Bandung, – Satunews.id.
Peringatan Sumpah Pemuda tidak dimaknai sekadar seremoni tahunan setiap 28 Oktober. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi panggilan untuk kembali meneguhkan kekuatan bangsa yang terletak pada persatuan di tengah keberagaman.
Semangat tersebut tergambar kuat dalam acara *Gelora Sumpah Pemuda* yang diselenggarakan Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) Jawa Barat di Gedung Pusat Kebudayaan Indonesia Tionghoa, Jalan Nana Rohana, Kota Bandung, Minggu (1/11/2026).
Acara dihadiri berbagai tokoh lintas budaya dan instansi. Tampak hadir Budayawan Sunda *Abah Alam*, Seniman dan Bugalakon Sunda *Aditya Barly*, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jawa Barat *Iendra Sofyan*, perwakilan Dinas Sejarah TNI AD *Kolonel Welly*, Ketua Gema Inti Jabar *Herman Setiawan*, KeTum DRLP Rizki*. serta tamu undangan lainnya.
Ketua Gema Inti Jabar, Herman Setiawan, selaku ketua pelaksana mengatakan kegiatan dikemas dalam empat rangkaian utama yang sarat edukasi. Rangkaian tersebut meliputi kunjungan edukatif ke Museum Kebudayaan Tionghoa, pembacaan Deklarasi Sumpah Pemuda, atraksi seni Barongsai, serta kolaborasi seni musik Sunda dan Tionghoa.
Menurut Herman, peserta diajak untuk menyelami kembali jasa *Sie Kong Lian*, tokoh pemuda Tionghoa yang berperan besar memfasilitasi tempat berkumpulnya para pemuda dari berbagai daerah pada 1928 untuk merumuskan Sumpah Pemuda.
“Melalui perpaduan musik Sunda dan Tionghoa, kita ingin menunjukkan dua budaya yang berbeda karakternya dapat berpadu menjadi karya yang indah dan harmonis. Kita tidak harus menjadi sama untuk bisa berjalan bersama,” ujar Herman.
*Pesan Toleransi dari Aditya Barly*
Budayawan Sunda Aditya Barly menegaskan akulturasi Sunda-Tionghoa sudah mengakar lama di masyarakat. Ia menilai peringatan Sumpah Pemuda harus menjadi pengingat jati diri keindonesiaan yang lahir dari keberagaman.
“Sumpah Pemuda itu bukan hanya sejarah Sunda, Jawa, atau Tionghoa, tapi sejarah kita semua. Dalam falsafah Sunda ada Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Di sinilah maknanya, kita saling mengasah kebudayaan, saling mengasihi dalam perbedaan, dan saling mengasuh toleransi,” tutur Aditya Barly.
Ia menambahkan kolaborasi Barongsai dan Kacapi Suling menjadi bukti perbedaan bisa melahirkan harmoni. “Tugas kita sebagai budayawan adalah menjaga agar harmoni ini tidak sumbang oleh isu yang memecah belah,” tegasnya.
*Apresiasi dan Penataan Kawasan Pasir Koja*
Kadisparbud Jabar Iendra Sofyan memberikan apresiasi tinggi kepada yayasan yang membangun museum. Ia menilai museum tersebut tidak hanya merekam sejarah Jawa Barat, tetapi juga sejarah Indonesia yang menampilkan perjalanan akulturasi serta kontribusi etnis Tionghoa di bidang ekonomi dan politik.
“Saya apresiasi setinggi-tingginya untuk yayasan yang membangun museum ini. Ini adalah sejarah Indonesia, tidak hanya Jawa Barat. Peran orang Tionghoa sangat besar, konsisten berdagang dan membantu perjuangan bangsa, berbeda dengan bangsa Eropa yang datang berdagang lalu ingin menjajah,” ujar Iendra.
Iendra juga mengungkapkan adanya arahan langsung dari Gubernur Jawa Barat terkait penataan kawasan Pasir Koja yang akan dikentalkan dengan sentuhan arsitektur Tionghoa. “Sesuai arahan Pak Gubernur, kawasan Pasir Koja ke depan akan kita tata dengan sentuhan Tionghoa, mulai dari gerbang tol hingga penataan PKL di sepanjang akses menuju museum. Ini sebagai wujud penghargaan atas toleransi dan keberagaman di Kota Bandung,” jelasnya.
*Catatan Sejarah Harus Objektif*
Sementara itu, Kolonel Welly dari Dinas Sejarah TNI AD menekankan pentingnya pelurusan sejarah secara objektif kepada generasi muda.
“Banyak yang tidak tahu bahwa pemuda Tionghoa seperti Sie Kong Lian punya peran vital memfasilitasi tempat berkumpulnya pemuda pada 1928. Ini bukti nyata bahwa kemerdekaan Indonesia diperjuangkan oleh semua suku dan etnis tanpa terkecuali. Tugas kami memastikan fakta ini tidak hilang dan terus menjadi edukasi nasionalisme,” kata Kolonel Welly.
Ia menambahkan semangat Sumpah Pemuda harus menjadi benteng dari intoleransi. “Kalau dulu pemuda bersatu melawan penjajah, sekarang pemuda harus bersatu melawan intoleransi dan hoaks yang memecah belah. Museum ini adalah salah satu benteng sejarah untuk merawat persatuan itu,” pungkasnya.

-*nengsih*


























