pernyataan tersebut memperkuat dugaan adanya pembiaran atau lemahnya tindak lanjut pasca penertiban. Hal ini menimbulkan kekhawatiran publik bahwa upaya pengawasan yang dilakukan belum mampu menghentikan praktik yang diduga melanggar aturan.

Dampak terhadap masyarakat pun semakin nyata. Warga mengeluhkan bau menyengat, peningkatan debu, kerusakan jalan akibat kendaraan berat, serta ancaman longsor dan pencemaran sumber air. Risiko gangguan kesehatan turut menjadi kekhawatiran serius.

“Ini bukan lagi sekadar persoalan galian. Lingkungan kami sudah tercemar, tapi tidak ada kejelasan penanganan,” ujar seorang warga.

Selain itu, warga juga menyoroti tidak adanya transparansi maupun sosialisasi dari pihak pengelola. Mereka mengaku tidak pernah dilibatkan dalam proses apa pun, meskipun aktivitas tersebut berdampak langsung terhadap kehidupan mereka.

Secara normatif, kondisi ini mengindikasikan potensi pelanggaran berlapis—mulai dari pemanfaatan lahan milik Perhutani, status tanah sengketa, aktivitas pertambangan tanpa izin, hingga dugaan alih fungsi menjadi TPS ilegal tanpa AMDAL dan tanpa persetujuan DLH.

Sorotan publik kini mengarah kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk memastikan adanya langkah korektif yang tegas, transparan, dan berkelanjutan.

“Ini sudah melewati batas. Kami butuh tindakan nyata, bukan sekadar sidak yang tidak ditindaklanjuti,” tegas warga lainnya.
Hingga laporan ini disusun, belum terdapat klarifikasi resmi dari pihak pengelola maupun instansi terkait mengenai legalitas dan kelanjutan aktivitas tersebut.

Kasus ini menjadi cerminan penting atas lemahnya pengawasan lingkungan dan penegakan hukum di daerah. Tanpa langkah tegas dan terukur, situasi di Desa Cikahuripan berpotensi berkembang menjadi krisis lingkungan yang lebih luas dan berdampak jangka panjang bagi masyarakat.

(red)

Berita Terkait

PT Phytochemindo Reksa Turun Tangan Perbaiki Jalan Cibugis! Kades Gonon: Sinergi Perusahaan dan Desa, Manfaatnya Dirasakan Warga
Calon Tunggal di Desa Lemeu, Kadis PMD Lebong: Pemilihan Tetap Dilanjutkan
Duka di Pasar Caringin, Farhan Minta Aparat Kewilayahan Lebih Perhatikan Wilayahnya
Pemkot Bandung dan Kemenkes Bakal Bangun Central Medical Unit di Ujungberung
Pilkades Serentak Lebong 2026, Panitia Tetapkan Nomor Urut dan Deklarasi Damai
102 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, Ketua FJP2 Desak BGN Bongkar Pengawasan SPPG: Siapa Bertanggung Jawab?
Tutup HJKB, Pawai Jampana Berlangsung Meriah dan Penuh Makna
Setengah Periode Kepemimpinan, Farhan Perkuat Penanganan Masalah Berbasis Kebutuhan Warga

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 08:28 WIB

Dorong Kualitas Layanan Publik, Bupati Bandung Bahas Optimalisasi RSUD Majalaya hingga Penataan Aset Daerah

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 07:42 WIB

Sampah Kiriman Menumpuk di Sungai, Pentahelix: Dayeuhkolot Bukan Muara Sampah

Jumat, 23 Oktober 2026 - 21:47 WIB

KNPI Kabupaten Bandung Launching Pelor Handal, Kadistan Dorong Pemuda Garap Ayam Petelur

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Pandangan Umum Fraksi PSI: 4 Raperda Baru Harus Beri Manfaat Nyata, Bukan Sekadar Banyak Norma

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:07 WIB

Musdes Ketiga, Pemdes Malakasari Mantapkan Risalah Tanah Carik untuk Dukung Pembangunan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:14 WIB

Distan Gelar Tani Verse, Dukung Lahirnya Generasi Baru Petani

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:55 WIB

Kades Marsel Farhan Taufik Sambut Baik Kunjungan KDM ke Jadek dan Cikahiyangan.

Senin, 12 Oktober 2026 - 19:13 WIB

Kadis LH Ruli Hadiana, Sesuai Petunjuk Bupati Bandung Lakukan Sosialisasi Hingga Ke Tingkat Kecamatan, Dalam Penangan Sampah

Berita Terbaru