Jelang HUT Kemerdekaan RI, Pedagang Bendera Musiman Sepi Pembeli

Satunews.id

- Redaksi

Sabtu, 12 Agustus 2023 - 07:32 WIB

502 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta//  Dari pinggir jalan sampai perkampungan sudah semarak dengan dekorasi perayaan HUT ke-78 Republik Indonesia. Namun, semarak itu tak begitu dirasakan sebagian pedagang bendera musiman. Mereka mengibarkan bendera putih dan pulang kampung lebih awal karena tahun ini sepi pembeli.

Hari sudah menuju tengah malam ketika Asep (30) membongkar gerobak dagangannya di tepi Jalan Raya Panjang, Jakarta Barat, Jumaat (11/8/2023). Pedagang bendera musiman asal Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, ini mau pulang kampung karena lebih banyak buntung daripada untung.

”Tahun ini lebih banyak apes. Capek iya, enggak dapat uang karena sepi,” ujar lelaki yang sudah lima tahun jadi pedagang bendera musiman itu.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Mungkin orang-orang main (beli) online (daring). Online sepertinya lebih murah dari kita-kita (pedagang musiman). Lebih jauh (murah) malah,” kata Triyatno sambil menatap sisa-sisa barang dagangan.

Asep sama seperti pedagang musiman daerah lain yang berkumpul di Jalan Panjang Kebon Jeruk Jakarta Barat. Mereka berdagang dengan sistem bagi hasil.

Si bos menyediakan bambu, bendera merah putih berbagai ukuran, dan gerobak, sedangkan pedagang musiman mengambil untung dari selisih harga. Mereka juga tidak perlu membayar sewa gerobak.

Asep, misalnya, mengambil untung Rp 5.000 sampai Rp 10.000 dari sebatang bambu yang dijual Rp 20.000 sampai Rp 25.000 dan bendera ukuran 90 cm x 60 cm yang dijual Rp 30.000 sampai Rp 40.000.

Bapak tiga anak ini mulai berjualan sejak 31 Juli lalu. Rutenya dari mulai menyusuri jalan raya Panjang ke Kemanggisan, Palmerah, dan paling jauh sampai Tanah Abang.

Saban hari dia berangkat selepas subuh dan pulang setelah maghrib. Dia mendorong gerobak sembari berteriak ”bambu, tiang, bendera” berulang-ulang. Tak lupa dia mengenakan topi dan berkalung handuk untuk mengurangi paaran terik matahari.

Dalam sekali jalan, Asep menghabiskan tiga botol air mineral berukuran 1,5 liter dan dua sampai tiga kali makan agar punya cukup energi pergi pulang.

”Saya enggak kuat lagi. Mending pulang kerja serabutan sambil bantu istri urus sawah milik desa,” ujarnya.

Malam itu selepas merapikan barang dagangan dan mengemas pakaian, Asep bertolak ke terminal bayangan di Slipi untuk pulang ke Bogor.

Asep hanya lulusan SMP di kampungnya. Sebelum bekerja serabutan, dia menggarap sawah milik desa. Namun, seiring waktu harga pupuk tak terjangkau dan harga gabah anjlok.

Alhasil lebih besar pasak daripada tiang. Modal untuk pupuk dan obat semprot hama naik. Sementara hasil panen belum tentu bagus di tengah perubahan iklim, sedangkan kebutuhan hidup tak bisa ditunda pemenuhannya, tiap hari harus dipenuhi, agar bisa terpenuhi kebutuhan hidup keluarganya,

Asep berupaya dengan berbagai cara yang halal, diantaranya berjualan bendera beserta tiang bambu keliling di Jakarta, tapi ternyata berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dirinya dapat keuntungan lumayan, untuk tahun ini rasanya harapan untuk mendapatkan keuntungan seperti tahun sebelumnya, tak bisa diraihnya.

Sosok Asep pedagang bendera musiman merupakan secuil potret belum meratanya kue pembangunan di Tanah Air. Mereka berusaha memanfaatkan momen HUT ke-78 RI agar dapur tetap mengepul.

Data terbaru Profil Kemiskinan di Indonesia yang dirilis Badan Pusat Statistik pada Senin (17/7/2023) menunjukkan, tingkat kemiskinan per Maret 2023 menurun dibandingkan dengan kondisi Maret 2022 dan September 2022.

Angka kemiskinan nasional menurun jadi 9,36 persen atau 25,9 juta orang per Maret 2023. Namun, kondisi itu belum kembali pulih ke level sebelum pandemi Covid-19. Bahkan, tingkat ketimpangan atau rasio gini justru meningkat setelah beberapa waktu sebelumnya sempat menurun (Kompas, 17 Juli 2023).

Sekretaris Utama BPS Atqo Mardiyanto menyebutkan, rasio gini meningkat karena pemulihan ekonomi belum dirasakan secara merata oleh semua lapisan masyarakat. Pada periode September 2022-Maret 2023, ”kue” pertumbuhan ekonomi yang dirasakan 40 persen penduduk menengah-bawah lebih kecil porsinya dibandingkan kelompok masyarakat 20 persen teratas.

HUT ke-78 RI mengusung tema besar ”Terus Melaju untuk Indonesia Maju”. Semoga laju dan kemajuan itu dirasakan seluruh lapisan masyarakat.

(Dame)

Berita Terkait

 Cileungsi Bergemuruh Bupati Bogor -TNI Ramaikan Bubble Fun Run 2026
Tanggul Kritis Berujung Jalan Putus Berdampak Lumpuhnya Aktifitas Warga
Peran Aktif KKN INUTAS Warnai Isra Mi’raj dan Pelantikan DKM Cikondang
Wabup Bogor H. Jaro Ade Lakukan Jum’at Keliling, Teguhkan Syukur dan Persatuan di Cileungsi
Desa Gunung Putri Naik Kelas: Data Presisi Jadi Senjata Baru Pembangunan Bogor
Pemerintah Kota Cimahi Raih UHC Awards 2026 Kategori Pratama
Perang Melawan TBC Dimulai dari Desa: GunungSari Tegas Nyatakan Desa Siaga TBC
Amanah Anggaran dan Air Mata Pemimpin: Musdes LPJ Cikahuripan Sarat Nilai Ibadah

Berita Terkait

Minggu, 1 Februari 2026 - 09:59 WIB

Pentahelix Dayeuhkolot Evaluasi Kinerja dan Siapkan Program Kerja 2026

Jumat, 30 Januari 2026 - 16:16 WIB

Kepala UPT Sapras Bale Endah, Estapet Lakukan Monitoring dan Perbaikan Drainase

Kamis, 29 Januari 2026 - 13:54 WIB

Catat Prestasi Tata Kelola, Pemkab Bandung Raih Nilai SPIP dan MRI Tertinggi se-Jabar

Kamis, 29 Januari 2026 - 13:35 WIB

Cuaca Ekstrem, Bupati Bandung Minta Warga Waspada Banjir hingga Angin Kencang

Rabu, 28 Januari 2026 - 16:12 WIB

Kang DS : Pak Presiden Hidupkan Kembali Gagasan Soemitro Lewat Koperasi Merah Putih

Selasa, 27 Januari 2026 - 19:32 WIB

POR DPRD Terselenggara Tanpa Suntikan APBD Kabupaten Bandung

Selasa, 27 Januari 2026 - 16:56 WIB

BBWS Apresiasi Peran Penting Pentahelix dalam Penanggulangan Banjir Dayeuhkolot

Selasa, 27 Januari 2026 - 12:52 WIB

Bupati Kang DS, Berikan Piagam dan Reward Terhadap WP Yang Tepat Waktu dan Tepat Jumlah

Berita Terbaru