Sen. Okt 26th, 2020

Alat Peringatan Dini Tsunami Pulau Sebesi Dirusak

2 min read

BANDARLAMPUNG – Inexpensive Device for Sea Level Measurement (IDSL) atau alat peringatan dini tsunami di Pulau Sebesi, Lampung Selatan, menjadi korban aksi vandalisme.

Kabel aki yang terpasang pada alat tersebut dipotong oleh orang tak bertanggung jawab. “Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau semua pihak, khususnya masyarakat, untuk turut menjaga alat peringatan dini tsunami tersebut,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB, Agus Wibowo, Sabtu (2/11) kemarin.

Permintaan ini disampaikan, lantaran beberapa waktu lalu BNPB mendapat kabar adanya aksi vandalisme terhadap alat IDSL yang terpasang di sekitar Pulau Sebesi, Lampung Selatan.

Aksi vandalisme itu, kata Agus, diketahui pada Oktober lalu. Beruntung, alat itu masih berfungsi meski dalam kondisi dirusak.

“Perusakan dilakukan pada kabel aki pada Oktober lalu. Meskipun saat itu kabel terpotong, alat masih dapat berfungsi karena menggunakan solar panel. Dapat dibayangkan apabila ada oknum yang sengaja merusak atau mengambil komponen alat ini sehingga tidak mampu lagi hidup dan memberikan sinyal peringatan dini,” ujar Agus.

Setelah diketahui dirusak, alat tersebut langsung diperbaiki dan saat ini kembali dalam kondisi normal. BNBP mengajak semua pihak ikut berpartisipasi menjaga alat peringatan dini tsunami.

“Oleh karena itu, semua pihak didorong BNPB untuk turut mengawasi dan menjaga peralatan yang sangat vital dalam peringatan dini terhadap potensi bahaya tsunami. Saat ini, peralatan tersebut telah diperbaiki dan berjalan normal kembali,” kata Agus pula.

Agus menjelaskan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Uni Eropa (JRC-EC), yang mengembangkan peralatan ini, merekomendasikan agar ada pihak yang ditunjuk untuk diberi tanggung jawab penuh menjaga IDSL yang telah terpasang. Pihak yang dimaksud ialah perangkat desa setempat.

“Ini dimaksudkan KKP untuk mengantisipasi adanya tindakan vandalisme ke depan. KKP sudah mengontak Perangkat Desa Sebesi untuk menjaga dan merawat alat tersebut,” ujarnya.

Dia menerangkan, bahwa IDSL sengaja dikembangkan untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami di Indonesia. Alat ini masih dalam kerangka penelitian.

“Terpasang di empat tempat, yaitu Marina Jambu-Banten, Pulau Sebesi – Lampung, Pangandaran dan Pelabuhan Sadeng, DIY.

Data IDSL dapat diakses secara gratis di website JRC-EC dan telah dimasukkan ke sistem BMKG sebagai salah satu alat Peringatan Dini Tsunami Non-tektonik. Selain BMKG, otoritas Australia, Bureau of Meteorology (BOM) juga telah memanfaatkan sistem IDSL Indonesia,” terang Agus.

IDSL dipilih dengan dasar pertimbangan harga yang ekonomis dan mudah diaplikasikan. Teknologi ini juga dinilai mampu untuk mengirimkan transmisi data dan kerapatan data, termasuk tangkapan kamera video secara cepat.

“Alat ini mampu mengirimkan data dengan interval data setiap 5 detik, sedangkan transmisi kurang dari 20 detik. Namun, kecepatan sinyal GSM akan berpengaruh pada kecepatan tersebut. Selain itu, pengadaan alat ini bisa memanfaatkan sistem yang sudah ada, komponen di pasaran dan biaya pulsa relatif murah, sebesar Rp60 ribu per bulan,” ungkap Agus. (Red/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *