AP: Dari satu aplikasi ke aplikasi lain, bantuan sulit diakses, pinjol selalu satu klik jaraknya
*BEKASI* – Di salah satu gang sempit wilayah Bekasi, ada kontrakan 3×4 meter yang menjadi tempat berteduh seorang pekerja outsourcing. Sebut saja *AP*.
Di luar, ia dikenal tetangga sebagai pekerja yang rajin berangkat pagi-pagi. Di dalam, ia berjuang sendirian menghadapi lingkaran utang yang datang dari layar ponselnya.
Ini bukan kisah tentang kemalasan. Ini kisah tentang bagaimana seseorang bisa jatuh pelan-pelan, ketika penghasilan tidak cukup, bantuan tidak datang, dan satu-satunya yang “memperhatikan” adalah aplikasi pinjam uang online.
*Dimulai dari Kebutuhan Mendesak*
AP berusia 47 tahun. Dulu ia bekerja serabutan sebagai pekerja outsourcing di perusahaan swasta. Pendapatan tidak menentu. Sekitar 2 tahun lalu, istrinya sakit dan harus bolak-balik ke puskesmas. BPJS ada, tapi biaya transportasi, obat di luar tanggungan, dan kebutuhan sehari-hari tetap harus dicari.
“Waktu itu saya butuh 1,5 juta cepat. Malu pinjam ke teman kerja. Lihat iklan di HP, cair dalam 10 menit. Saya coba,” ujarnya pelan saat ditemui di teras kontrakan.
Pinjaman pertama lunas, tapi telat 3 hari. Bunga dan denda langsung menumpuk. Ketika jatuh tempo pinjaman kedua datang, gajinya belum cair. Ia ambil pinjaman di aplikasi lain untuk menutup yang pertama. Pola itu berulang.
*Hidup dari Pinjol ke Pinjol*
Hari-hari AP kini diisi dengan notifikasi. Pagi bangun, buka HP, cek jatuh tempo. Siang kerja, sore mikir cara cari uang untuk bayar bunga. Malam, kadang tidak bisa tidur karena telepon dari nomor tidak dikenal.
Ia menghitung, pernah aktif meminjam di 7 aplikasi sekaligus. Total utang pokok sekitar 8 juta, tapi dengan bunga dan denda, tagihan yang harus dibayar bisa menyentuh 18 juta.
“Gaji saya sebulan kalau lagi banyak paling 2,5 juta. Mana cukup. Jadi saya gali lubang tutup lubang. Dari pinjol A bayar pinjol B, besoknya pinjam lagi di C,” katanya.
Yang membuatnya paling terpukul bukan besarnya utang, tapi rasa malu. Beberapa kali penagih menghubungi kontak darurat yang ia isi waktu daftar. Nomor keluarga, teman kerja, bahkan ketua RT.
“Saya merasa mempermalukan keluarga. Tapi saya tidak tahu harus lari ke mana,” ujarnya.
*Bantuan Tidak Sampai, Pinjol Selalu Ada*
AP mengaku pernah mencoba mengurus bantuan sosial ke kelurahan. Syaratnya banyak, antreannya panjang, dan ia tidak punya waktu karena harus kerja.
“Orang yang kerja harian itu waktunya habis buat bertahan hidup. Nggak sempat ngurus berkas,” katanya.
Sementara itu, aplikasi pinjol selalu ada. Iklannya muncul di mana-mana. Prosesnya cepat, tidak butuh jaminan, tidak perlu ketemu orang. Bagi orang yang terdesak, itu seperti uluran tangan. Padahal setelah digenggam, rasanya menjerat.
*Antara Ikhtiar dan Rasa Lelah*
Meski begitu, AP tidak berhenti berusaha. Ia masih bekerja sebagai pekerja outsourcing, meski upah yang diterima tidak sepadan dengan beban hidup dan utang yang menumpuk.
Kini ia sedang mencoba negosiasi restrukturisasi utang dengan beberapa aplikasi. Ia juga mulai mencatat semua pemasukan dan pengeluaran, sesuatu yang dulu tidak pernah ia lakukan.
*Catatan untuk Kita Semua*
Kisah AP bukan satu-satunya. Di Bekasi, Bandung, dan kota-kota lain, ada ratusan ribu pekerja informal dan outsourcing yang hidupnya bersinggungan dengan pinjol ilegal maupun legal yang bunganya mencekik. Mereka bukan pemalas. Mereka adalah orang-orang yang jatuh karena tidak ada jaring pengaman saat tertimpa masalah.
Pemerintah sudah berulang kali mengingatkan bahaya pinjol ilegal. Tapi di lapangan, yang dibutuhkan warga bukan hanya imbauan. Mereka butuh akses bantuan cepat, prosedur yang tidak berbelit, dan literasi keuangan yang sampai ke akar rumput.
Sampai itu datang, akan selalu ada AP lain di gang-gang sempit. Pekerja yang lebih dulu diperhatikan pinjol, daripada diperhatikan negara. Dibuat oleh AP. Lewat chat WA ke Redaksi, pada Minggu, (17/5/26).
(Red) **



























