23 September 2021

SatuNews

Beyond the News

Niat, Tekad dan Kinerja

4 min read

PEMILIHAN Presiden tahun 2009 tak pernah bisa saya lupakan sampai sekarang. Saat itu saya masih sangat muda, masih berseragam putih abu-abu. Sehabis pulang sekolah, kegiatan saya cuma nonton televisi sambil mengerjakan tugas. Karena televisi pula saya jadi tertarik dengan dunia politik. Bagaimana tidak, sepanjang tahun 2009 semua saluran televisi isinya melulu soal berita politik. Yang awalnya tidak tertarik, tapi kalau dijejalkan tiap hari lama-lama jadi suka.

 

Pemeran utama yang jadi media darling kala itu tentu saja Susilo Bambang Yudhoyno (SBY), Presiden Republik Indonesia ke enam yang fotonya selalu saya lihat di dinding kelas sejak saya masih Sekolah Dasar. Singkat cerita, SBY menang telak dengan perolehan suara 73.874.562 atau 60,80 persen. Kemenangan SBY tentu berimbas pada Partai Demokrat yang berhasil menjadi partai Pemenang Pemilu Legislatif (Pileg) tahun 2009 dengan memperoleh 150 kursi (26,4 persen) di DPR RI, setelah mendapat 21.703.137 total suara (20,4 persen).

 

Masuk ke masa kuliah di tahun 2014, masa dimana saya mulai belajar menjadi jurnalis sekaligus tahun terakhir SBY menjabat sebagai Presiden. Berita politik sekali lagi mengisi hari-hari saya saat itu. Kali ini saya bukan tertarik dengan kontestasi politik, namun tentang sosok pemimpin negara yang akan segera mengakhiri tugasnya. Presiden pertama yang dipilih langsung oleh masyarakat, tak heran jika suaranya mengakar kuat hingga mendominasi dua kali kontestasi.

 

 

Secara prestasi pemerintahan SBY mampu menyelesaikan konflik dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) yang sudah terjadi sejak 1976. Ia juga berhasil membuat ekonomi Indonesia tumbuh sebesar lima persen, hal yang tidak pernah terjadi sejak krisis moneter 1997/1998. Pertumbuhan ekonomi itu mampu dipertahankan manakala dunia dihantam badai krisis finansial sejak akhir 2007 hingga 2008. Ekonomi Indonesia bertumbuh setinggi 5,9 persen sampai 2013.

 

“Ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Eropa dan Jepang pada kurun waktu yang sama,” kata SBY pada pidato kenegaraan terakhir di Gedung DPR RI, Jumat 15 Agustus 2014, yang disiarkan seluruh stasiun televisi nasional.

 

Keluar Dari Zona Nyaman

 

Setelah tak lagi menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, SBY sibuk mengurus partai. Di tangan SBY, Demokrat mulai memberi ruang lebih untuk generasi muda. Pada 2017 contohnya, nama Agus Harimurti Yudhoyono atau kini akrab disapa AHY, mencuat sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta. Saat itu usia AHY masih 38 tahun.

 

Sebelum terjun ke dunia politik, AHY berkiprah di TNI dengan pangkat mayor. Ia dikenal sebagai perwira menengah berprestasi. Dalam konferensi pers di Kantor DPP Partai Demokrat, Jumat 23 September 2016, AHY mengaku sulit untuk mengambil keputusan hijrah dari karir kemiliteran. Namun ia sudah membulatkan tekad dan memutuskan untuk mendaftarkan diri ke KPU sebagai Calon Gubernur.

 

“Hari ini adalah hari yang panjang dan tidak mudah, tetapi bersejarah dalam perjalanan hidup saya. Tepatnya pukul 01.00 tengah malam saya harus menentukan pilihan dan mengambil keputusan dalam hidup saya yang tidak mudah,” ujar AHY, waktu itu.

 

 

Karir politik AHY terbilang moncer, tak lama setelah gelaran Pilgub DKI Jakarta, ia terpilih secara aklamasi Sebagai Ketua Umum pada Kongres ke V Partai Demokrat di JCC Senayan, Minggu 14 Maret 2020. Kepiawaian AHY dalam berpolitik juga makin terlihat saat tangan dinginnya mampu ‘menyelesaikan’ upaya Moeldoko merebut kekuasaan partai. Kini semua orang percaya bahwa AHY punya kapasitas dan potensi besar di dunia politik masa depan.

 

Keputusan hingga perjalanan karir politik AHY mengingatkan saya akan petuah dari Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Rhenald Kasali tentang bagaimana anak muda harus berani keluar dari zona nyaman.

 

“Manusia belajar sepanjang masa melewati ujian demi ujian. Dan itu meletihkan, bahkan kadang menakutkan, melewati proses kesalahan dan kegagalan, menemui jalan buntu dan aneka krisis, kurang tidur. Kadang kita menemukan guru yang baik dan pandai, tapi kadang bertemu guru yang menjerumuskan dan menyesatkan. Tetapi mereka semua memberikan pembelajaran. Kalau kita berani melewati jalan tak nyaman, lambat laun kita pun bisa meraih kemahiran. Kalau sudah mahir dan nyaman, jangan lupa cari jalan baru lagi,” dalam bukunya yang berjudul Self Driving: Merubah Mental Passengers Menjadi Drivers.

 

Putra Daerah

 

Di panggung politik Provinsi Lampung, generasi muda Partai Demokrat sudah lebih dulu menunjukan taji. Tahun 2014 misalnya, Demokrat sukses mengantarkan Muhammad Ridho Ficardo menjadi Gubernur Lampung. Saat itu, Ridho Ficardo masih berusia 33 tahun dan tercatat sebagai Gubernur termuda di Indonesia.

 

 

Di ranah legislatif, Demokrat juga mencatatkan rekor setelah berhasil menempatkan Muhammad Khadafi Azwar sebagai Anggota DPRD Provinsi Lampung termuda. Pada Pileg 2019, usianya masih 23 tahun.

Dalam kesempatan wawancara tak berapa lama usai pelantikan Anggota DPRD Lampung, Khadafi bercerita bahwa ia bercita-cita memperjuangkan keresahan anak muda di parlemen.

“Saya tergerak dan memiliki tujuan untuk bagaimana caranya aspirasi yang muda ini bisa ditampung dan diperjuangkan. Sehingga bisa sinkron antara DPRD dan generasi milenial,” ujarnya.

Pada akhirnya, tontonan bertahun-tahun lalu membawa saya sampai di titik ini. Titik dimana saya belajar bahwa partai politik seharusnya lebih membuka jalan bagi generasi muda. Karena Demokrat telah memberikan gambaran jika politik bukan perkara usia, terpenting adalah niat, tekad dan kinerja.

 

Bandar Lampung, 27 Agustus 2021

Penulis: Genggar Raksi

 

#2dekadeDemokrat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *