Politik dan Budaya di Kabupaten Bandung Barat: Perspektif Abah Setia tentang Kepemimpinan dan Masa Depan

satu news 01

- Redaksi

Senin, 12 Agustus 2024 - 18:33 WIB

5017 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Satunews.id

Kabupaten Bandung Barat// Selasa, 13 Agustus 2024, Di tengah krisis politik yang melanda berbagai daerah, terutama di Kabupaten Bandung Barat (KBB), Abah Setia, seorang tokoh seniman dan budayawan yang dikenal luas, memberikan pandangannya tentang hubungan antara politik dan budaya. Kabupaten Bandung Barat, yang dikenal dengan potensi industri dan iklim bisnis yang menjanjikan, sering kali menghadapi masalah kepemimpinan yang tidak stabil dan sering kali tersandung kasus hukum. Dalam wawancara eksklusif ini, Abah Setia menguraikan beberapa poin penting mengenai isu tersebut.

Budaya dalam Politik

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Abah Setia, budaya seharusnya menjadi landasan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk politik. “Budaya adalah bagian integral dari kehidupan manusia yang mengandung nilai-nilai kearifan. Ia seharusnya mengangkat diri kita ke arah yang lebih baik,” jelas Abah Setia. Ia menegaskan bahwa politik yang tidak berbudaya sering kali menghasilkan kepemimpinan yang tidak bertanggung jawab. Di KBB, masalah ini terlihat jelas ketika para pemimpin cenderung memprioritaskan kepentingan pribadi ketimbang kesejahteraan masyarakat.

Krisis Kepemimpinan di KBB

Salah satu pertanyaan besar yang sering muncul adalah mengapa para pemimpin di KBB tidak dapat bertahan lama dan sering terjerat masalah hukum. Abah Setia menyebutkan bahwa fenomena ini tidak terlepas dari budaya politik yang ada. “Politik kita seringkali dikuasai oleh budaya ‘asal bapak senang’. Ini menciptakan lingkungan di mana para pemimpin tidak merasa perlu bertanggung jawab terhadap masa depan masyarakat,” ungkapnya. Dalam konteks KBB, hal ini berarti bahwa pemimpin lebih fokus pada kepentingan jangka pendek dan keuntungan pribadi daripada membangun dasar yang kokoh untuk masa depan daerah.

Dampak terhadap Masyarakat

Abah Setia juga menggarisbawahi bahwa akibat dari praktik politik yang tidak berbudaya ini, masyarakat sering menjadi korban. “Ketika pemimpin tidak memiliki rasa tanggung jawab, masyarakat yang menjadi korban. Mereka harus menghadapi ketidakpastian dan dampak negatif dari keputusan yang dibuat tanpa mempertimbangkan masa depan mereka,” katanya. Di KBB, ketidakstabilan kepemimpinan dan masalah hukum yang melibatkan pejabat publik berkontribusi pada ketidakpastian ekonomi dan sosial bagi penduduk.

Kebutuhan untuk Perubahan

Untuk mengatasi masalah ini, Abah Setia menekankan perlunya perubahan mendasar dalam cara politik dijalankan. Ia mengusulkan bahwa pendidikan budaya dan nilai-nilai moral harus menjadi bagian dari pendidikan politik bagi para calon pemimpin. “Kita harus mengajarkan bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang berdasarkan pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, bukan sekadar memenuhi ambisi pribadi,” jelasnya. Dengan cara ini, diharapkan akan lahir pemimpin-pemimpin yang lebih bertanggung jawab dan berkomitmen pada kesejahteraan masyarakat.

Potensi Industri dan Kesempatan

Walaupun menghadapi tantangan, Abah Setia percaya bahwa KBB memiliki potensi besar dalam bidang industri dan bisnis. “Iklim bisnis di sini memang menjanjikan, tetapi kita tidak bisa mengabaikan pentingnya kepemimpinan yang baik. Dengan dukungan budaya yang kuat dan kepemimpinan yang bertanggung jawab, potensi ini dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Dalam penutup wawancara, Abah Setia mengingatkan bahwa untuk mencapai perubahan positif di KBB, dibutuhkan kerjasama antara berbagai pihak, termasuk masyarakat, pemimpin, dan sektor industri. Budaya yang kuat dan nilai-nilai yang baik harus menjadi pijakan untuk menciptakan politik yang lebih baik dan berkelanjutan.

Melalui wawancara ini, jelas terlihat bahwa Abah Setia memiliki visi yang mendalam mengenai hubungan antara politik dan budaya. Dengan memahami dan menerapkan prinsip-prinsip budaya yang baik, diharapkan masalah kepemimpinan di KBB dapat diatasi dan daerah ini dapat mencapai potensi maksimalnya.

**Redaksi**

Berita Terkait

71 Tahun KAA: Bandung Teguhkan Diplomasi Budaya dan Status Warisan Dunia
Gerak Cepat Polsek Muara Satu, HP Mahasiswa Hilang di Kos Berhasil Ditemukan dalam Hitungan Jam
MUSDES Ciangsana 2026–2031 Tetapkan Surya Atmaja Kembali Pimpin MUI Desa, Perkuat Sinergi Keagamaan dan Pemerintah
BLT-DD 2026 Disesuaikan, 82 Warga Desa Lulut Tetap Terima Bantuan dengan Prioritas Lansia
Lantik Ketua dan wakil Ketua Baznas OKU, Teddy: Langsung Kerja Jangan Banyak Retorika BATURAJA – Bupati Ogan Komering Ulu
Jumsih dan Pengajian Rutin, Pemdes Karanggan–MUI Perkuat Sinergi Kebersihan dan Keagamaan
Pemdes Situsari Gelar Skrining TB Massal, Ratusan Warga Ikuti Deteksi Dini Tuberkulosis
Ribuan Pegiat Budaya Sunda Gelar Riung Mungpulung di Kebun Raya Bogor, Perkuat Persatuan dan Identitas Kasundaan

Berita Terkait

Minggu, 19 April 2026 - 19:03 WIB

71 Tahun KAA: Bandung Teguhkan Diplomasi Budaya dan Status Warisan Dunia

Jumat, 17 April 2026 - 21:27 WIB

Halalbihalal NasDem Jabar Jadi Momentum Kolaborasi dengan Pemprov

Jumat, 17 April 2026 - 16:48 WIB

Pangdam Siliwangi Turun Langsung: Halal Bihalal KBT Jabar Bagi Rutilahu Rp25 Juta, Tegaskan Silaturahmi Nggak Ada Matinya

Jumat, 17 April 2026 - 16:15 WIB

Pansus XI DPRD Provinsi Jawa Barat Dorong Optimalisasi Perumda Tirta Tarum

Kamis, 16 April 2026 - 11:27 WIB

Rabu, 15 April 2026 - 19:14 WIB

Program Gentengisasi Hidupkan Kembali UMKM Genteng di Purwakarta

Selasa, 14 April 2026 - 18:00 WIB

Bandung Makin Geulis! DSDABM Gaspol Benerin Jalan Biar Nggak Bikin Emosi

Selasa, 14 April 2026 - 08:57 WIB

IPPAT Jabar Gelar Halal Bihalal di Holiday Inn Bandung, Usung Tema Integritas Profesi

Berita Terbaru