27 Juli 2021

SatuNews

Beyond the News

Menag: Takbiran dan Sholat Ied di Rumah

2 min read

JAKARTA – Kementerian Agama (Kemenag) mengimbau masyarakat muslim di Indonesia, khususnya yang berada di wilayah PPKM Darurat, agar melaksanakan takbiran serta sholat Ied Adha 1442 Hijriyah di rumah saja.

Pesan itu disampaikan langsung Menteri Agama (Menag) RI, Yaqut Cholil Qoumas pada acara jumpa pers secara virtual, usai sidang Isbat penetapan hari raya Idul Adha 1442 Hijriyah, Sabtu (10/7) malam.

“Kami minta supaya takbiran dan shalat Ied Adha di wilayah PPKM Darurat dilakukan di rumah masing-masing,” ucap Gus Yaqut, sapaan karib Menag.

Gus Yaqut menuturkan, untuk menindaklanjuti ketetapan pemerintah pada masa Covid-19 dalam hal ini PPKM Darurat, Kemenag RI sudah menerbitkan dua surat edaran sekaligus.

Pertama SE Menag Nomor 16 tahun 2021 tentang petunjuk teknis penyelenggaraan malam takbiran idul adha dan pelaksanaan qurban tahun 1442 Hijriyah/2021 Masehi di luar PPKM Darurat.

Kedua, SE Menag Nomor 17 tahun 2021 tentang Peniadaan Sementara Peribadatan di tempat ibadah, malam takbiran, shalat Ied dan petunjuk teknis pelaksanaan qurban tahun 1442 Hijriyah/2021 Masehi di wilayah PPKM Darurat.

Peniadaan sementara peribadatan di wilayah PPKM Darurat ini, jelas dia, menjadi mutlak karena kita tahu bahwa pandemi Covid-19 ini harus benar-benar kita atasi secara bersama-sama dengan kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam hal ini pemeluk agama.

“Sehingga kita semua dengan kesadaran secara penuh kemudian direspons dengan aturan pemerintah dengan menerbitkan edaran untuk meniadakan peribadatan sementara di tempat-tempat ibadah terutama tempat-tempat ibadah yang berpotensi menimbulkan kerumunan,” tuturnya.

Adapun, lanjut Gus Yaqut, untuk wilayah di luar PPKM Darurat yang tidak termasuk zona merah dan orange, peribadatan di tempat ibadah bisa dilakukan dengan memenuhi ketentuan yang sudah tercantum di SE Menteri Agama Menag Nomor 16 tahun 2021

Qurban

Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas juga mengimbau pelaksanaan pemotongan hewan qurban agar dilakukan di rumah pemotongan hewan (RPH), dan dilakukan selama tiga hari guna menghindari terjadinya kerumunan.

“Penyembelihan hewan kurban berlangsung dalam waktu tiga hari, yakni pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah untuk menghindari kerumunan di lokasi pelaksanaan kurban. Pemotongan hewan kurban dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan Ruminasia (RPH-R),” kata Yaqut Cholil Qoumas.

Jika RPH terbatas, pemotongan hewan kurban dapat dilakukan di luar RPH dengan ketentuan penerapan jaga jarak fisik (physical distancing) dengan melaksanakan pemotongan kurban di area yang luas sehingga memungkinkan diterapkannya jaga jarak fisik.

“Penyelenggara melarang kehadiran pihak-pihak selain petugas pemotongan hewan kurban,” tandas Yaqut pula.

Para petugas yang melakukan pendistribusian daging kurban juga diwajibkan untuk mengenakan masker rangkap dan sarung tangan untuk meminimalkan kontak fisik dengan penerima. (HmsDepag)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *