Sen. Okt 26th, 2020

Efek Kejut ‘Bakauheni Harbour City’

2 min read

BANDARLAMPUNG – Menilik aura wisata ‘Bakauheni Harbour City’ dalam konsep Kawasan Terintegrasi Pariwisata di Wilayah Bakauheni, Kabupaten Lampung Selatan, ada baiknya melihat sejenak kawasan wisata Puncak Bogor.

Sejak dahulu, orang Belanda menyebut Bogor sebagai ‘buitenzorg’ atau aman tenteram. Wajar pula, bila wisatawan asal Jakarta mengistilahkan Bogor sebagai obat Penghilang Stress.

Meski pada kenyataannya, dataran tinggi beriklim sejuk yang semakin padat diburu wisatawan ini, justeru tak lagi bisa dibilang ‘bersahabat’. Macet panjang sudah menjadi ‘musuh’ Pariwisata Bogor yang notabene juga berdampak ke Pariwisata Kota Bandung.

Nah, kelahiran Harbour City atau Kota Pelabuhan bisa menjadi destinasi alternatif. Objek wisata yang terinspirasi dari Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Merak – Bakauheni – Bandarlampung, memang berbeda dengan Puncak Bogor.

Wisata Pelabuhan Buleleng, di Singaraja, Buleleng, Bali, bisa menjadi rujukannya. Tak banyak revitalisasi diupayakan pemda setempat, selain pembangunan arca, lokasi peristirahatan, serta restoran terapung. Meski begitu, objek ini ramai dikunjungi wisatawan nusantara maupun mancanegara saat libur panjang tiba.

Akan halnya Pelabuhan Kuno Kesultanan Banten Lama. Perpaduan antara alam, peninggalan sejarah, dan budaya, menjadi daya tarik esksotis yang ingin dinikmati wisatawan.

Bagaimana dengan Bakauheni Harbour City?

Tol Lampung sebagai backbone pengembangan wilayah Sumatera, khususnya ruas Merak – Bakauheni – Bandarlampung, adalah titik perhatian utama pengembangannya.

Beberapa waktu lalu, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) bersama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau Indonesia Tourism Development Coporation (ITDC), PT Hutama Karya (Persero) dan Pemprov Lampung, bersepakat mengembangkan proyek kawasan terintegrasi pariwisata ini.

Kesepakatan diejawantahkan melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU), Oktober 2019 lalu. Yakni, antara Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi, Gubernur Lampung Arinal Djunaidi, Direktur Utama Hutama Karya Bintang Perbowo dan Direktur Utama ITDC Abdulbar M. Mansoer.

Dirut PT ASDP, Ira Puspadewi menilai, Bakauheni merupakan wilayah potensial sebagai kawasan pariwisata, mengingat Lampung Selatan memiliki potensi alam yang indah, pantai yang menarik, konservasi, hingga Menara Siger.

Total kawasan terintegrasi pariwisata Bakauheni yang akan digarap, mencapai luas 173,9 hektar.  Sementara konsep Bakauheni Harbour City, terletak sebelum gerbang masuk tol Bakauheni Selatan.

Menilik ‘aura’ wisata yang dikandungnya, sangat layak bila Dirut ITDC, Abdulbar M. Mansoer menyatakan optimistis mampu mengembangkan kawasan ini seperti Nusa Dua, Bali, atau Mandalika, NTB.

Efek Kejut

Diakui atau tidak diakui, Bakauheni Harbour City bisa menjadi efek kejut bagi dunia Kepariwisataan Lampung Selatan (Lamsel), termasuk pula City Tour Bandarlampung.

Seperti halnya geliat wisata Puncak Bogor. City Tour Bandung yang berjarak ‘lumayan’ jauh, pun ikut diuntungkan. Ibukota Provinsi Jawa Barat tersebut mampu memanfaatkan kawasan puncak sebagai motor penggerak pariwisata daerah. Kota Bandung mampu menyediakan apa saja yang tidak bisa ditemukan wisatawan di Puncak Bogor.

Lantas, bagaimana dengan aura wisata Kalianda dan Bandarlampung?  Realisasi pembangunan dan pengembangan Bakauheni Harbour City adalah jawabannya.  (Gar)

Foto: Republika.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *