Vox Point Indonesia Gelar DISPOL Nasional Diskusi Kebangsaan “Toleransi Bukan Tawaran Tapi Kewajiban”

- Redaksi

Sabtu, 9 Agustus 2025 - 16:56 WIB

5045 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Vox Point Indonesia Gelar DISPOL Nasional Diskusi Kebangsaan “Toleransi Bukan Tawaran Tapi Kewajiban”

Jakarta || Satunews.id

Vox Point Indonesia menggelar Diskusi Nasional (Dispol Kebangsaan) Seri ke-50 dengan tema “Toleransi Bukan Tawaran, Tapi Kewajiban” pada Jumat 8 Agustus 2025.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketua Umum Vox Point Indonesia, Yohanes Handojo Budhisedjati, menyampaikan dalam sambutannya dengan mengundang Prof. Mahfud MD dan Pdt. Dr. Ferdinand Watti, M.Th., M.Pd.K. hadir sebagai narasumber utama, membawa perspektifnya terkait toleransi di Indonesia yang saat ini sering terjadi peristiwa intoleran di berbagai daerah.

Diskusi nasional ini bertujuan untuk mencari akarmasalah,mengidentifikasi penyebab intoleransi di Indonesia,
merumuskan langkah nyata, nenemukan solusi untuk mengatasi intoleransi dan memperkuat komitmen kebangsaan.

Ketua Umum Vox Point Indonesia Yohanes Handojo Budhisedjati mengajak masyarakat untuk menjadikan toleransi sebagai tanggung jawab bersama

Vox Point Indonesia sendiri memiliki komitmen untuk membentuk kader yang mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Organisasi ini telah berkembang pesat dengan kehadiran di 29 provinsi, 76 kabupaten/kota, dan 9 negara.

Dengan tema “Toleransi Bukan Tawaran, Tapi Kewajiban”, diharapkan diskusi ini dapat memperteguh komitmen bersama dalam menjaga keutuhan NKRI dari tindakan-tindakan intoleransi dan politisasi agama .

 

Dalam paparannya Prof. Mahfud MD, sebagai salah satu narasumber menyampaikan pandangan pentingnya toleransi dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

Prof. Mahfud MD membahas tentang peristiwa intoleran yang terjadi di Sukabumi, seperti penutupan atau penyerangan terhadap tempat ibadah minoritas, sebagai contoh nyata tantangan toleransi di Indonesia.

Prof. Mahfud MD menekankan bahwa toleransi adalah dasar kebersatuan bangsa Indonesia, karena Indonesia adalah negara yang beragam dengan berbagai suku, agama, ras, dan bahasa.
Toleransi memungkinkan masyarakat untuk hidup berdampingan dan bekerja sama meskipun memiliki perbedaan.

“Bhineka Tunggal Ika adalah landasan filosofis Indonesia yang mengakui dan menghargai perbedaan sebagai kekuatan bangsa. Semboyan ini menjadi penting dalam membangun kesadaran akan pentingnya toleransi, tutur Prof. Mahfud MD.

Prof. Mahfud MD juga membahas tentang ancaman radikalisme yang dapat mengancam toleransi dan keutuhan bangsa. Radikalisme seringkali menggunakan sentimen agama atau ideologi untuk membenarkan kekerasan dan intoleransi terhadap kelompok lain

“Penyebab intoleransi adalah protes terhadap ketidakadilan. Ketika masyarakat merasa tidak puas dengan kondisi sosial, ekonomi, atau politik, mereka mungkin menjadi rentan terhadap ideologi radikal yang menjanjikan perubahan drastis,” kata Mahfud MD

Sementara itu Pdt. Dr. Ferdinand Watti, M.Th., M.Pd.K. yang menjadi Narasumber kedua menyampaikan berapa peristiwa kasus intoleran di berbagai wilayah, seperti di Sukabumi, Depok, Riau, Kalimantan, Padang, Garut, Deliserdang dan Kediri.

Pdt. Dr. Ferdinand Watti, M.Th., M.Pd.K. yang sering turun kelapangan mengkritisi sikap pihak aparat keamanan yang tidak tegas terhadap kejadian peristiwa intoleran, padahal menurutnya jika pihak aparat tegas dalam penindakan maka peristiwa intoleran tidak akan terjadi dimana- mana, ujarnya.

Pdt. Dr. Ferdinand Watti, M.Th., M.Pd.K. mengatakan bahwa “pemerintah menjamin kebebasan beragama berdasarkan Pancasila Sila ke1 dan Undang-Undang Dasar 1946 Pasal 29 yang menjamin Kebebasan beragama” tuturnya.

Dalam diskusi tesebut hadir Menteri Agama (Menag) Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA.

Menag menegaskan komitmennya untuk mengintegrasikan kesadaran lingkungan dengan pendidikan agama di Indonesia melalui konsep ekoteologi.

Gagasan ini akan menjadi pendekatan baru yang memadukan nilai-nilai teologis dengan tanggung jawab menjaga kelestarian alam dalam kurikulum pendidikan keagamaan.

Menurut Nasaruddin, ekoteologi bukan sekadar materi tambahan, melainkan sebuah paradigma yang mengaitkan pandangan teologis-filosofis dalam ajaran agama dengan kesadaran ekologi.

Pendekatan ini diyakini mampu menjawab tantangan zaman, khususnya krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan.

“Sejak kecil kita harus belajar bagaimana menyelamatkan lingkungan kita,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Menag dalam Diskusi Nasional Seri ke-50 yang digelar Vox Point Indonesia di Jakarta, dengan mengusung tema “Toleransi Bukan Tawaran, Tapi Kewajiban!”

Dalam forum ini, Menag menekankan bahwa isu lingkungan, toleransi, dan nasionalisme akan menjadi tiga fokus utama pengembangan pendidikan agama dan keagamaan di masa depan.

Menag menjelaskan bahwa integrasi ekoteologi ke dalam kurikulum agama bertujuan menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari ibadah.

“Pelestarian alam tidak hanya menjadi tanggung jawab moral, tetapi juga bagian dari pengamalan ajaran agama,” tegasnya.

(Red)

Berita Terkait

KPK Tahan 4 Tersangka Korupsi Iklan Bank BJB, Total Kerugian Masih Dihitung
Konferensi pers Sidang Isbat penetapan awal Zulhijjah 1447 H yang digelar di Kantor Kemenag
Forkoda Jabar Geruduk DPD RI: Moratorium Pemekaran Harus Dicabut, Jabar Rugi Rp55 T Dibanding Jatim
Bupati OKU Gandeng Danantara, RDF Plant Jadi Solusi Sampah
Ukir Prestasi Tingkat Nasional, Bupati OKU dan BPR Baturaja Bawa Pulang 3 Trofi TOP BUMD 2026
DPP Pembasmi Investasi Milyaran Rupiah untuk Aplikasi Hallo Law
Komisi I DPR RI: Waspada Eskalasi Konflik Israel-AS dan Iran
Modus Hindari Pembayaran THR, Jangan Ada Pemecatan Karyawan di Bulan Ramadan!

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 16:26 WIB

Renovasi SDN 026 Bojongloa Dimulai, Pemkot Pastikan Hak Pendidikan Siswa Tetap Terjaga

Senin, 7 September 2026 - 16:00 WIB

Pemkot Bandung Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Abu Vulkanik, Warga Diimbau Tetap Waspada

Senin, 7 September 2026 - 15:07 WIB

471 KPM Desa Situsari Terima Bantuan Beras, Kades Dahlan: Harus Tepat Sasaran dan Benar-Benar Bermanfaat

Senin, 7 September 2026 - 14:34 WIB

WASPADA DEBU VULKANIK! Pemdes Jonggol Ingatkan Warga Lindungi Diri dan Keluarga dari Potensi Sebaran Abu Gunung Anak Krakatau

Senin, 7 September 2026 - 13:27 WIB

Delapan Bandara Terdampak Abu Vulkanik, Kertajati Disiapkan Jadi Alternatif Penerbangan

Minggu, 6 September 2026 - 21:27 WIB

Abu Vulkanik Anak Krakatau Capai Bandung, Disdik Wajibkan Masker di Sekolah

Minggu, 6 September 2026 - 21:10 WIB

BPBD Bandung Latih Warga Rusunawa Cingised Hadapi Bencana Lewat Simulasi Evakuasi

Minggu, 6 September 2026 - 20:56 WIB

Abu Vulkanik Anak Krakatau Masuk Bandung, Pemkot Siapkan Langkah Mitigasi

Berita Terbaru