27 Juli 2021

SatuNews

Beyond the News

Polemik Tutupnya Gerai Bakso Paling Legendaris

3 min read

BANDARLAMPUNG – Kabar tutupnya gerai Bakso Son Hajisony atau Bakso Sony ramai di media sosial. Warganet seperti terbelah dua dalam menanggapi tutupnya gerai bakso paling legendaris di Bandarlampung itu.

Buat yang masih belum paham kenapa gerai bakso yang sudah puluhan tahun berdiri itu memilih tutup, berikut kami rangkum ulasannya.

Penutupan gerai Bakso Son Hajisony awalnya dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung. Alasan penutupan atau lebih tepat disebut penyegelan itu karena gerai bakso tersebut termasuk salah satu usaha yang tidak tertib pajak.
Saat itu enam dari 18 gerai Bakso Son Hajisony disegel oleh pihak Pemkot Bandarlampung.

Kepala Inspektorat Pemkot Bandarlampung, M Umar mengatakan, meski sudah disegel namun manajemen Bakso Son Hajisony masih keukeuh menggunakan alat pencatat pendapatan (tapping box) milik pribadi.

Padahal, kata Umar, aturannya tidak boleh ada tapping box lain selain yang disediakan Pemkot Bandarlampung.

“Pemkot dan manajemen Bakso Sony mencoba mencari jalan keluar polemik ini. Namun hingga kini belum ada titik temu,” singkatnya, beberapa waktu lalu.

Karena tak kunjung medapatkan titik temu, manajemen Bakso Son Hajisony memutuskan berhenti beroperasi di Kota Bandarlampung.

Penutupan gerai di seluruh Kota Bandarlampung itu terlihat dari adanya spanduk pengumuman yang dipasang di depan gerai Bakso Son Hajisony di beberapa tempat.

“Kami dari manajemen Bakso Son Hajisony, ingin memberitahukan bahwa Baksi Son Hajisony akan memfokuskan perkembangan usaha di luar Kota Bandar Lampung dan outlet yang ada di Bandar Lampung mungkin akan segera ditutup dan dipindahalihkan ke luar kota. Terima kasih atas dukungan dan kepercayaan pelanggan selama 40 tahun. Hormat Kami pegawai dan pengurus Bakso Son Hajisony.” 

Banyak pelanggan Bakso Son Hajisony mengunggah gambar spanduk itu di Facebook, Instagram sampai grup Whatsapp. Yang tentu saja membuat masalah itu jadi viral di dunia maya.

Berdasar keterangan seorang karyawan yang ditemui di salah satu gerai, ia menyebut manajemen Bakso Son Hajisony akan memfokuskan usaha di luar Bandarlampung.

“Iya, jadi nanti di Kota Bandarlampung hanya jual bakso pentolan dan daging, tidak ada pelayanan makan di tempat. Nanti yang masih buka hanya empat cabang di Metro, Pringsewu, Natar dan Jatiagung,” kata pegawai yang enggan disebut namanya itu.

Sanksi Pidana

Terlepas dari puluhan tahun menjadi ‘makanan khas’ Bandarlampung, Akademisi hukum Universitas Lampung (Unila), Budiyono mengatakan tindakan manajemen Bakso Son Hajisony yang hendak hengkang dari Bandarlampung menjadi bentuk tidak kooperatifnya pengusaha tersebut dalam membayar retribusi pajak.

Sebab, kata dia, pindah lokasi bukan berarti mengurangi nilai sanksi yang sebelumnya diberikan Pemkot. “Saya mendorong untuk melakukan tindakan yang lebih tegas dari Pemkot dengan menerapkan sanksi pidana,” ujar Budiyono, akhir pekan kemarin.

Menurut dia, tindakan Pemkot untuk menerapkan tapping box sudah tepat, demi mendukung transparansi penyampaian pajak yang diterima pemilik usaha dari konsumen.

“Kalau pajak yang diambil dari konsumen tidak diserahkan, bisa dikatakan pihak bakso Sony melakukan penggelapan pajak. Bila mereka mengaku tidak pernah mengambil pajak dari konsumen, maka sudah menjadi kewajiban Bakso Sony untuk tetap membayar pajak ke Pemkot,” kata dia.

Sebab, selama ini yang membayar pajak konsumen dan selanjutnya kewajiban tempat usaha untuk menyerahkan pajak yang diambil dari konsumen kepada Pemkot. “Perilaku Bakso Sony yang tidak melakukan kewajiban itu menunjukan hal yang tidak baik dari pelaku usaha,” tukasnya. (Gar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *