Satunews.id
KAB BANDUNG – Panitia Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum melaksanakan pemasangan geobag dan duckbill di wilayah RW 01 dan RW 14 Desa Citeureup, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Selasa (3/2/2026).
Tak hanya itu, tim Pentahelix juga melakukan survei rencana pemasangan Tembok Penahan Tanah (TPT) yang berlokasi di RW 17 Desa Citeureup sekaligus melakukan sosialisasi penertiban bangunan liar (bangli) di sekitar lolasi.
Ketua Pentahelix Penanganan Banjir Dayeuhkolot Tri Rahmanto mengatakan pemasangan geobag dan duckbill tersebut tidak dapat dilaksanakan secara maksimal karena terkendala adanya bangunan liar.
Padahal pemasangan geobag di wilayah RW 01 dan RW 14 menjadi bagian penting dari upaya jangka panjang untuk memperkuat struktur sungai dan mengurangi dampak banjir yang berasal dari luapan sungai.
“Oleh karena itu, tim Pentahelix didampingi unsur kepolisian, Satpol PP dan perwakilan Dinas PUTR melakukan sosialisasi untuk penertiban kepada masyarakat yang menempati bangunan liar di sempadan sungai tersebut,” ujar Tri Rahmanto.
Menurutnya, sosialisasi tersebut dilakukan secara persuasif agar masyarakat memahami pentingnya penertiban bangunan liar demi kelancaran pembangunan dan keselamatan masyarakat di wilayah tersebut.
“Kami ingin masyarakat memahami bahwa penertiban bangunan liar itu dilakukan demi kepentingan bersama, agar pembangunan pengendalian banjir bisa berjalan lancar dan mampu mengurangi risiko banjir yang selama ini dirasakan masyarakat,” tuturnya.
Tri menambahkan, dalam survei yang dilakukan, tim Pentahelix bersama BBWS dan Dinas PUTR mengevaluasi progres rencana pelaksanaan pembangunan TPT di beberapa titik strategis. Salah satu lokasi yang menjadi fokus adalah TPT di wilayah RW 17 Desa Citeureup yang harus ditinggikan untuk memperlancar aliran air sungai.
Pembangunan TPT tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penahan tanah dan air sungai, sehingga dapat mencegah terjadinya erosi dan jebolnya tanggul saat debit air tinggi atau meluap.
Ia menyebut lsmgkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya terpadu penanganan banjir terutama pada kawasan rawan luapan sungai dan genangan air saat curah hujan tinggi.
Sementara itu, perwakilan BBWS menyampaikan bahwa hasil pendampingan dan survei lapangan menjadi dasar penting dalam menentukan desain teknis dan tahapan pelaksanaan pembangunan selanjutnya.
“Survei lapangan ini sangat penting untuk memastikan penempatan geobag, duckbill, serta rencana pembangunan TPT sesuai dengan karakter aliran dan kondisi eksisting di lokasi. Kami berharap dukungan semua pihak dapat mempercepat realisasi pembangunan pengendalian banjir ini,” ungkap perwakilan BBWS di sela kegiatan.
Melalui sinergi lintas sektor antara BBWS, Tim Pentahelix, pemerintah daerah, aparat, dan masyarakat, diharapkan pembangunan geobag, duckbill, serta TPT dapat segera terealisasi dan memberikan dampak nyata dalam menekan risiko banjir di Kecamatan Dayeuhkolot.
Tri Rahmanto kembali mengajak seluruh pihak untuk terus berkolaborasi dalam menangani permasalahan banjir di Kecamatan Dayeuhkolot.
“Kita tidak bisa mengatasi masalah banjir sendirian. Dibutuhkan kerja sama yang erat antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan media untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan dan efektif,” tegasnya.(**)




























