Sen. Okt 26th, 2020

Ribuan Burung Hasil Sitaan Dilepasliarkan

3 min read

BANDARLAMPUNG – Sebanyak 1.182 ekor burung kicau hasil sitaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung

Balai Karantina Pertanian (BKP) dan Polres Lampung Selatan, akhirnya dilepasliarkan di Register 19 Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rahman, Bandarlampung, Minggu (15/12).

Kepala Seksi Penindakan (Kasi Wasdak) BKP Kelas I Bandarlampung, Anak Agung Oka Mantara menjelaskan ribuan ekor burung tersebut berasal dari Provinsi Jambi yang akan diselundupkan ke Jakarta pada Sabtu (14/12) lalu.

Menurutnya, hingga Desember 2019 sebanyak 25.000 ekor burung telah diamankan oleh BKP Lampung dan Polres Lamsel, BKSDA Lampung. Tambahan sebanyak 1.882 ekor burung tersebut membuat BKP Lampung berhasil mengamankan lebih dari 26.000 ekor burung yang akan diselundupkan dari Sumatra ke Jawa. Sebagian besar burung diamankan di pintu masuk pelabuhan Bakauheni, saat akan diselundupkan dengan kapal.

Sementara pelepasliaran satwa burung sengaja dilakukan di Register 19 Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rahman, Bandarlampung.

Pengamanan satwa jenis burung menjadi upaya karantina Lampung, mencegah penyebaran penyakit hewan, tumbuhan antarpulau. Selain itu, pencegahan perdagangan satwa liar dilakukan untuk mencegah kemusnahan sumber daya alam hayati asli Indonesia.

“Penangkapan satwa jenis burung dalam skala besar berimbas berkurangnya jenis jenis burung tertentu, sehingga harus dicegah, penindakan telah dilakukan berkoordinasi dengan unsur kepolisian, BKSDA, selanjutnya burung dikembalikan ke habitatnya,” ungkapnya.

Pencegahan kemusnahan sumber daya hayati, sebut Anak Agung Oka Mantara, tidak hanya jenis burung. Sejumlah satwa asal Sumatra yang diselundupkan untuk diperdagangkan di antaranya musang, siamang, beruk, kura-kura ambon, ular sanca serta berbagai jenis satwa lain. Pencegahan penyelundupan di pintu masuk pelabuhan Panjang, Bakauheni dilakukan dalam operasi rutin dan kepatuhan.

Sebanyak 1.182 ekor burung yang diamankan, menurut Anak Agung Oka Mantara diselundupkan dengan modus memakai kendaraan pribadi. Pelaku penyelundupan bernama Yonizal asal Jambi kini sedang dalam tahap penyidikan oleh BKP Lampung.

Selain burung yang diselundupkan tidak dilengkapi dokumen BKSDA, ribuan burung tidak dilengkapi dokumen karantina.

“Perlalulintasan satwa antarpulau menjadi media pembawa hama karantina, namun tidak dilaporkan di pintu keluar sehingga harus diamankan,” paparnya.

Tak cuma di Bandarlampung, pelepasliaran burung yang bekerjasama dengan BKSDA Seksi Wilayah III Bengkulu-Lampung juga dilakukan di sejumlah lokasi.

Di antaranya Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Register 3 Gunung Rajabasa dan Gunung Betung.

Bagi pelaku penyelundupan satwa, BKP Lampung akan melakukan tindakan hukum. Sesuai aturan, para pelaku dikenakan pidana merujuk pada UU No 16 Tahun 1992 Tentang Karantina Ikan, Hewan dam Tumbuhan. Selain itu berdasarkan temuan sejumlah satwa dilindungi, pelaku terancam dipidana dengan UU No 5 Tahun 1990, Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Sebagian burung liar sudah dilepasliarkan, namun burung yang langka dan dilindungi akan dirawat dan didata oleh BKSDA sebelum dilepasliarkan,” tegas Anak Agung Oka Mantara.

Sementara, Kepala Unit (Kanit) Polisi Kehutanan Unit Pelaksana Tekhnis Daerah Kesatuan Pengelola Hutan Konservasi (KPHK) Tahura Wan Abdul Rahman, Fahri, menilai kawasan Tahura Wan Abdul Rahman di sektor jembatan dua, Desa Sumber Agung, Bandarlampung sangat tepat untuk pelepasliaran burung.

“Secara topografi, Tahura didiami oleh berbagai satwa salah satunya burung, karena tegakan tinggi, sedang dan rendah cocok untuk habitat,” papar Fahri.

Fahri menyebut, Tahura Wan Abdul Rahman juga memiliki spot wisata air terjun, sungai yang mendukung keberlangsungan ekosistem hayati.

Sejumlah sungai besar, pakan alami dan satwa menjadi keanekaragaman hayati bagi upaya konservasi. Kawasan yang ditetapkan sebagai wilayah ekowisata sangat cocok karena dilakukan pengawasan rutin oleh polisi kehutanan.

Kawasan seluas 22.000 hektare Tahura Wan Abdul Rahman ada di kaki Gunung Betung. Terbentang di wilayah Bandar Lampung hingga wilayah Kabupaten Pesawaran, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menjadikan kawasan itu sebagai wilayah ekowisata.

“Sebagai kawasan konservasi berbasis masyarakat pengelolaan hutan sekaligus menjadi kawasan konservasi satwa,” pungkasnya. (Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *