Dies Natalis ke-60 KOHATI, BADKO HMI Jabar Gaungkan Perempuan Berdaya dari Rooftop DPRD
Satunews.id, Kota Bandung – Puncak peringatan Dies Natalis ke-60 Korps HMI-Wati (KOHATI) di Jawa Barat dikemas beda. Bertempat di Rooftop DPRD Jawa Barat, BADKO HMI Jabar menggelar talkshow bertajuk Jabar Women Empowerment Movement, Jumat (18/9/2026).
Acara yang diusung dengan konsep santai “ngopi di rumah sendiri” tersebut dihadiri ratusan kader KOHATI dari berbagai cabang se-Jawa Barat. Pemilihan Gedung DPRD sebagai lokasi acara disebut sebagai pesan simbolik agar perempuan berani masuk dan terlibat dalam ruang pengambilan kebijakan.

Ketua Pelaksana, Zahrotul, mengatakan perayaan 60 tahun KOHATI bukan sekadar seremoni tahunan. Momentum ini, kata dia, menjadi ajang refleksi untuk memperkuat soliditas dan jaringan kader HMI-Wati di Jawa Barat.
Ketua Umum KOHATI Badko Jabar, Hana Muhamad, menegaskan KOHATI harus bertransformasi. Jika selama ini wacana kesetaraan gender terus digaungkan, kini saatnya beralih pada aksi pemberdayaan yang berdampak nyata.
“Perempuan HMI jangan hanya menjadi pelengkap organisasi, tapi harus mampu memberi dampak konkret bagi masyarakat,” ujar Hana.
Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum BADKO HMI Jawa Barat, Siti Nurhayati Barsasmy. Ia menyoroti masih rendahnya akses pendidikan lanjutan bagi perempuan. Meski partisipasi pendidikan formal perempuan di Jabar mengalami kenaikan, faktanya banyak yang terhenti hanya sampai jenjang SMA.
Untuk membedah isu tersebut, panitia menghadirkan tiga tokoh perempuan inspiratif yakni Dr. Hj. Atalia Praratya, M.I.Kom., Dr. Lely Wahyuniar, M.Sc., dan Dr. Hj. Teti Ratnasih, M.Ag.
Dr. Lely Wahyuniar yang juga Ketua Satgas PPKS UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengutip teori pemberdayaan dari pakar London, Prof. Naila Kabeer. Menurutnya, perempuan berdaya adalah perempuan yang diberi akses, modal, dan kemampuan untuk menentukan pilihan hidup terbaik.

Ia menilai stigma patriarki yang masih kuat menempatkan perempuan hanya di sektor domestik menjadi penghambat utama. Akibatnya, dalam keluarga laki-laki lebih diprioritaskan untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
“Padahal kompetensi perempuan sama dengan laki-laki. Dalam pandangan Imam Al-Ghazali, kata ummah berasal dari kata umm yang berarti ibu. Artinya peradaban lahir dari seorang perempuan,” jelasnya.
Di era digital, Lely menyebut perempuan kini bisa berdaya dari rumah untuk dunia. Namun ia mengingatkan agar media sosial tidak hanya dipakai untuk pencitraan.
Sementara itu, Dr. Hj. Teti Ratnasih menekankan pentingnya kepemimpinan diri atau self-leadership. Perempuan berdaya, kata dia, harus mampu memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain, dengan modal growth mindset dan meneladani sifat Fathonah, Amanah, Siddiq, dan Tabligh.

Diskusi mengerucut pada isu kesehatan reproduksi. Berbekal pengalaman 21 tahun mengabdi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk program HIV, Lely membongkar fakta masih tingginya pernikahan dini akibat putus sekolah yang berujung pada tingginya angka kematian ibu.
Ia pun mengajak KOHATI untuk aktif berkolaborasi dengan kampus, pemerintah daerah, dan Forkopimda untuk mengolah data bersama guna menekan angka pernikahan dini dan pencegahan HIV di kalangan remaja.
Talkshow ditutup dengan kesimpulan bahwa perempuan berdaya adalah pilihan yang harus diperjuangkan. Perempuan ideal adalah sosok yang mandiri, tidak bergantung pada orang lain, dan mampu berdaya dari rumah untuk dunia.
(**)


























