Rp 6 Miliar Uang Rakyat, Kusta Basah Merajalela: Pulau Kangean Menangis, Dinas Kesehatan Santai

Satunews.id

- Redaksi

Jumat, 25 Juli 2025 - 22:09 WIB

5055 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sumenep, Satunews.id – Pengakuan mengejutkan datang dari Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumenep, drg. Elliya Fardansah, M.Kes. Yang menyebut bahwa anggaran fantastis sebesar Rp 6 miliar habis hanya untuk gaji dokter dan perawat. Sementara itu, masyarakat Kecamatan Kangayan, Pulau Kangean, terus berjuang melawan serangan penyakit Kusta Basah yang menyebar tanpa kendali.

Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor: 100.3.3.1/69/KPTS/013/2024 menetapkan Kabupaten Sumenep sebagai penerima bantuan keuangan khusus bidang kesehatan terbesar se-Jawa Timur, mengalahkan 33 kabupaten/kota lainnya. Jumlah tersebut bahkan belum termasuk dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK).

Namun, pada Minggu, 22 Juni 2025, saat dikonfirmasi, Kadinkes Sumenep justru dengan enteng menyatakan bahwa dana tersebut telah habis hanya untuk membayar gaji dokter dan perawat. Publik pun bereaksi keras:

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berapa orang dokter dan perawat yang digaji hingga menghabiskan Rp 6 miliar?

Di mana mereka saat warga Timur Jang-Jang, Kangayan, sekarat karena kusta?

Mengapa tidak ada alokasi nyata untuk penanggulangan wabah kusta basah?

Warga Desa Timur Jang-Jang, Kecamatan Kangayan, kini hidup dalam ketakutan setiap hari. Penyakit Kusta Basah menyebar cepat, menggerogoti keluarga mereka, menyebabkan kerusakan saraf permanen, kecacatan fisik, hingga kematian.

“Kami hidup dalam ketakutan. Kusta ini menyerang tanpa ampun. Tapi Dinas Kesehatan? Diam. Tidak ada tindakan, seolah nyawa kami tidak berarti apa-apa,” keluh salah seorang warga kepada tim Satunews.id.

Ini bukan cerita fiktif. Ini realita kelam masyarakat kepulauan yang justru terjadi di tengah limpahan dana kesehatan terbesar di Jawa Timur. Ironis.

Kusta Basah memiliki masa inkubasi 3–5 tahun, dan kini telah menjadi bom waktu biologis di Kangayan. Ratusan kasus terlambat ditangani. Banyak pasien kini hidup dengan cacat permanen. Beberapa telah kehilangan nyawa — mati sia-sia di negeri sendiri.

Sementara itu, para pejabat kesehatan diduga hanya duduk manis, menikmati gaji dari uang rakyat, tanpa strategi dan tanpa empati.

Masyarakat tidak lagi butuh jawaban mengambang, mereka butuh tanggung jawab nyata.

Kepada Bupati Sumenep:

Copot pejabat yang tidak kompeten.

Realokasikan anggaran untuk penanganan darurat kusta.

Bentuk Tim Krisis Kesehatan sekarang juga.

Kepada Gubernur Jawa Timur:

Lakukan audit menyeluruh terhadap penggunaan bantuan keuangan khusus.

Beri sanksi tegas kepada pihak yang terbukti lalai.

Segera kirim intervensi medis ke wilayah terdampak.

Kami mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Kabupaten Sumenep, serta BPK, KPK, Komnas HAM dan Ombudsman RI untuk:

Melakukan audit forensik terhadap penggunaan Rp 6 miliar anggaran kesehatan.

Mengirim tim medis darurat ke Desa Timur Jang-Jang, Kecamatan Kangayan.

Menyelenggarakan program deteksi massal kusta di seluruh wilayah Pulau Kangean.

Memberikan sanksi administratif hingga pidana kepada pejabat yang lalai dan tak menjalankan fungsi pengawasan.

Ini Bukan Sekadar Kelalaian — Ini Kejahatan Kemanusiaan, Di saat pejabat menikmati gaji besar, warga pulau terisolasi dibiarkan sakit dan mati pelan-pelan. Ini bukan sekadar kelalaian administratif, ini kejahatan kemanusiaan.

Pulau Kangean menangis.
Masyarakat menjerit.
Dan saat ini, kami menuntut jawaban, bukan alasan.

(rul / red)

Berita Terkait

BKK 2026 Desa Karang Tengah Diluncurkan! Kades Suhandi Apresiasi Bupati Bogor, Pembangunan Dituntut Transparan dan Tepat Sasaran
8 Tersangka Pengeroyokan di Pasar Caringin Diamankan Polrestabes Bandung
PT Phytochemindo Reksa Turun Tangan Perbaiki Jalan Cibugis! Kades Gonon: Sinergi Perusahaan dan Desa, Manfaatnya Dirasakan Warga
Calon Tunggal di Desa Lemeu, Kadis PMD Lebong: Pemilihan Tetap Dilanjutkan
Duka di Pasar Caringin, Farhan Minta Aparat Kewilayahan Lebih Perhatikan Wilayahnya
Pemkot Bandung dan Kemenkes Bakal Bangun Central Medical Unit di Ujungberung
Pilkades Serentak Lebong 2026, Panitia Tetapkan Nomor Urut dan Deklarasi Damai
102 Siswa SMPN 2 Cisarua Diduga Keracunan MBG, Ketua FJP2 Desak BGN Bongkar Pengawasan SPPG: Siapa Bertanggung Jawab?

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 14:07 WIB

Preseden Buruk Bagi Birokrasi di Kabupaten Bekasi, TP2D Kankangi Lembaga Resmi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 17:26 WIB

Edi Suprapto Kukuhkan Pengurus SWI Kota dan Kabupaten Bandung dalam Rapat Koordinasi

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 07:52 WIB

Pimpred Kabarnusa24: Belum Saatnya Pak Plt !!! Pembentukan TP2D Kabupaten Bekasi Lampaui Batas Kewenangan

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:47 WIB

MUSKOT KORMI Kota Bandung Tetapkan Topan Ardian Saputra sebagai Ketua Definitif

Rabu, 9 September 2026 - 20:34 WIB

THE GAME HAS CHANGED: Perry & Chandra, Karakter Adalah Modal Utama Bisnis di Era Sulit

Minggu, 6 September 2026 - 19:43 WIB

DPD KKJN Jawa Barat 2026-2030 Resmi Terbentuk Komitmen Lahirkan Jurnalis Profesional dan Berintegritas

Rabu, 2 September 2026 - 22:48 WIB

Tiga Nama Berebut Kursi Ketua KADIN Kabupaten Bogor, MUKAB IX Jadi Penentu Arah Dunia Usaha 2026–2031

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:17 WIB

Kang Awang Tegaskan Komitmen LBI Kota Bandung: Bukan Sekadar Kumpul, Tapi Bermanfaat dan Siap Kawal Visi ‘Bandung Utama’

Berita Terbaru