Jum. Okt 30th, 2020

Lampung Zona Merah Demam Berdarah

2 min read

Urusan virus corona nampaknya terlalu menyedot perhatian, sampai urusan lingkungan terabaikan, alhasil kasus DBD terjadi dimana-mana. Pemerintah harusnya lebih perhatian, kan sama-sama makan korban.

BANDARLAMPUNG – Jumlah kasus demam berdarah di Indonesia per 11 Maret 2020 mencapai 17.820 kasus. Mirisnya, Provinsi Lampung menempati urutan tertinggi jumlah kasus DBD.

“Di Lampung jumlah kasusnya sampai 3.431 kasus lalu disusul Nusa Tenggara Timur (NTT) 2.732 kasus,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi di Jakarta, Rabu (11/3).

Nadia mengatakan setelah dua daerah itu, Jawa Timur menempati posisi ketiga dengan total 1.761 kasus. Lalu, disusul dengan Jawa Barat demgan 1.420 kasus.

“Kemudian ada Jambi yang total kasusnya sampai 703, Jawa Tengah 638 kasus, Riau 603 kasus, Sumatera Selatan 593 kasus, DKI Jakarta 583 kasus,” ujar Nadia.

Kasus demam berdarah tercatat di Nusa Tenggara Barat (NTB) dengan total kasus 558, Sumatera Barat 490 kasus. Kemudian, Kalimantan Selatan 425 kasus, dilanjutkan dengan Sulawesi Utara dengan 424 kasus.

“Di daerah Kalimantan Barat sampai 412 kasus, Sumatera Utara dengan total kasus 399 kasus, Babel 379 kasus, Kalimantan Timur 285 kasus, Kepri 283 kasus, Yogyakarta 272 kasus, Kalimantan Tengah 246 kasus,” tutur Nadia.

Kasus DBD di Bengkulu tercatat 205 kasus, dilanjutkan dengan Sulawesi Utara dengan 188 kasus, Aceh dengan 179 kasus, Sulawesi Barat dengan 177 kasus, Banten 128 kasus.

“Tiga daerah paling kecil kasusnya adalah Sulawesi Tengah 108 kasus, Sulawesi Selatan 98 kasus, dan Maluku Utara 91 kasus,” ucap Nadia.

Nadia mengatakan perbedaan jumlah kasus dipengaruhi iklim tiap daerah. Iklim mempengaruhi populasi nyamuk Aedes aegypti.

Sementara, dari data Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Lampung, dalam kurun Januari-Februari 2020 tercatat 10 orang meninggal akibat DBD.

Berbeda dengan Kemenkes, Kabid Promkes Dinkes Lampung, Media Lisna menyebut secara keseluruhn DBD di Lampung hanya mencapai 1.408 kasus.

“Untuk tahun 2019 tercatat ada 5.592 kasus DBD, untuk tahun-tahun sebelumnya kita tidak punya,” kata Lisna dalam keterangan pers.

Lisna memerinci angka kematian tertinggi ada di Lampung Tengah dengan jumlah 3 kematian pada Januari dan 2 kematian pada Februari. Kemudian terdapat 2 kasus kematian juga di Lampung Timur pada Februari. Sedangkan Metro dan Pringsewu masing 1 kasus di Januari serta 1 kematian Lampung Utara di Februari.

Sementara kasus DBD terbanyak berada di Lampung Selatan, yakni 408 kasus. Data tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan di daerah tersebut.

Pada Januari 2020, di Lampung Selatan hanya ditemukan 134 kasus. Sedangkan pada Februari bertambah dari 247 kasus menjadi 408 kasus. Meski begitu belum ditemukan kasus kematian akibat di DBD.

Daerah dengan kasus DBD terbanyak lainnya adalah Lampung Tengah dengan 212 kasus, Lampung Timur 203 kasus, dan Pringsewu 129 kasus. Sedangkan kasus di daerah lainnya masih di bawah angka 100. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *