Bukan Soal Prestasi Saja! Ternyata Ini Alasan Indonesia Bisa Gagal Tampil di Ajang Olahraga Internasional

- Redaksi

Selasa, 20 Mei 2025 - 12:27 WIB

5025 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Azka Jovita Syach Anggraini
Mahasiswi Fisip Unsil Semester VI

ARTIKEL, || Olahraga sering dianggap sebagai arena netral yang menjunjung tinggi sportivitas dan persaingan sehat. Namun, sejarah menunjukkan bahwa olahraga kerap menjadi panggung bagi kepentingan politik internasional.

Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar dan semangat olahraga yang tinggi, tidak luput dari dinamika ini. Dari era Presiden Soekarno hingga masa kini, kebijakan politik luar negeri Indonesia telah memengaruhi partisipasinya dalam ajang olahraga internasional.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika Politik Menjadi Prioritas

Pada tahun 1962, Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games. Namun, keputusan pemerintah untuk melarang partisipasi Israel dan Taiwan, dengan alasan solidaritas terhadap negara-negara Asia dan Afrika yang baru merdeka, menuai kontroversi.

Sebagai respons terhadap kritik dan sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC), Presiden Soekarno mendirikan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) pada tahun 1963. Ajang ini dimaksudkan sebagai alternatif dari Olimpiade, dengan semangat anti-imperialisme dan solidaritas negara-negara berkembang.

Namun, langkah ini berdampak pada hubungan Indonesia dengan IOC. Atlet yang berpartisipasi dalam GANEFO dilarang mengikuti Olimpiade Tokyo 1964, dan Indonesia menghadapi isolasi dalam komunitas olahraga internasional.

Meskipun GANEFO mencerminkan sikap politik Indonesia saat itu, konsekuensinya terhadap dunia olahraga nasional cukup signifikan, karena keanggotaan Indonesia di IOC dibekukan, dan menghilangkan kesempatan atlet-atlet berprestasi Indonesia untuk berlaga di Olimpiade. GANEFO seolah menjadi contoh nyata bagaimana olahraga bisa dijadikan alat propaganda ideologis dan diplomasi internasional.

Enam dekade kemudian, Indonesia kembali menghadapi dilema serupa. Sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 2023, Indonesia menolak kehadiran tim nasional Israel, sejalan dengan posisi politik luar negerinya yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

Akibatnya, FIFA mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah dan menjatuhkan sanksi finansial kepada PSSI. Keputusan ini memicu kekecewaan di kalangan penggemar sepak bola nasional dan menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan Indonesia dalam memisahkan politik dari olahraga.

Menpora Dito Ariotedjo menegaskan pentingnya memisahkan politik dari olahraga. Ia menyatakan bahwa diplomasi dan komunikasi yang baik dapat menjadi solusi untuk menghindari konflik serupa di masa depan. Pemerintah Indonesia berupaya menjaga agar olahraga tetap menjadi arena netral, meskipun tantangan politik internasional terus ada.

Prestasi atlet Indonesia di kancah internasional dapat menjadi alat diplomasi yang efektif. Contohnya, keberhasilan Megawati Hangestri Pertiwi di liga voli Korea Selatan meningkatkan citra positif Indonesia di mata dunia. Olahraga dapat menjadi sarana untuk memperkuat identitas nasional dan membangun hubungan internasional yang positif.

Politik dan olahraga memiliki hubungan yang kompleks. Sementara olahraga idealnya bebas dari intervensi politik, realitas menunjukkan bahwa keduanya sering bersinggungan. Indonesia perlu terus berupaya menjaga keseimbangan antara prinsip politik luar negeri dan komitmen terhadap nilai-nilai sportivitas internasional. Dengan pendekatan diplomasi yang cermat dan strategi komunikasi yang efektif, Indonesia dapat memastikan partisipasinya dalam ajang olahraga dunia tanpa mengorbankan prinsip-prinsip nasionalnya.

(Sumber : Antara News, KOMPASIANA)

Berita Terkait

Empat Patung Legenda Persib Dipamerkan di Grey Art Gallery Braga, Karya Seniman Mantan Pemain
Sat Binmas Polrestabes Bandung Gelar FGD Bersama Akademisi dan Pemerintah, Perkuat Sinergitas Jaga Kamtibmas Kota Bandung
Keluarga Besar SATU NEWS.ID Ucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 H, Tebarkan Semangat Pengorbanan dan Kepedulian Sosial
Kades Sukamanah Gaungkan Perang Lawan Rentenir, Kopdes Merah Putih Siap Jadi Motor Kebangkitan Ekonomi Warga
“Jangan Drop Out Sekolah”: Pesan Tegas Dispora Bandung di Malam Penghargaan Atlet 2026
Bobotoh Membludak, Media “Disaring”: Transparansi Acara Umuh Muchtar Dipertanyakan
Pawai Juara Panca Takhta Persib 2026 Pecahkan Antusiasme Bobotoh, Lautan Biru Padati Kota Bandung
Pemkel Ciriung Gelar Rapat BSPS, 12 Penerima Manfaat Siap Dapat Program Bedah Rumah

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 17:46 WIB

Tindaklanjuti Permohonan Kajian Pentahelix, BPBD Kab Bandung Lakukan Peninjauan Lapangan

Minggu, 24 Mei 2026 - 15:43 WIB

Bobotoh Bawa Balita Ikut Rayakan Juara PERSIB, Jl. Asia Afrika Jadi Panggung Euforia

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:43 WIB

Camat Baleendah: Citarum Clean Up Movement Jadi Edukasi Pengelolaan Sampah bagi Masyarakat

Minggu, 24 Mei 2026 - 09:11 WIB

Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Monitoring Hewan Qurban di DKM Miftahul Jannah

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:21 WIB

KDS Dorong OPD Tingkatkan Inovasi Pendapatan Daerah di Tengah Penyesuaian Fiskal

Kamis, 21 Mei 2026 - 16:15 WIB

Sambangi Normalisasi Cipalasari, Kabid SDA DPUTR Dorong Semua Pihak Turut Peduli Penanganan Banjir

Rabu, 20 Mei 2026 - 23:30 WIB

MAREMA Batch 7 Hadir di Lengkong, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas Lewat Digital Marketing

Rabu, 20 Mei 2026 - 18:19 WIB

Dari Semarang ke Bandung: Warisan Kuliner Kepala Manyung Bu Fat Sejak 1969 Kini Bisa Dinikmati

Berita Terbaru