Sab. Nov 28th, 2020

Arbitrase Satpam Villa Citra – PT CLIP, Perusahaan tidak Mengakui Karyawan

2 min read

BANDARLAMPUNG – Statusnya dibuat tidak jelas, sebanyak 44 dari 65 petugas satuan keamanan (Satpam) Perumahan Villa Citra Bandarlampung menuntut PT Citra Lestari Indah Perkasa (CLIP), perusahaan tempat mereka bernanung.

Melalui penasihat hukum Ardiansyah dan Rekan, tuntutan Satpam Villa Citra tersebut diajukan ke Dinas Tenaga Kerja Kota Bandarlampung.

“Semua keberatan sudah kita sampaikan ke Disnaker, dan difasilitasi. Kita tinggal menunggu tanggakan dari PT CLIP saja. Mereka (PT CLIP) punya waktu sepuluh hari untuk menanggapi ini,” kata Ardiansyah, saat bincang bersama wartawan di Warta Coffe, Rabu (4/8) sore.

Dia menilai, arbitrase diupayakan sambil menunggu niat baik pihak perusahaan. Jika PT CLIP tidak mengindahkan keberatan para pekerja (satpam), maka persoalan ini akan diteruskan ke jalur hukum selanjutnya.

“Ini masalah perselisihan hubungan industrial. Kami harap bisa diselesaikan melalui perundingan bipartit. Namun, jika perundingan bipartit gagal maka penyelesaian dilakukan melalui mekanisme mediasi atau konsiliasi,” terangnya.

Bila mediasi dan konsiliasi juga gagal, kata Ardiansyah, maka perselisihan hubungan industrial ini dapat dimintakan untuk diselesaikan di Pengadilan Hubungan Industrial.

Dijelaskannya, pokok persoalan yang terjadi antara 44 satpam dan PT CLIP, terpantik oleh kebijakan sepihak dari perusahaan.

“Secara tiba-tiba saja, PT CLIP tidak mengakui mereka ini adalah karyawannya dengan mengalihkan para satpam di bawah naungan paguyuban. Padahal mereka ada perjanjian kerja dengan pihak perusahaan,” tandasnya.

Ardiansyah juga menyoroti soal surat pengalihan yang dibuat oleh PT CLIP tersebut tiga bulan lalu, namun baru diberitahukan kepada para satpam, akhir Bulan Juli 2020 lalu.

“Jadi, dalam hal ini, para satpam tidak mengetahui soal pengalihan itu. Kita akan menyelidiki surat pengalihan ini, apakah asli atau tidak. Ini jelas melanggar peraturan perundangan yang berlaku,” ungkapnya.

Terpisah, penasihat hukum PT CLIP, Jarwo ketika dimintai komentarnya melalui sambungan telepon, semalam, menyatakan bahwa, PT CLIP merasa tidak pernah mengangkat para petugas satpam tersebut sebagai karyawan.

“Mereka (satpam) digaji dari iuran warga (Villa Citra). Uang keamanan, kebersihan, dan lain-lain,” kata Jarwo.

Frengki, selaku pemilik PT CLIP, kata Jarwo, tidak sanggup lagi menangani hal ini lantaran situasinya masih pandemi Covid-19.

PHK Sepihak

Arbitrase antara puluhan petugas satpam Villa Citra dengan PT CLIP, sebenarnya sudah muncul sejak pertengahan Bulan Juni 2020 lalu.

PT CLIP, selaku perusahaan keamanan perumahan Villa Citra Bandarlampung diduga telah melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak.

Dirilis dari Radar Lampung, ada sebanyak 51 petugas keamanan Villa Citra yang dirumahkan. Keputusan itu diambil, setelah sebelumnya para satpam menuntut gaji mereka disetarakan dengan UMR Kota Bandarlampung.

“Tanpa ada kompromi, tiba-tiba ada surat PHK dari Perusahaan yang mengatasnamakan Paguyuban warga perumahan Villa Citra,” kata salah satpam.

Dijelaskan, dari sebanyak 61 petugas keamanan yang berkarja di Villa Citra, sebanyak 51 orang di-PHK. “Kami meuntut pesangon dari PT CLIP, sebab kami sudah menjadi petugas keamanan disana rata-rata di atas sepuluh tahun,” ujarnya. (Gar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *