Oleh : Idat Mustari**
Satunews.id — Menasehati orang yang sedang berada di tepian jurang agar tak jatuh ke jurang adalah ibadah. Menasehati orang agar tak terjerembab ke lubang yang sama adalah perintah agama. Menulis—menyampaikan nasehat agama melalui medsos (gadget) adalah shadaqah selama dilakukan dengan keihklasan hanya berharap menggapai keridhaan Allah Swt. Bersyukurlah jika kemudian ada orang-orang yang meneruskannya ke yang lainnya, karena jadi kebaikan yang berantai.
Tentu memberi—membuat nasehat bukan lantaran ingin di cap sebagai orang baik, ahli agama, ustad atau orang suci, melainkan melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dari jarir Ibn Abdullah ra. berkata: “Aku berbaiat kepada Rasulullah saw. untuk mendirikan shalat, memberikan zakat dan memberi nasihat kepada setiap orang Islam.” (Muttafaq ‘alaih). Al Hasan Al Bashri berkata,“Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.”
Memberi nasehat kepada orang lain jauh lebih mudah ketimbang menerima nasehat dari orang lain. Bisa menerima nasehat dari orang lain membutuhkan kelapangan dada, dan kebersihan hati. Yang benar dan baik, tapi datangnya dari orang yang dibenci, sering kali sulit menerimanya.. Sebaliknya, yang palsu dan tidak baik, namun datang dari orang yang disenanginya, serta merta mudah diterimanya. Imam Ghazali berkata ”Nasihat itu mudah, yang sukar adalah menerimanya. Bagi mereka yang mengikuti hawa nafsunya, maka nasihat akan terasa pahit,”
Siapapun akan sulit menerima nasehat dari orang lain jika merasa dirinya lebih tinggi derajatnya dari pemberi nasehat, sebagus apapun isi nasehatnya. Itulah kemudian Sayyidina ‘Ali Ibn Abi Thalib ra berpesan “lihatlah apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang mengatakan”.(unzhur maa qoola wa tandzur man qoola). Ubay bin Ka’ab berkata, ”Terimalah kebenaran yang datang padamu walaupun berasal dari orang jauh yang kau benci, dan tolaklah kebatilan yang sampai padamu walaupun berasal dari orang dekat yang kau cintai.”
Wajib bagi kita menerima nasehat yang mengandung kebenaran, namun tetap selektif dalam mencari kebenaran. Sikap ini dalam bahasa kontemporer, disebut obyektivitas dalam memahami persoalan.
Wallahu’alam
Semoga Bermanfaat



























