SERBU PACU Klapanunggal: Seribu Pohon Ditanam, Masa Depan Anak Cucu Dipertaruhkan
satunews.id – BOGOR — Seribu bibit pohon ditanam bukan sekadar untuk menghijaukan jalan. Di balik gerakan SERBU PACU (Seribu Pohon Bibit untuk Anak Cucu), tersimpan pesan keras bahwa pembangunan tanpa kepedulian terhadap lingkungan hanya akan meninggalkan persoalan bagi generasi mendatang.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan penanaman seribu pohon yang digelar di Dusun 3, sepanjang Jalan Baru Simpang Pinggiran Perumahan Grand Kahuripan, Desa Klapanunggal, Kabupaten Bogor, Jumat (21/8/2026).
Dimulai sekitar pukul 07.30 WIB, kegiatan tersebut menjadi momentum kolaborasi antara Pemerintah Desa Klapanunggal, masyarakat, dan PT Solusi Bangun Indonesia (SBI) dalam memperkuat kepedulian terhadap lingkungan sekaligus menjaga ruang hijau di tengah pesatnya perkembangan kawasan permukiman.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan PT SBI Suyatno beserta jajaran, Kepala Desa Klapanunggal Ade Endang Saripudin atau Kades Gonon, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Satgas Linmas, Ketua Destana beserta anggota, Ketua BUMDes, Ketua LPM, perangkat desa, kepala dusun, ketua RW dan RT, serta masyarakat Dusun 3.
Menariknya, penanaman tidak berhenti pada seremoni. Warga dari berbagai unsur, termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu, turun langsung menanam bibit di sejumlah titik fasilitas umum dan fasilitas sosial serta sepanjang jalan baru kawasan Perumahan Grand Kahuripan.

Kades Gonon: Menanam Mudah, Merawat yang Menentukan
Kepala Desa Klapanunggal Ade Endang Saripudin menegaskan, nilai utama SERBU PACU bukan terletak pada berapa banyak bibit yang berhasil ditanam, tetapi seberapa banyak yang mampu tumbuh dan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Menurutnya, pohon yang ditanam hari ini merupakan investasi ekologis yang manfaatnya tidak selalu dapat dirasakan dalam waktu singkat.
“Terima kasih kepada PT Solusi Bangun Indonesia yang telah menyediakan seribu bibit pohon melalui program SERBU PACU, Seribu Pohon Bibit untuk Anak Cucu,” ujar Ade.
Ia menjelaskan, penanaman pohon sebelumnya juga telah dilakukan di kawasan TPU Sindanglengo. Untuk kegiatan kali ini, bibit diarahkan ke kawasan fasum, fasos, serta sepanjang jalan baru di sekitar Perumahan Grand Kahuripan.
Namun Ade mengingatkan, pekerjaan paling berat justru dimulai setelah acara penanaman selesai.
Sebab, menanam pohon hanya membutuhkan waktu singkat, tetapi menjaga agar pohon tetap hidup membutuhkan komitmen bersama.
“Bibit-bibit ini harus kita jaga dan rawat. Ke depannya mudah-mudahan bisa menghasilkan buah dan memberikan manfaat untuk anak cucu kita,” katanya.
Ade bahkan mengajak masyarakat memandang penanaman pohon sebagai bentuk kepedulian sekaligus sedekah kepada alam.
“Alam perlu kita jaga. Dengan penanaman pohon ini, bencana bisa berkurang. Kalau kita merusak alam, bencana akan terjadi,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi tamparan sekaligus pengingat bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada beton, jalan, perumahan, dan fasilitas fisik. Ketika ruang hijau dikorbankan, masyarakat pula yang pada akhirnya harus menanggung konsekuensinya.
SBI: Setiap Tahun Seribu Pohon, Kali Ini Ditantang Musim Kemarau
Perwakilan PT Solusi Bangun Indonesia, Suyatno, mengatakan program penanaman seribu pohon merupakan kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan setiap tahun.
Program tersebut menjadi bagian dari kontribusi perusahaan untuk mendukung pembangunan desa sekaligus keberlanjutan lingkungan di wilayah sekitar.
“Setiap tahun kita lakukan penanaman seribu pohon dan juga kegiatan lainnya agar dapat menunjang pembangunan desa yang lebih maju,” kata Suyatno.
Namun, pelaksanaan SERBU PACU tahun ini bukan tanpa tantangan. Kondisi cuaca yang masih berada dalam periode kemarau menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi bersama.
“Memang untuk penanaman SERBU PACU ini belum tepat karena belum masuk iklim hujan, masih kemarau. Akan tetapi, kita lakukan semaksimal mungkin agar bibit pohon ini bisa tumbuh,” ujarnya.
Karena itu, keberhasilan program tidak hanya bergantung kepada perusahaan maupun pemerintah desa. Masyarakat menjadi ujung tombak setelah bibit ditanam.
Suyatno berharap kepala dusun, RW, RT dan masyarakat secara bersama-sama membantu penyiraman serta memastikan bibit tidak mati setelah ditanam.
“Untuk penyiraman pohon bibit ini, semoga dibantu oleh masyarakat setempat, kadus, RW dan RT,” katanya.
Bukan Sekadar Menanam, Tapi Menanam Masa Depan
SERBU PACU akhirnya membawa pesan yang jauh lebih besar daripada kegiatan penghijauan biasa.
Di sepanjang jalan baru kawasan Grand Kahuripan, bibit-bibit itu menjadi simbol bahwa pembangunan dan kelestarian lingkungan seharusnya berjalan beriringan.
Seribu bibit mungkin terlihat kecil dibandingkan luas wilayah dan besarnya persoalan lingkungan. Namun seribu pohon yang hidup, tumbuh, dirawat dan kelak menjadi rindang dapat menghasilkan manfaat yang jauh lebih besar daripada nilai bibit itu sendiri.

Pemerintah Desa Klapanunggal dan PT SBI pun menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak.
Perusahaan membutuhkan dukungan masyarakat. Pemerintah membutuhkan partisipasi warga. Dan masyarakat membutuhkan lingkungan yang sehat untuk menopang kehidupan mereka.
Kini tantangannya jelas: jangan biarkan SERBU PACU berhenti pada seremoni penanaman.
Sebab pohon tidak membutuhkan tepuk tangan. Pohon membutuhkan air, perawatan, waktu dan kepedulian.
Hari ini masyarakat menanam.
Besok anak cucu yang menikmati.
Dan di Desa Klapanunggal, harapan itu mulai dititipkan kepada tanah melalui SERBU PACU—Seribu Pohon Bibit untuk Anak Cucu.
(Aminah)


























