Dalam Islam, rida suami menjadi jalan ampunan bagi istri. Rumah tangga bukan sekadar urusan materi, tapi ladang saling menyelamatkan dari neraka.
*Bandung* – Perceraian sering kali bermula dari kekecewaan yang menumpuk. Seorang istri merasa lelah menanggung beban ekonomi karena suami tidak bekerja. Ia ingin berpisah. Namun jawaban seorang ulama besar mengubah cara pandangnya.
Kisah ini disampaikan KH. Maimun Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen. Seorang ibu datang kepadanya mengeluh tentang suami yang tidak punya pekerjaan, tidak kreatif, dan dianggap tidak bisa menjadi pemimpin bagi anak-anaknya.
“Bagaimana nanti masa depan anak-anak saya kalau ayahnya seperti itu? Saya harus mencari nafkah capek-capek, sementara dia santai saja di rumah,” ujar sang ibu.
Jangan Salah Menempatkan Fungsi
Menjawab kegelisahan itu, KH. Maimun mengibaratkan suami seperti kulkas.
“Jika kulkas dipakai sebagai lemari pakaian, ya jelas tidak akan puas. Tidak muat banyak, tidak ada gantungan, tidak bisa dikunci, malah boros listrik. Nah, itulah jika sebuah produk digunakan tidak sesuai fungsinya,” ujarnya.
Menurut beliau, banyak istri yang menuntut suami menjalankan fungsi sekunder, bahkan tersier, sementara fungsi primernya justru dilupakan.
“Fungsi primer suami adalah menjadi tameng bagi dosa-dosa istrinya di neraka. Saat seorang istri memperoleh rida suaminya, maka dosa-dosanya diampuni oleh Allah karena keridaan itu,” jelas KH. Maimun.
Beliau mengutip hadis sahih:
“Seorang istri yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya rida kepadanya, maka ia akan masuk surga.” [HR. Tirmidzi]
Nafkah Hati Lebih Utama dari Nafkah Perut
KH. Maimun menegaskan, jika suami tidak bekerja, hal itu tidak menghapus statusnya sebagai suami. Selama akad nikah masih terjaga, ia tetap menjadi perisai bagi istrinya di akhirat.
“Jika ibu yang mencari nafkah, itu tidak masalah. Semua harta yang ibu berikan untuk anak dan rumah tangga dihitung sebagai sedekah yang sangat mulia, bahkan lebih mulia daripada sedekah kepada anak yatim,” katanya.
Sebab sedekah kepada keluarga adalah sedekah yang paling utama, karena mereka terikat akad nikah dan menjadi bagian dari diri sendiri.
Teladan Istri Fir’aun
Menjawab pertanyaan tentang suami yang zalim atau melakukan KDRT, KH. Maimun mengingatkan bahwa kezaliman akan kembali kepada pelakunya.
“Pernah dengar istri Fir’aun masuk surga? Apa kurang zalim Fir’aun? Namun istrinya, Asiyah, tetap bersabar. Doa terakhirnya diabadikan dalam Al-Qur’an:
‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu di surga, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya.’ [QS. At-Tahrim: 11],” ujarnya.
Islam tidak menutup jalan bagi istri yang mengalami kezaliman berat. Namun selama masih ada ruang untuk bersabar dan memperbaiki, menjaga akad nikah adalah pilihan yang lebih selamat.
Pengingat untuk Generasi Muda
Kisah ini menjadi pengingat penting bagi muslim dan muslimat, baik yang baru menikah maupun yang sudah lama berumah tangga.
Bagi pemuda-pemudi yang akan menikah, carilah pasangan yang bisa menjaga agamamu. Bagi yang sudah berkeluarga, koreksilah harapan: apakah kita sudah membantu pasangan menjalankan fungsi primernya menuju surga?
Perkawinan dalam Islam adalah _mitsaqan ghaliza_, perjanjian yang berat. Ia bukan hanya tempat berbagi nafkah, tapi tempat saling menyelamatkan dari api neraka.
“Jangan jadikan rumah tangga hanya arena menuntut hak. Jadikan ia madrasah pertama, tempat suami belajar menjadi pemimpin yang bertanggung jawab, dan istri belajar menjadi jalan ampunan bagi dirinya sendiri,” tutup KH. Maimun.
*Redaksi Satu News*
Disarikan dari kisah KH. Maimun Zubair untuk bahan renungan rumah tangga umat Islam.


























