Pameran “AUM di Tengah Realitas Hybrid” Hadirkan Spiritualitas Bali di Ruang Seni Bandung
*Bandung,-Satunews.id* – Bandung kembali menjadi ruang pertemuan seni kontemporer melalui pameran tunggal seniman asal Bali, *I Ketut Adi Candra*, bertajuk _AUM di Tengah Realitas Hybrid_. Pameran dibuka Rabu, 6 Mei 2026, di *Orbital Dago, Jalan Rancakendal Luhur No. 7, Bandung* oleh *Heri Dim*.
Ini menjadi debut I Ketut Adi Candra di hadapan publik seni rupa Bandung. Mengusung tema spiritualitas dan energi meditasi, pameran menampilkan karya abstrak yang dipenuhi simbol _rerajahan_, aksara Bali, dan elemen visual yang dekat dengan tradisi ritual Hindu Bali.
_“AUM atau Om merupakan simbol pengucapan menuju semesta dan Ketuhanan,”_ ujar Adi Candra saat pembukaan. Menurutnya, konsep tersebut menjadi landasan utama dalam proses kreatif yang ia jalani.
Lahir di Gianyar pada 1973 dan menempuh pendidikan di ISI Denpasar, Adi Candra dikenal sebagai pelukis sekaligus _jero mangku_ atau pemangku adat. Perjalanan spiritualnya memberi pengaruh kuat terhadap pendekatan artistik. Bagi Adi Candra, melukis bukan sekadar aktivitas visual, melainkan bagian dari proses meditasi dan pembebasan diri.
_“Melukis adalah bagian dari doa dan energi spiritual. Ada proses perenungan di dalamnya,”_ katanya.
Kurator *Bambang Barnas* menjelaskan, pameran ini memperlihatkan bagaimana seni rupa dapat menjembatani tradisi spiritual dengan praktik seni kontemporer. Karya-karya Adi Candra, kata Bambang, menunjukkan kecenderungan seni nonfiguratif yang tidak hanya mengeksplorasi bentuk, tetapi juga pengalaman batin.
_“Dalam karya-karya ini ada usaha untuk menghadirkan ruang kontemplasi. Lukisan menjadi medium pembebasan diri,”_ ujar Bambang.
Selain lukisan abstrak, pameran juga menampilkan gambar ornamen ritual dan _sanggah_ atau tempat sesaji. Keseluruhan elemen membentuk atmosfer yang memperlihatkan hubungan erat antara seni, tradisi, dan spiritualitas Bali di tengah kehidupan modern.
Bambang juga menyinggung pentingnya dukungan pemerintah terhadap perkembangan seni rupa di Bandung. Ia menilai Bandung memiliki potensi besar sebagai kota seni karena ditopang banyak institusi pendidikan seni rupa, namun masih membutuhkan fasilitas publik seperti galeri dan museum pemerintah.
Pameran _AUM di Tengah Realitas Hybrid_ berlangsung hingga akhir Mei 2026 dan terbuka untuk publik. Kehadiran pameran ini diharapkan memperluas dialog seni rupa kontemporer Indonesia, terutama yang berkaitan dengan relasi antara tradisi, spiritualitas, dan kehidupan modern.
(Red) **



























