Sen. Okt 26th, 2020

Rapid Test di Zona Merah

2 min read

Bandarlampung telah dinyatakan sebagai zona merah Covid-19. Rencana rapid test massal pun mencuat. Kapan terapkan PSBB Pak Wali ?

BANDARLAMPUNG – Dari 50 kasus positif virus corona (Covid-19) di Lampung, Kota Bandarlampung berada di urutan teratas dengan 28 kasus.

Dilansir dari situs resmi Bandarlampung Tanggap Covid-19, 28 kasus konfirmasi positif tersebut tersebar di 14 Kecamatan.

Paling banyak yakni di Kecamatan Langkapura yang terdapat 5 kasus konfirmasi positif. Kemudian, Kecamatan Telukbetung Timur (4 kasus), Kedamaian (3 kasus), Enggal (3 kasus), Labuhan Ratu (2 kasus), Rajabasa (2 kasus), Sukarame (2 kasus).

Lalu, Kecamatan Bumi Waras terdapat 1 kasus positif, Kedaton (1 kasus), Kemiling (1 kasus), Panjang (1 kasus), Tanjungkarang Pusat (1 kasus), Tanjungkarang Timur (1 kasus), dan Telukbetung Selatan (1 kasus).

Kota Bandarlampung sendiri telah ditetapkan sebagai zona merah dalam peta di situs infeksiemerging.kemkes.go.id karena disebut terdapat penularan melalui transmisi lokal.

Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung akan melakukan rapid test Covid-19 secara massal di Bandarlampung.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung Reihana mengatakan rapid test akan dilakukan di kecamatan-kecamatan yang terdapat pasien terkonfirmasi positif covid-19.

“Jadi memang direncanakan nanti di Bandarlampung untuk kecamatan yang ada pasien positif akan dilakukan rapid test,” jelas Reihana, Sabtu (2/5).

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Lampung itu menyebut pelaksanaan rapid test tersebut berpedoman dengan petunjuk teknis (juknis). Seperti terhadap kasus kontak erat dengan pasien positif, orang tanpa gejala (OTG), pasien dalam pengawasan (PDP) dan tenaga kesehatan.

“Jadi tentu saja tetap kita selektif dengan mengikuti juknis buku pedoman penggunaan,” sebut Reihana.

Dia menerangkan pelaksanaan rapid test akan dilakukan tim surveilance, Puskesmas setempat dan Dinas Kesehatan Kota Bandarlampung.

“Tapi berdasarkan hasil pemeriksaan, penyeledikan secara epidemiolgi (ilmu yangm empelajari tentang penyebaran penyakit),” ujarnya.

Belum PSBB

Meski sudah berstatus zona merah, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandarlampung hingga kini belum mengajukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Walikota Bandarlampung, Herman HN mengatakan pihaknya tidak akan menerapkan PSBB meski sudah dinyatakan zona merah.

Argumen dasar dari tidak akan diajukan PSBB itu, kata Herman HN, karena pihaknya meyakini belum ada transmisi lokal.

Meskipun Kemenkes telah menyatakan di Bandarlampung terdapat kasus transmisi lokal.

Dalam perspektif Pemkot Bandarlampung, transmisi lokal adalah wabah yang menyebar dari warga ke warga di dalam kota.

“Kita tidak akan menerapkan PSBB. Karena PSBB itu jika ada (wabah virus) yang dari warga Bandarlampung. Sedangkan saat ini, kasus (Covid-19) kebanyakan dari luar,” kata Herman HN, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, hal yang lebih penting adalah mencegah agar Covid-19 tidak menyebar lebih masif di masyarakat Bandarlampung.

Untuk kebutuhan penanganan Covid-19, kata Herman HN, Pemkot mengalokasikan dana sebesar Rp 100 miliar.

“Kemarin saya sudah beli alat rapid test sebanyak 5.000, ditambah 500 yang dari pemprov. Lalu baju (hazmat) 500, masker 1.000 kotak, dan sarung tangan 1.000 kotak,” pungkasnya. (Gar/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *