Ming. Okt 25th, 2020

Pagi di Teluk Kiluan Bersama ‘Hidung Botol’

2 min read

Foto: IST

BANDARLAMPUNG – Anda pernah naik perahu dikawal oleh puluhan, bahkan ratusan, lumba-lumba? Pemandangan langka ini hanya bisa Anda rasakan saat mengunjungi Teluk Kiluan, di Desa Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Teluk Kiluan merupakan salah satu jalur migrasi lumba-lumba terbesar di dunia. Rombongan lumba-lumba biasanya berenang di sisi kanan dan kiri perahu yang Anda naiki.

Mereka cukup akrab dengan manusia. Kawanan lumba-lumba ini senang mendekati perahu atau kapal yang melintasi perairan tersebut. Anda pun bisa bercengkerama bersama mereka, lewat riuh suara gemerecit moncong lumba.

Hewan mamalia ini bisa dijumpai setiap hari. Utamanya pagi hari, sekitar pukul 06.00 Wib, atau menjelang mentari naik ke permukaan.

Teluk Kiluan, sejak beberapa tahun terakhir, secara resmi ditetapkan sebagai objek wisata unggulan Lampung. Khususnya Kabupaten Tanggamus. Tak hanya lumba-lumba hidung botol (Tursiops Truncatus) dan lumba-lumba Paruh Panjang (Stenella Longirostris) ada di sini.

Teluk Kiluan juga menjadi jalur perlintasan Penyu Hijau maupun Penyu Sisik. Jika beruntung, kita bisa melihat dari kejauhan riak permukaan laut yang terkibas ekor ikan paus. Situasi itu kian kontras, dengan pemandangan alam nan indah mempesona.

Untuk bisa menginjakkan kaki di Desa Kiluan Negeri, Kecamatan Kelumbayan, Kabupaten Tanggamus, memang cukup melelahkan sekaligus menyenangkan.

Desa ini berada pada 73 kilometer dari Bandara Radin Inten Lampung, atau tiga jam perjalanan menggunakan mobil. Jika dari Kota Bandarlampung, waktu tempuh bisa mencapai 4-6 jam perjalanan melalui rute Bandarlampung melewati Telukbetung, Lempasing, Markas Komando Brigif 3 Marinir, Padang Cermin, Desa Bawang Kelumbayan, dan Desa Kiluan Negeri.

Selain laut beserta khazana biota lautnya, di Balik Bukit Teluk Kiluan wisatawan bisa menikmati Laguna Gayau. Yakni, kolam renang alami yang memang dibentuk oleh cekungan garis pantai.

Sebelum mencapai laguna, wisatawan terlebih dahulu disuguhi pemandangan pantai yang boleh dibilang cukup ekstrem. Selain deretan bebatuan besar serta dinding batu karang, ombak ‘nakal’ yang menerjang bibir pantai dan bebatuan pun memberi tantangan tersendiri.

Tiba di laguna, wisatawan bisa menyaksikan langsung hamparan air membiru. Kedalamannya antara 1,5 meter hingga 3 meter, aman digunakan untuk berenang.

Tak jauh dari laguna, pengunjung yang hoby ber-snorkeling bisa memanfaatkan sisi tepian pantainya. Ada yang berpasir putih, ada pula yang berbatasan dengan tebing bebatuan. (Rls/Gar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *