Sel. Okt 27th, 2020

Polisi Ringkus Dua Pelaku Pencabulan

2 min read

Aksi bejat bapak ke anak tiri kembali terulang. Dua anak perempuan jadi korban. Darurat kejahatan seksual ?

PRINGSEWU – Dua anak dibawah umur di Pringsewu berinisial N (14) dan WM (15) menjadi korban pencabulan oleh ayah tiri dan pamannya.

Parahnya, dua pelaku yaitu H (41) dan Y (37) yang merupakan warga Kecamatan Pardasuka, telah melakukan aksi bejatnya lebih dari satu kali.

Awalnya H (41) melakukan perbuatan tak senonoh terhadap anak tirinya N (14). Tak cuma itu, N (14) juga ternyata mendapat perlakuan serupa dari pamannya Y (37). Aksi bejat Y (37) juga dilakukan terhadap WM (15) yang merupakan anak tirinya sendiri.

Kedua pelaku saat ini telah diamankan. Polisi meringkus keduanya dari kediaman masing-masing tanpa perlawanan.

Kapolsek Pardasuka, AKP Martono mewakili Kapolres Pringsewu, AKBP Hamid Andri Soemantri dalam keterangan resmi mengungkapkan pelaku H dan Y ditangkap berdasarkan tiga laporan berbeda.

Pertama, Laporan Polisi No.Pol LP/B/76/II/2020/LPG/RES PRINGSEWU/ SEK PARDASUKA tanggal 12 Februari 2020 dengan pelapor A, korban N, dan terlapor Y.

Kemudian, Laporan Polisi No.Pol LP/B/77/II/2020/LPG/RES PRINGSEWU/ SEK PARDASUKA tanggal 12 Februari 2020 dengan pelapor A terhadap korban N dengan terlapor H.

Selanjutnya, Laporan Polisi No. LP/B/78/II/2020/LPG/RES PRINGSEWU/ SEK PARDASUKA tanggal 12 Februari 2020 dengan pelapor HU, korban WM, dan terlapor Y.

Menurut Martono, atas dasar laporan tersebut pihaknya kemudian melakukan penangkapan terhadap kedua pelaku.

Keduanya diduga telah melakukan persetubuhan terhadap anak dibawah umur yakni N dan WM dengan status pelajar, warga Kecamatan Pardasuka.

“Dari hasil pemeriksaan, pelaku H melakukan persetubuhan terhadap N yang berstatus anak tirinya sebanyak dua kali yaitu pada bulan Mei 2019 sekira pukul 23.00 WIB di kamar korban. Kemudian yang kedua pada bulan Desember 2019 sekira pukul 24.00 WIB dirumah nenek korban,” jelas Kapolsek, Minggu (16/2).

Sedangkan pelaku Y melakukan perbuatan tak senonoh terhadap WM yang berstatus anak tirinya sudah berkali-kali sejak tahun 2011 saat korban masih kelas II SD. Terakhir kali, pelaku melakukan aksi bejatnya pada Januari 2020 pukul 22.00 WIB di rumah mereka saat kondisi sepi.

Selain itu, perbuatan bejat Y terhadap N yang masih keponakannya tersebut dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada bulan Mei dan November 2019 di rumah pelaku.

“Awal melakukan aksi persetubuhan pelaku H melakukan ancaman terhadap korban N dengan cara menodong korban pakai sebilah golok dan bilang jangan sampai memberitahu ibunya maupun orang lain. Sedangkan pelaku Y saat melakukan persetubuhan terhadap WM awalnya memberikan iming akan membelikan sepeda motor dan mengancam akan menyantet korban apabila memberitahu pada siapapun tentang perbuatannya. Kemudian terhadap korban N, pelaku Y memberikan iming-iming uang mulai dari Rp 5.000-Rp 10 ribu dan juga ditraktir dibelikan bakso,” ungkap Martono.

Kedua pelaku dijerat dengan pasal 76D jo pasal 81 ayat (1) , (3) dan pasal 76E jo pasal 82 ayat (1) UU Nomor 23 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi undang-undang dan atau tindak pidana pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan orang yang menetap dalam lingkungan rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 UU Nomor 23 tahun 2004 tentang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dan atau tindak pidana yang berkelanjutan sebagaimana dimaksud dalam pasal 64 KUHP.

“Hukumannya pidana dengan ancaman 15 tahun penjara ditambah 1/3 (sepertiga) dari ancaman hukuman tersebut,” pungkasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *