*Oleh : Idat Mustari***
Satunews.id — Pernahkah kita merasa sudah melakukan segalanya dengan benar, namun tetap saja ada orang yang mencari celah kesalahan ? Kita sudah berusaha ramah, tetapi dianggap cari muka. Kita memilih diam untuk menjaga kedamaian, tetapi malah dicap sombong. Fenomena ini adalah realitas universal dalam kehidupan sosial kita: mau selurus dan sebaik apa pun diri kita, pasti akan selalu ada orang yang membicarakan, mengkritik, bahkan mencibir.
Kenyataan pahit ini sering kali membuat kita lelah secara mental. Banyak dari kita yang tanpa sadar terjebak dalam lingkaran setan yang bernama people pleasing—sebuah kondisi di mana setiap keputusan, gaya hidup, hingga prinsip personal kita setel hanya demi mendapatkan tepuk tangan dan pengakuan dari orang lain. Kita keliru mengira bahwa ketenangan hidup bisa dibeli dengan formula “menyenangkan semua orang”. Padahal, standar penilaian manusia itu seperti fatamorgana; selalu berubah, tidak konsisten, dan mustahil untuk dipuaskan.
Ketika kita menjadikan validasi manusia sebagai kompas utama dalam hidup, kita sebenarnya sedang menyerahkan remote kontrol kebahagiaan kita kepada orang lain. Hari ini mereka bisa memuji kita setinggi langit, namun esok hari mereka bisa menjatuhkan kita ke bumi hanya karena satu kekeliruan kecil. Hidup yang disetir oleh ekspektasi publik hanya akan melahirkan kecemasan emosional yang tidak ada habisnya.
Lantas, bagaimana kita menyikapi realitas yang tak terhindarkan ini? Jawabannya terletak pada reposisi niat dan tujuan hidup. Kita harus berani menggeser orientasi tindakan kita: dari yang semula berfokus pada penilaian manusia, menjadi sepenuhnya bersandar kepada Tuhan.
Melangkah karena Tuhan berarti kita menanamkan kesadaran penuh bahwa satu-satunya penilaian yang mutlak dan esensial adalah penilaian-Nya. Ketika dimensi spiritual ini menjadi fondasi, cara pandang kita terhadap dunia akan berubah drastis. Niat yang tulus karena Tuhan bertindak sebagai perisai mental yang sangat kokoh. Ia akan melahirkan sebuah kemerdekaan batin yang luar biasa.
Saat fokus kita adalah mencari rida-Nya, dinamika sosial di sekitar kita tidak akan lagi mampu mengguncang keteguhan hati. Pujian dari manusia tidak akan membuat kita menjadi tinggi hati atau terbang karena kesombongan. Sebaliknya, cibiran, fitnah, dan komentar negatif dari manusia juga tidak akan pernah membuat kita tumbang lalu berhenti berbuat baik. Kita menjadi sadar bahwa tugas kita di dunia ini hanyalah berproses menjadi versi terbaik yang diinginkan Tuhan, bukan menjadi versi yang diinginkan oleh ego orang lain.
Pada akhirnya, hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan demi memoles citra di mata manusia yang juga penuh dengan kekurangan. Mulai hari ini, mari kita bebaskan diri dari belenggu ekspektasi orang lain. Tetaplah konsisten berjalan di jalur yang lurus, tebarkan kebaikan dengan tulus, dan biarkan Tuhan yang menjadi satu-satunya alasan di balik setiap ayunan langkah kaki kita. Sebab, ketika Tuhan yang menjadi tujuan, kedamaian sejati bukan lagi sekadar impian. Sebab itu kita harus terus belajar melangkah karena Tuhan meskipun harus tertatih tatih.
Semoga bermanfaat…
** _Penulis Buku Bekerja Karena Allah dan Komisaris di BUMD kab Bandung_


























