Sab. Nov 28th, 2020

Status dalam Balutan si Cantik Jung Sarat

2 min read

Foto: Ist

BANDARLAMPUNG – Mengulas tentang Kain Tapis Jung Sarat, tentu tidak terlepas dari sejarah panjang Lampung Pubian Telu Suku.

Dalam beberapa tulisan sejarah Lampung, menyebutkan bahwa, masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat. Yakni, Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.

Tapis Jung Sarat merupakan khazanah budaya Lampung yang hingga kini masih disakralkan, sebagai perlambang kecantikan dan keindahan. Biasanya, tapis ini digunakan oleh pengantin wanita pada upacara perkawinan adat.

Secara umum, penggunaan kain tapis ini ditujukan bagi kaum wanita yang memang sejak zaman dahulu Tapis Jung Sarat digunakan di berbagai acara adat sebagai bentuk penghormatan, disamping fungsi lain untuk menunjukkan status atau derajat sosial wanita di masyarakat.

Tapis Jung Sarat, juga biasa dikenakan oleh kelompok isteri kerabat yang lebih tua jika mereka menghadiri upacara penerimaan gelar adat Lampung. Bahkan, tapis ini juga biasa dipakai oleh para penari adat yang disebut muli cangget atau penari wanita.

Wanita-wanita Lampung yang bergelar adat cukup tinggi, sudah terbiasa memakai kain tapis ini meski bobot kain tapis ini cukup berat.

Begitu sakral dan tinggi derajat Tapis Jung Sarat, membuat pemiliknya harus merawat kain tapis ini sebaik-baiknya. Biasanya, para orangtua menyimpannya dalam satu wadah atau kotak agar tapis tetap terawat dan terjaga kecantikan dan keindahannya.

Mendunia

Melalui ajang ASC Fashion Week 2018, di Metropolitan Pavillion, Manhattan, New York, Amerika Serikat, pamor Kain Tapis Lampung kian membuncah.

Lewat kepiawaian Nasya Collyer, desainer Indonesia, Kain Tapis Lampung go international. Nasya mengusung tema ‘Tapis Berseri’ 12 gaun berbahan utama Tapis Lampung diperagakan oleh 12 model profesional di ASC Fashion Week 2018.

Hasilnya? Decak kagum lebih dari 200 tamu dari berbagai kalangan fashion yang hadir, pun menyertai rancangan karya Nasya Collyer tersebut.

Merilis pengamatan langsung Maya Nurindah dari New York, sebagaimana ditulis TravelPlus Indonesia, Nasya mengakui baru kali pertama ikut ajang fashion show di New York.

Menariknya, pengakuan Nasya yang hanya ingin memperkenalkan Kain Tapis Lampung sekaligus upaya dia menaikkan kelas Kain Tapis ke tingkat dunia.

Beberapa Kain Tapis yang dia usung, di antaranya Tapis Jung Sarat yang biasa dipakai pengantin wanita ada upacara perkawinan adat. Kemudian, Tapis Raja Medal dikenakan kelompok istri kerabat paling tua (tuho penyimbang), Tapis Laut Andak dipakai gadis penari (muli cangget), dan Tapis Bidak Cukkil biasa dikenakan para lelaki ketika menghadiri upacara adat.

“Jenis Kain Tapis Lampung itu banyak. Tapi kali ini desain saya lebih spesifik ke jenis Kain Tapis Abung yang menonjolkan benang emas,” aku Nasya.

Jika selama ini Kain Tapis Lampung hanya dikenakan sebagai atribut untuk upacara adat, namun Nasya berusaha keluar dari pakem tersebut.

“Saya membuatnya menjadi gaun-gaun yang elegan look untuk dapat dipakai pada acara ballroom atau cocktail,” ujarnya.

Melalui ajang bertaraf internasional ‘ASC Fashion Week 2018’ pamor Kain Tapis Lampung pun kian moncer. Bahkan, Creative Director Wardah Beauty, Carolina Septerita mengapresiasi penuh desainer Indonesia ini untuk go international. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *