21 Oktober 2021

SatuNews

Beyond the News

Lagi-Lagi, Limbah Hitam Cemari Laut

2 min read

LAMPUNG TIMUR – Belum berselang setahun, limbah hitam berminyak kembali mencemari kawasan pantai Kabupaten Lampung Timur (Lamtim).

Oktober 2020 lalu, limbah terlihat di objek wisata Pantai Kerang Mas hingga Pantai Mutiara Baru, Desa Karya Makmur. Minggu (11/7) pagi, limbah hitam kembali muncul di perairan Pantai Mutiara Baru, Kecamatan Labuhan Maringgai.

Warga sekitar menduga, limbah hitam mirip ter aspal itu terbawa ombak laut, hingga terdampar di Pantai Mutiara Baru. Belum diketahui pasti asal mula limbah tersebut bersumber dari mana.

“Kemungkinan limbah ini dibawa ombak dan terdampar di pantai,” kata Widianto, pengelola Objek Wisata Pantai Mutiara Baru, di Desa Karya Makmur, Minggu (11/7).

Ia menyayangkan sebaran limbah hingga memenuhi sepanjang pantai. Untuk membersihkannya sangat sulit, dan membutuhkan waktu lama.

“Sudah tiga hari ini. Tapi hari ini tidak sepadat kemarin. Kalau kemarin, padat banget limbahnya,” kata  Widianto pula.

Ada kemungkinan, limbah-limbah tersebut menggumpal lalu turun ke dasar laut (pantai), hingga kekentalannya mulai berkurang. Jika tidak segera diatasi, ungkap dia, limbah tersebut bisa mencemari lingkungan Pantai Mutiara Baru.

“Ini bisa mengganggu aktivitas warga yang bermukim di pinggiran pantai,” ungkapnya.

Sebab, jelas dia, jika limbah mengenai baju, maka akan sulit dibersihkan. “Sudah banyak juga ikan ditemukan mati. Kebanyakan ikan belanak dan kakap putih,” ujarnya.

Widiyanto berharap, pemerintah menyelidiki asal mula sumber limbah tersebut. Sebab, buka kali pertama ini saja Pantai Mutiara Baru, Desa Karya Makmur, ‘disatroni’ limbah, Oktober 2020 pun hal serupa pernah terjadi.

“Dulu juga pernah terjadi (pencemaran) mulai dari Pantai Kerang Mas, Kecamatan Labuhan Maringgai, hingga Pantai Mutiara Baru, Desa Karya Makmur,” akunya.

Mengutip pernyataan Bayu Witara, Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HSNI) Provinsi Lampung, setahun lalu, bahwa sejak 20 Agustus 2020 limbah hitam berminya menyerupai ter menggenangi Pantai Kerang Mas hingga Pantai Mutiara Baru.

Menurut Bayu Witara, limbah hitam itu seperti gumpalan aspal dan berminyak. Dia mengaku, belum mengetahui asal limbah tersebut.

“Kami minta ini diselidiki, karena pencemaran ini dapat merugikan nelayan secara ekonomi dan kelangsungan habitat ikan di laut,” ujarnya. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *