Dinkes Kota Bandung Siapkan Standby Medis 24 Jam untuk Amankan Konvoi Juara Persib
*BANDUNG* – Dinas Kesehatan Kota Bandung memperkuat kesiapsiagaan medis menghadapi konvoi perayaan juara Persib Bandung pada 23-24 Mei 2026. Langkah ini dimatangkan melalui rapat koordinasi lintas sektor yang digelar di Hotel Grandia Bandung, Kamis (21/5/2026).
Rakor melibatkan Polrestabes Bandung, Kementerian Kesehatan RI, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, PSC 119, BPBD, rumah sakit, Puskesmas, serta komunitas relawan kegawatdaruratan termasuk relawan Bobotoh. Fokus pembahasan diarahkan pada sistem rujukan, pos kesehatan, pembiayaan pasien, dan pembagian peran di lapangan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bandung, Dr. Dadan Mulyana, mengatakan seluruh unsur telah dilibatkan untuk memastikan respons cepat jika terjadi insiden.
“Berhubungan dengan BPBD, tim relawan Bobotoh juga ya. Tetap jaga kesehatan yang pertama, masing-masing. Terima kasih atas partisipasinya, mudah-mudahan kita sama-sama bisa mengawal konvoi kemenangan Persib ini dengan baik. Sekali lagi harapannya kita tidak berharap ada satu kejadian apapun, tapi kalaupun itu terjadi Insyaallah kita siap menangani,” kata Dadan.
Untuk mengamankan kesehatan peserta dan penonton, Dinkes menetapkan lima langkah utama. Pertama, Puskesmas di sepanjang jalur konvoi diminta buka 24 jam pada 23-24 Mei. Titik siaga meliputi Puskesmas Pasundan, Sukapura, Sukamiskin, Karang Pamulang, Pasir Kaliki, Balai Kota, dan beberapa Puskesmas lain.
Kedua, floating ambulance akan mengawal iring-iringan konvoi. PSC 119 ditunjuk sebagai pusat komando sekaligus titik kumpul relawan medis. Ketiga, relawan dari PSC 119, BPBD, dan komunitas akan didata. Penggunaan ID card khusus masih dikaji agar memudahkan identifikasi.
Keempat, penanganan pasien mengikuti skema BPJS dan Jasa Raharja sebagai prioritas. Jika tidak aktif, pasien akan diarahkan ke Jamkesda atau difasilitasi melalui lembaga filantropi kesehatan. Kelima, masyarakat diimbau merayakan secara tertib, tidak membawa bayi dan lansia ke area padat, serta segera pulang setelah acara untuk menghindari kelelahan.
Narasumber dari Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI menambahkan, identifikasi potensi risiko sejak awal menjadi kunci agar respons di lapangan berjalan efektif. Pengalaman penanganan gempa Cianjur dan insiden Kanjuruhan disebut menjadi bahan evaluasi.
Pihak rumah sakit memastikan tidak ada penahanan pasien. Yang dilakukan hanya serah terima informasi dan pendampingan agar kronologis penanganan terdokumentasi dengan baik.
Dinkes Kota Bandung juga akan melanjutkan koordinasi teknis dengan panpel Persib terkait kebutuhan layanan kesehatan di GBLA dan titik-titik keramaian lainnya selama rangkaian selebrasi.
(Neng sih) **



























