Sen. Okt 26th, 2020

Pasien BPJS Meninggal di RSUDAM

3 min read

Pelayanan buruk RSUDAM bukan kali pertama jadi sorotan. Cerita lama dengan skenario sama pun berulang. Mau sampai kapan?

BANDARLAMPUNG – Video keluarga pasien peserta BPJS yang marah setelah kehilangan salah satu anggota keluarganya di RSUD Abdoel Moeloek (RSUDAM) Bandarlampung viral di media sosial.

Dalam video amatir yang diunggah Senin (10/2), petang sekitar pukul 15.00 WIB itu, terlihat seorang perempuan yang diduga ibu pasien berteriak histeris.

“Ya Allah ya Robiii, la ilaha ilallah….Muhammadarasulullah….” kata seorang perempuan sambil menangis meraung.

Suara itu ditimpali ucapan kegeraman seorang pria yang diduga ayah pasien.

“Kami di sini dibiarin saja. Setelah itu dipindahin, dititipin di ruangan … (tidak jelas)…Setelah sekarat baru dipindahin di ruang sebenarnya. Bukan di sini sebenarnya. Ternyata di kuburaaaaaan….!” kata pria tersebut.

“Kenapa harus begitu? Saya ini (peserta) BPJS bayar. Mana BPJS tanggung jawabnya…. BJPS!!! Saya ini bayar! Ke pemda saya juga bayaaar! ” teriak pria di dalam video tersebut. Saya ini orang miskin, dapatnya nomor tiga. Kelas tiga… saya ini enggak mampuuuu…”

Video itu juga menggambarkan kemarahan dan kekecewaan pria yang diduga ayah pasien terhadap cara pelayanan dokter.

Belakangan diketahui, pria yang terlihat marah di dalam video tersebut adalah ayah pasien. Ia warga Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan. Sedangkan pasien yang meninggal adalah Muhammad Rezki Mediansor (21).

Rezki Mediansor terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD). Diduga sejak tiba di RSUDAM hingga meninggal dunia tidak mendapatkan perawatan yang maksimal. Bahkan, saat meninggal dunia pada Senin sore, tempat tidur Rezki masih berada di selasar RSUDAM, bukan di dalam ruang perawatan.

Merespon hal tersebut, Anggota Komisi V DPRD Lampung, Syarif Hidayat meminta Gubernur Lampung agar memberi teguran keras kepada RSUDAM.

Menurut Syarif Hidayat, bahwa dari informasi yang ia terima, pelayanan gawat darurat kepada Almarhum Muhammad Rezki Mediansori tidak sesuai standar pelayanan kegawat daruratan.

“Informasi yang kami terima, pasien seperti di pingpong padahal dalam kondisi kritis,” ungkap politisi PKS itu, Selasa (11/2).

Menurutnya, jika benar bahwa RSUDAM tidak memberikan pelayanan gawat darurat yang semestinya, maka RSUDAM melanggar Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 4 Tahun 2018 tentang Kewajiban Rumah Sakit. 

Pada pasal 2 ayat (1) menyatakan bahwa setiap rumah sakit mempunyai kewajiban, diantaranya adalah memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya.

Selanjutnya, menurut pasal 7 ayat (1) dijelaskan bahwa kewajiban Rumah Sakit memberikan pelayanan darurat kepada Pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya pada IGD/ Instalasi Gawat Darurat berupa triase dan tindakan penyelamatan nyawa (live saving) atau pencegahan kecacatan.

Syarif juga mengatakan bahwa berdasar aturan tersebut triase terkait dengan tindakan awal atau skrining secara cepat terhadap pasien yang dating ke IGD untuk mengidentifikasi kegawatdaruratan dan prioritas penanganan. 

“Yang jadi pertanyaan adalah, sejauh mana tindakan triase ini dilakukan oleh pihak RSUDAM terhadap pasien tersebut sehingga ikhtiar manusiawi tersebut berdampak kepada penyelamatan nyawa atau life saving,” ungkapnya.

Pihak Komisi V DPRD Lampung, kata Syarif, telah sepakat akan memanggil pihak RSUDAM dan BPJS untuk dikonfirmasi masalah itu.

“Insha Allah Kamis 13 Februari mendatang akan dilakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak-pihak terkait,” pungkasnya.

Klarifikasi

Terpisah, melalui keterangan resmi, pihak RSUDAM menyatakan sudah menangani pasien Muhammad Rezki Mediansori (21) dengan baik, sebelum meninggal dunia.

Menurut Direktur Pelayanan RSUDAM, Pad Dilangga, pasien Rezki datang ke RSUDAM Minggu 9 Februari 2020 sekitar pukul 06.36 WIB.

“Dia rujukan dari RSUD Bob Bazar Lampung Selatan (Lamsel) dengan diagnosa, DHF (Demam Berdarah), gastro enteritis akut (Diare) dan Hepatitis (Infeksi Hati),” ujarnya.

Terhadap pasien kemudian dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan kondisinya dan dikonsultasikan ke dr.Riki, Sp.PD.

Oleh dokter tersebut direncanakan terapi tranfusi darah lengkap 2 kantong, tranfusi trombosit 10 kantong, dan diobservasi secara ketat.

Kemudian, sekitar pukul 17.00 WIB hasil kunjungan dr.Riki,Sp.PD menyatakan kondisi pasien masih sakit berat, gelisah, kontak inadekuat dan terapi dilanjutkan dan dirawat di HCU IGD.

Senin 10 Februari 2020 pukul 03.00 WIB pasien alih rawat ke ruangan bougenvile terapi dilanjutkan dan tranfusi dilanjutkan sesuai intruksi dokter.

Selanjutnya dr.Riki,Sp.PD melakukan edukasi kepada keluarga pasien bahwa kondisi yang bersangkutan sangat serius dan rencana akan dipindahkan ke ruangan rawat khusus penyakit dalam menular.

Pukul 16.00 WIB pasien dipindahkan ke ruang Nuri dengan Oksigen terpasang didampingi petugas 2 orang.

Sesampai di depan ruang Nuri sudah ditunggu oleh perawat untuk tatalaksana selanjutnya, tetapi pasien mendadak kejang dan perawat segera melakukan tindakan.

“Tetapi keluarga pasien tiba- tiba marah. Memegang dan memukul petugas serta mencabut selang oksigen yang masih terpasang di tubuh pasien, sehingga mengganggu proses penanganan kegawatdaruratan pasien tersebut yang berakibat pasien tersebut tidak tertolong, dan dinyatakan meninggal dunia,” ujar Pad Dilangga.

Selanjutnya, kata dia, pasien tersebut dibawa ke rumah duka menggunakan mobil Jenazah RSUDAM.

Pad Dilangga juga menyayangkan aksi tidak terpuji dari keluarga pasien yang merusak fasilitas rumah sakit di ruangan tersebut. (Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *